Rumah Gudangan-mujur

Rumah Gudangan-mujur adalah salah satu jenis rumah tradisional yang ada di kalangan masyarakat Pendhalungan-Jember, Jawa Timur. Nama rumah ini sangat erat kaitannya dengan atap yang menyerupai gudangan. Dari segi bentuk, rumah gudangan-mujur sama dengan rumah gudangan-malang, yaitu berbentuk empat persegi tetapi tidak sama sisi. Bedanya, jika rumah gudangan-malang pintu depannya ada di bagian yang panjang, maka rumah gudangan-mujur pintu depannya ada di bagian yang pendek (lebar). Perbedaan lainnya adalah kamar-kamarnya ada di satu sisi (di sisi panjang bagian kiri dan atau kanan). Pada mulanya ruang tamu membentuk huruf “L”. Namun dewasa ini bentuk ruang tamu yang masih tetap dalam bentuk “L”, tetapi ada yang sudah diberi sekat, sehingga tamu tidak langsung dapat melihat bagian dalam rumah.

Jika dilihat berdasarkan tiang penyangganya, rumah yang disebut gudangan-mujur ini keseluruhan memiliki 15 sesakah yang terdiri atas 10 sesakah asli dan 5 sesakah pembantu. Sesakah asli berada di sisi kiri-kanan rumah (masing-masing 5 buah). Fungsinya adalah bangunan rumah dapat berdiri tegak. Sedangkan, sesakah pembantu berada di antara sesakah asli. Fungsinya di samping untuk memperkokoh tegaknya rumah, juga sebagai acuan untuk menyekat ruangan yang satu dengan lainnya.

Antara sesakah yang satu dengan lainnya dihubungkan oleh kayu yang posisinya horizontal, sehingga membentuk segi empat yang sisi-sisinya tidak sama. Kayu yang membujur pada sisi rumah yang panjang disebut “lembheng lanceng”. Sedangkan, kayu yang membujur pada sisi lebar rumah disebut “lempheng pandhek”. Fungsi lembheng lanceng di samping sebagai pengikat antara sesakah yang satu dan lainnya, juga sebagai landasan osok. Sedangkan, fungsi lempheng pandhek adalah sebagai alas kuda-kuda.

Kuda-kuda adalah sebuah bagian rumah yang membentuk segi tiga. Bagian yang tegak lurus disebut “andher”. Kemudian, bagian yang miring (dengan kemiringan 45 derajat) disebut “gerbil”. Jumlah gerbil dalam sebuah kuda-kuda ada dua buah, masing-masing menopang kemiringan atap. Sedangkan, alasnya disebut kuda-kuda. Jadi, kuda-kuda tidak hanya untuk menyebut bagian rumah yang membentuk segi tiga, tetapi juga alas andher dan gerbil. Pada masa lalu bahan-bahan yang digunakan, baik untuk sesakah, lembheng lanceng, lembheng pendhek, maupun kuda-kuda, terbuat dari kayu jati. Namun dewasa ini banyak yang menggunakan kayu sengon.

Atap rumah terbuat dari bahan genteng yang disusun sedemikian rupa sehingga air hujan tersalur dengan baik (tidak bocor). Penahan genteng yang vertikal disebut osok, sedangkan yang horisontal disebut reng. Pada masa lalu osok dan reng terbuat dari kayu jati. Namun, dewasa ini banyak yang menggunakan kayu sengon. Malahan, ada yang menggunakan bambu, khususnya bagi yang tidak mampu. Alasannya, bambu lebih murah ketimbang jati atau sengon. Atap, selain ada yang membujur, juga yang melintang, yaitu yang berada di bagian depan rumah. Atap yang tidak tidak berdinding ini oleh masyarakat setempat disebut “kethek”. Fungsinya di samping sebagai penahan agar air hujan tidak langsung membasahi pintu dan jendela, juga sebagai serambi dan atau ruang tamu. Sementara, dinding ada yang berupa tembok, ada yang berupa kayu, dan ada yang berupa anyaman bambu. Sedangkan, lantainya ada yang berupa tanah liat dan ada yang telah disemen (bergantung pada tingkat ekonomi pemilik rumah). Tinggi lantai dari permukaan tanah ada yang hanya 5 centimeter, tetapi ada juga yang relatif tinggi (kurang lebih 80 centimeter). Kemudian, di bagian depan rumah diberi pagar kayu (berukir) yang tingginya kurang lebih satu meter. Pagar tersebut oleh masyarakat setempat disebut tabing mantheh atau karabeh. Panjang tabing mantheh bergantung pada lebar bagian depan rumah. Jumlahnya ada 4 buah dengan rincian: sebuah ada di bagian depan-kiri rumah, sebuah ada di bagian depan-kanan rumah, dan 2 buah berada di tengah-tengah yang berfungsi sebagai pintu. Sedangkan, alas rumah ada yang berupa tanah liat dan ada yang berupa semen.

Secara keseluruhan rumah gudangan-mujur memiliki empat buah ruangan, yakni ruang: tamu, kamar tidur pemilik rumah (orang tua laki-laki/suami/ayah), kamar tidur orang tua perempuan/isteri/ibu dan anak-anak balita, baik laki-laki maupun perempuan. Jika anak perempuan sudah menginjak remaja, maka anak tersebut bisa tidur di kamar tersebut bersama ibunya atau Sang ibu tidur bersama ayahnya (suaminya). Sementara, anak laki-laki yang sudah remaja tidur di ruang tamu atau di langgar (surau). Sedangkan, ruang yang keempat berfungsi sebagai dapur beserta peralatannya. Hasil pertanian ada yang disimpan di ruang tamu bagian belakang, dan ada pula yang disimpan di dapur.

Rumah gudangan-mujur juga dilengkapi dengan ragam hias berupa ukiran dengan media kayu (papan). Walau sepintas memang berfungsi sebagai “pemanis” rumah, sehingga rumah akan terlihat indah dan menarik. Namun, jika dicermati lebih dalam, ada fungsi lain yang menyangkut gensi atau status sosial. Dalam hal ini yang banyak ragam hiasnya, baik di atas pintu, jendela, maupun di bagian depan rumah (karabeh) akan dianggap sebagai orang yang mampu (kaya). Sebaliknya, orang yang rumahnya hanya dibagian-bagian tertentu yang dihias, atau malah tidak ada ragam hiasnya sama sekali, dianggap sebagai orang yang tidak mampu. Dengan kata lain, ragam hias atribut atau simbol dari orang yang termasuk dalam lapisan yang tergolong tinggi dalam masyarakatnya.

Sumber:
Sindu Galba. 2012. Arsitektur Tradisional Masyarakat Pendhalungan Provinsi Jawa Timur. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.

Desa Sidomukti

Letak dan Keadaan Alam
Sidomukti adalah sebuah desa yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Desa yang berada di ketinggian 250 meter dari permukaan air laut ini sebelah utara berbatasan dengan Desa Sumber Kejayaan (Kecamatan Mayang), sebelah selatan bebatasan dengan Desa Seputih (Kecamatan Mayang), sebelah timur berbatasan dengan Desa Silo (Kecamatan Silo), dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Tegal Waru (Kecamatan Mayang). Kantor Desa Sidomukti berada di tengah-tengah permukiman dan terletak di pinggir jalan beraspal yang menghubungkan antara desa tersebut dengan Kecamatan Mayang.

Jalan yang menghubungkan ibukota kecamatan (Mayang) sudah beraspal, tetapi kondisinya tidak semuanya mulus. Sesungguhnya jarak antara ibukota kecamatan dengan Desa Sidomukti tidak terlalu jauh (kurang lebih hanya 7 kilometer). Namun, karena kondisinya yang tidak terlalu mulus dan berkelok-kelok, maka untuk sampai ke pusat desa (Kantor Kelurahan) relatif lama, yaitu sekitar satu jam. Tidak ada transportasi umum, khususnya yang beroda empat, yang menghubungkan antara ibukota kecamatan dengan Desa Sidomukti. Namun demikian, seseorang yang akan pergi ke kecamatan dan sebaliknya dapat menggunakan jasa ojeg dengan ongkos Rp.5.000,00, atau menggunakan kendaraan pribadi.

Di sepanjang jalan yang menghubungkan antara ibukota Kecamatan Mayang dan Desa Sidomukti banyak dijumpai persawahan, ladang/tegalan yang ditanami oleh berbagai jenis pohon buah-buahan, seperti: jeruk, alpokat, mangga, rambutan, salak, durian, pisang, dan nangka. Kemudian, hutan yang ditumbuhi oleh bagai macam pohon, seperti kelapa, kopi, dan pohon sengon. Pohon sengon yang kulitnya berwarna agak kehitam-hitaman dapat tumbuh besar (garis tengahnya bisa mencapai 80 centimeter atau lebih). Masyarakat setempat memanfaatkan pohon tersebut sebagai bahan bangunan. Selain itu, juga ada hutan yang didominasi oleh pohon sengon laut, yaitu sengon yang batang dan cabangnya berkulit agak keputih-putihan.

Luas Desa Sidomukti mencapai 733,5 hektar. Luas tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, seperti permukiman (152,6 ha), Pekarangan (2 ha), perkantoran (1,5 ha), sawah irigasi teknis (109,4 ha), sawah irigasi setengah teknis (54,3 ha), ladang/tegalan (355 ha), tanah bengkok (9,7 ha) hitang lindung (50 ha), dan sebagainya.

Data di atas menunjukkan bahwa luas tanah Desa Sidomukti sebagian besar digunakan untuk tegal/ladang (48,2%). Tanah yang digunakan untuk permukiman terlihat menempati urutan yang kedua (20,1%). Namun, sesungguhnya jika sawah irigasi teknis dan setengah teknis digabung, maka jumlahnya lebih besar ketimbang permukiman (22,3%). Sedangkan, hutan lindung menempati urutan yang keempat (6,8%).

Kependudukan
Desa Sidomukti berpenduduk 6.294 jiwa, dengan rincian laki-laki 3163 jiwa dan perempuan 3131 jiwa. Penduduk yang berumur 16—56 tahun berjumlah 2.964 jiwa (47,10%). Ini artinya penduduk yang berusia produktif hampir separuhnya. Sedangkan penduduk yang berusia 57 tahun ke atas hanya 324 jiwa (5,10%).

Jenjang pendidikan yang dicapai oleh penduduknya sebagian besar SD dan SLTP, malahan yang tidak tamat SD mencapai 1. 848 jiwa (29,36%). Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penduduk Desa Sidomukti pada umumnya berpendidikan rendah karena, baik jumlah penduduk tamat SD maupun tamat SLTP mencapai ribuan (Tamat SD 1.299 jiwa atau 20,63%, tamat SLTP 1.074 jiwa atau 17,06%). Malahan, yang tidak tamat SD mencapai 1.848 jiwa (29,36%). Sementara, yang tamat SLTA hanya 450 jiwa (…%). Sedangkan, yang tamat Perguruan Tinggi (berpendidikan tinggi) 58 jiwa (0,92%).

Mata Pencaharian
Jenis mata pencaharaian yang digeluti oleh penduduk Desa Sidomukti tidak begitu kompleks. Pada umumnya mereka bekerja di sektor pertanian (35,98%), baik sebagai petani maupun buruh tani. Petani yang dimaksud adalah orang mengusahakan tanah milik sendiri (petani pemilik). Sedangkan, yang dimaksud dengan buruh tani adalah orang yang bekerja pada petani pemilik dengan sistem upah atau lainnya (sistem bagi hasil). Sedabgkan penduduk bekerja sebagai PNS hanya 2 jiwa (0,03%). Padahal, yang telah menamatkan Perguruan Tinggi mencapai 58 jiwa (0,92%). Lalu, yang 58 orang bekerja di mana? Ternyata, mereka tersebar di sekolah swasta yang ada di Kota Jember, dan sebagain sedang mencari pekerjaan (masih menganggur).

Pola Permukiman
Daerah permukiman masyarakat Desa Sidomukti berada di tengah desa. Sedangkan, persawahan, perladangan/tegalan, dan hutan lindung berada di pinggiran desa. Pola permukimannya mengelompok dan memanjang menyelusuri jalan desa. Perumahan yang berada di tepi jalan menghadap ke arah yang berlawan dengan jalan. Kebetulan jalan membentang dari arah barat-timur. Oleh karena itu, perumahan yang ada di jalan tersebut menghadap utara-selatan. Arah rumah yang menghadap utara dan atau selatan, bagi masyarakat Desa Sidomukti, tampaknya tidak hanya berdasarkan pertimbangan cuaca (keteduhan), tetapi juga kepercayaan (akan diuraikan dalam bab selanjutnya). Sehubungan dengan itu, pada umumnya rumah yang ada di Desa Sidomukti menghadap utara dan atau selatan. Jenis bangunannya hanya ada dua, yakni gudangan dan pacenan. Kedua jenis rumah tersebut ada yang berdinding tembok dan kayu, ada yang berdinding kayu dan atau anyaman bambu. Dinding yang berupa tembok berada di bagian samping rumah. Kemudian, dinding yang berupa kayu berada di bagian depan rumah. Sedangkan, dinding yang berupa anyaman bambu berada di bagian samping dan belakang rumah.

Sosial Budaya
Sebagaimana telah disinggung pada bagian depan bahwa Sidomukti adalah sebuah desa yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember. Secara geografis, Raharjo (2006) membagi Jember ke dalam tiga wilayah, yaitu: Jember bagian selatan (Jember Selatan), Jember bagian utara (Jember Utara) dan Jember bagian tengah (Jember Tengah). Dikatakan bahwa masyarakat etnis Jawa yang menempati wilayah selatan Jember (seperti Ambulu, Wuluhan, Balung, Puger, Gumukmas, Kencong, Jombang, Umbulsari, dan Semboro) sampai saat ini masih mempraktekkan produk budaya Jawa baik dalam hal bahasa, kesenian, maupun adat-istiadat lainnya. Masyarakat Jawa di Ambulu dan Wuluhan, misalnya, sampai saat ini masih melestarikan kesenian Beog yang berasal dari nenek moyangnya di Ponorogo. Di samping itu, hampir semua masyarakat di selatan juga menggemari Wayang Kulit, Jaranan, dan Campursari. Sedangkan, untuk urusan pendidikan mereka tetap berorientasi pada pendidikan formal, meskipun di sana juga terdapat pondok pesantren. Sementara, di wilayah utara masyarakat tetap bertahan pada orientasi budaya Madura. Bahasa Madura merupakan bahasa sehari-hari masyarakat di Kecamatan Arjasa, Jelbug, Sukowono, Kalisat, Sumberjambe, Ledokombo, Mayang, dan sebagian Pakusari. Di samping ludruk ala Madura, masyarakat di sana gemar melihat pertunjukan Hadrah sebagai kesenian pesantren yang menjadi orientasi pendidikan etnis Madura. Pengajian juga menjadi acara favorit karena di samping mendapatkan wejangan-wejangan tentang Islam, juga bisa bertemu dengan para Lorah (sebutan untuk kyai) ataupun Gus (anak kyai) yang dianggap bisa mendatangkan berkah bagi kehidupan warga. Sedangkan, di wilayah tengah—kota dan pinggiran kota—di samping berdagang, etnis Tionghoa—sebagai berkah reformasi politik nasional—juga mulai mengembangkan kesenian Barongsai dan Liang liong sebagai kesenian khas mereka. Pada peringatan Imlek, kesenian ini dipertontonkan menyusuri jalan-jalan protokol kota Jember. Meskipun generasi mudanya sudah banyak yang menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa dengan aksen Tionghoa, Bahasa Mandarin sudah mulai diperkenalkan lagi. Dalam hal pendidikan sebagian besar warga etnis Tionghoa tetap menyekolahkan anak¬anaknya ke sekolah-sekolah yang dikelola gereja, seperti SD, SMP, dan SMA Santo Yusuf, SMA Setya Cadika, dan lain-lain. Sementara etnis Arab tetap kukuh mempertahankan identitasnya dengan tetap melestarikan pernikahan sesama etnis. Mereka juga masih mempertahankan musik gambus sebagai pemenuh kebutuhan estetiknya.

Mengacu pada pembagian tersebut, Desa Sidomukti, Kecamatan Mayang berarti termasuk wilayah Jember Utara. Kemudian, mengacu pada kawasan tapal kuda, berarti masyarakat Desa Sidomukti termasuk dalam kategori masyarakat Pendhalungan.

Profil Desa Sidomukti Tahun 2010 tidak menyebutkan komposisi penduduk berdasarkan etnik. Namun demikian, nuansa etik Madura sangat terasa. Hal itu paling tidak tercermin dalam bahasa sehari-hari yang digunakan, yaitu bahasa Madura dengan dialek Jember. Selain itu, juga kegemaran terhadap kesenian Madura (ludruk-ala Madura), dan kegiatan-kegiatan lainnya yang ada kaitannya dengan agama Islam (kesenian hadrah dan pengajian). Pengajian menjadi acara yang favorit karena di samping mendapatkan wejangan-wejangan tentang Islam, juga bisa bertemu dengan para Lorah (sebutan untuk kyai) ataupun Gus (anak kyai) yang dianggap bisa mendatangkan berkah bagi kehidupan warga. Pesis seperti apa yang dikemukakan oleh Raharjo (2006), yaitu bahwa di wilayah Jember-utara, masyarakat tetap bertahan pada orientasi budaya Madura.

Kebiasaan kontak dengan budaya lain, khususnya Jawa, pada gilirannya membuat masyarakat Sidomukti terbuka, akomodatif, dan toleran (menghargai perbedaan). Karakter masyarakatnya yang demikian itulah yang kemudian menumbuhkan “budaya baru” yang disebut hibrid. Oleh karena itu, tidak mengkerankan jika Sutarto (2006) mengatakan bahwa orang Pendhalungan dalam perilaku sehari-hari sangat akomodatif dan menghargai perbedaan, sehingga dapat dikatakan hampir tidak pernah (kalau tidak dapat dikatakan sama sekali tidak pernah) terjadi konflik antarkelompok etnik. Jika terjadi konflik, akar konflik lazimnya berupa kecemburuan sosial yang bernuansa pribumi dan nonpribumi, atau bernuansa keagamaan. Orang pandalungan juga dikenal tidak suka basa-basi.Jika merasa tidak senang, mereka akan segera mengungkapkannya. Sebaliknya, jika merasa senang, mereka pun akan segera mengatakannya. Seperti halnya masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah kebudayaan Arek, orang pandalungan juga suka mengucapkan kata-kata makian, baik untuk mengungkapkan kejengkelan atau kemarahan maupun untuk mengiringi ucapan selamat atau ekspresi kegembiraan.

Ke-hibrida-an masyarakat dan budaya masyarakat Sidomukti yang Pendhalungan itu tidak hanya tercermin dari bahasa dan kesenian, tetapi juga unsur-unsur budaya lainnya. Salah di antaranya adalah arsitektur yang ditumbuh-kembangkannya, khususnya arsitektur yang berkenaan dengan tempat tinggal. Dalam hal ini masyarakat Pendhalungan-Sidomukti hanya mengenal rumah jenis pacenan dan gudangan. Padahal, di daerah nenek-moyangnya (Madura-Pulau) ada sebuah rumah lagi yang disebut pegon.

Sumber:
Sindu Galba. 2012. Arsitektur Tradisional Masyarakat Pendhalungan Provinsi Jawa Timur. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.

Rumah Gudangan-malang

Bentuk Bangunan Rumah Gudangan-malang
Gudangan-malang adalah salah satu jenis rumah tradisional yang ada di kalangan masyarakat Pendhalungan-Jember, Jawa Timur. Penamaan rumah empat persegi panjang ini berkaitan dengan bentuk atap yang menyerupai gudangan dan pintu utama (bagian depan) yang berada di sisi bagian yang panjang. Rumah yang keberadaan pintu depannya demikian (ada di bagian sisi yang panjang) oleh masyarakat setempat disebut sebagai “malang”.

Struktur Bangunan Rumah Gudangan-malang
Rumah gudangan-malang ditopang oleh 18 sesakhah (tiang penyangga). Ke-18 sesakhah itu terdiri atas sesakhah utama sejumlah 8 buah dan sesakhah pembantu sejumlah 10 buah. Masyarakat setempat menyebut sesakhah utama sebagai sesakhah asli. Sesakhah ini berada di kedua sisi-panjang rumah, baik samping kiri maupun samping kanan rumah (masing-masing berjumlah 4 buah). Jarak antar-sesakhah bergantung panjang sisi rumah. Jika ukuran rumah 6x15 meter, maka antara sesakhah nomor 1 dan 2 berjarak 6 meter; sesakhah nomor 2 dan 3 berjarak 3 meter, sesakhah nomor 3 dan 4 berjarak 9 meter, sesakhah nomor 4 dan 5 berjarak 3 meter, sesakhah nomor 5 dan 6 berjarak 6 meter, sesakhah nomor 6 dan 7 berjarak 3 meter, dan sesakhah nomor 7 dan 8 berjarak 9 meter. Ke-8 sesakhah asli tersebut berfungsi sebagai penyangga agar rumah dapat berdiri dengan tegak. Sedangkan, 10 buah sesakhah pembantu yang berada di bagian sisi-sisi panjang rumah ada 6 buah (masing-masing 3 buah), di bagian sisi-sisi lebar rumah 2 buah (masing-masing sebuah), dan di bagian tengah rumah (dalam) ada 2 buah. Fungsi ke-10 sesakhah pembantu tersebut tidak hanya sebagai penguat agar bangunan rumah kokoh, tetapi juga sekaligus sebagai acuan atau penyekat antarruangan (kamar). Antara ujung atas sesakhah yang satu dan lainnya, khususnya sesakhah asli, dihubungkan dengan kayu yang besarnya sama, sehingga membentuk empat persegi panjang yang tidak sama sisi. Kayu yang membentang pada sisi yang panjang disebut “lambheng lanceng”. Sedangkan, kayu yang membentang pada sisi yang pendek disebut “lambheng pandhek”. Fungsi lambheng lancing di samping sebagai pengokoh berdiri tegaknya sesakhah, juga sebagai alas osok. Sedangkan, fungsi lambheng pandhek di samping sebagai pengokoh sesakhah, juga sebagai alas kuda-kuda.

Pada masa lalu sesakhah, baik yang asli maupun pembantu, terbuat dari kayu jati. Namun, dewasa ini sebagian masyarakat menggunakan kayu sengon dengan alasan harganya lebih (ekonomis). Kayu sengon selain digunakan untuk sesakha juga digunakan untuk osok dan reng, terutama bagi orang-orang yang mampu. Sementara, orang-orang yang tidak mampu cukup hanya menggunakan bambu.

Jika dilihat dari samping, atap rumah gudangan-malang berbentuk segi tiga.Ujung-ujung atap bagian atas bertemu di satu garis yang berlawanan arah. Titik pertemuan antara ujung atap yang satu dengan lainnya disebut bubung. Atap yang membentuk segi tiga (jika dilihat dari samping) itu pada salah satu titiknya ditopang oleh tiang penyangga yang disebut “andher” yang besarnya sama dengan tiang penyangga (sesakhah) lainnya. Ada empat andher yang menopangnya; dua ada di bagian samping kiri dan kanan rumah, sedangkan dua lagi ada di bagian dalam rumah. Masing-masing andher diberi kedudukan yang disebut kuda-kuda. Agar kedudukan andher semakin kokoh, di kanan-kirinya diberi penguat (tiang-tiang) yang posisinya membentuk kemiringan 45 derajat. Tiang-tiang tersebut oleh masyarakat setempat disebut “gerbil”.Jadi, ujung-ujung tiang tersebut yang satu berada di kuda-kuda dan ujung-ujung lainnya menyangga (memikul) kedudukan atap yang posisinya miring. Dengan demikian, kedudukan atap semakin kokoh. Atap berupa genteng yang disusun sedemikian rupa sehingga tidak bocor terkena air hujan turun.

Sementara, dinding-dindingnya terbuat dari anyaman bambu, baik yang berada di bagian depan, samping maupun belakang. Pada setiap dinding ada penahannya, yaitu kayu yang posisinya sejajar lantai dengan ketinggian kurang lebih satu meter. Kayu tersebut dihubungkan dari satu sesakhah ke sesakhah lainnya, sehingga membentuk 4 pesegi panjang yang tidak sama sisi (sesuai dengan bentuk rumah). Kayu yang berfungsi sebagai penahan dinding ini oleh masyarakat setempat disebut “senthing”. Sedangkan, daun pintu dan jendela terbuat dari papan (kayu sengon). Jumlah pintu ada 7 buah dengan posisi di bagian depan rumah ada 2 buah, di bagian belakang rumah sebuah, dan di dalam rumah (pintu-pintu kamar) ada 4 buah. Sedangkan, jendela ada 4 buah (di bagian depan rumah ada 2 buah dan samping kanan-kiri rumah masing-masing sebuah).

Lantai rumah berupa tanah liat dengan ketinggian kurang lebih 20 centimeter dari permukaan tanah. Sesakhah tidak langsung mengenai lantai, tetapi didasari oleh batu sungai yang berukuran 20-25 centimeter. Batu sungai tersebut di samping agar tidak amblas, juga tidak rapuh karena termakan oleh serangga (rayap). Batu tersebut oleh masyarakat setempat disebut “senthik”.

Tata Ruang Rumah Gudangan-malang
Rumah gudangan-malang terdiri atas 5 ruangan dengan rincian: 2 ruangan ada di sebelah kiri, 2 ruangan ada di sebelah kanan, dan 1 ruangan di bagian tengah. Ruangan sisi kiri yang ada di bagian depan digunakan sebagai tempat tidur pemilik rumah (kamar tidur). Sedangkan, ruangan sisi kiri yang ada di belakang kamar tidur pemilik rumah digunakan untuk tidur anak. Dalam hal ini adalah anak perempuan yang umurnya di atas balita atau yang sudah remaja. Sementara, anak lelaki yang sudah remaja biasanya tidur di surau atau di ruang tamu.

Selanjutnya, ruangan yang ada di sisi kanan bagian depan digunakan untuk tamu perempuan. Jadi, tamu perempuan mempunyai ruang tersendiri. Namun demikian, jika di ruang tengah tidak ada laki-laki (tamu laki-laki), maka tamu perempuan dapat berada di ruang tersebut. Sedangkan, ruangan yang ada di sisi kanan bagian belakang, digunakan sebagai dapur beserta kelengkapannya.

Ruangan tengah yang besarnya dua kali lipat dari ruangan-ruangan di bagian kiri maupun kanan, digunakan sebagai ruang tamu laki-laki. Jika tamu perempuan jumlahnya banyak, sementara ruang tamu perempuan tidak muat, maka ruang tamu laki-laki dapat digunakan. Ruang tamu ini juga digunakan sebagai tidur anak laki-laki yang sudah remaja. Selain itu, digunakan untuk menyimpan hasil panen. “Jika mempunyai sawah, ruang tengah atau ruang tamu disekat lagi untuk menyimpan hasilnya”, tutur si pemilik rumah.

Kamar tidur orang tua (pemilik rumah) berdampingan dengan kamar tidur anak. Dalam hal ini kamar tidur orang tua ada di bagian depan, sedangkan kamar tidur anak (balita dan remaja) ada di belakangnya. Sementara, ruang tamu khusus perempuan dan dapur ada di seberang ruang tamu laki-laki. Tata ruang yang demikian memudahkan bagi pemilik rumah untuk menjaga anak yang masih balita dan anak perempuan yang sudah mulai menginjak remaja.

Ruang tamu perempuan berdampingan dengan dapur. Dalam hal ini ruang tamu perempuan ada di bagian depan, sedangkan dapur ada di belakangnya. Di antara kedua ruang tersebut ada sebuah pintu yang menghubungkannya. Tata ruang yang demikian memudahkan bagi Sang Ibu (orang tua perempuan) dan atau anak gadisnya menerima tamunya. Sebab, ada pintu yang menghubungkan antara dapur dan ruang tamu perempuan. Jadi, tidak harus melalui pintu depan (pintu utama), tetapi melalui pintu dapur, kemudian pintu yang menghubungkan antara dapur dan ruang tamu perempuan.

Ruang tamu laki-laki (utama) berada di tengah-tengah (di antara kamar pemilik rumah, kamar anak-anak, ruang tamu perempuan, dan dapur). Sesaui dengan namanya, ruang ini diperuntukkan bagi tamu laki-laki. Namun demikian, jika tamu perempuan banyak, sementara ruang tamu perempuan terbatas, maka tamu perempuan bisa menempati ruang tamu laki-laki. Tamu bagi masyarakat Pendhalungan adalah orang yang harus dihormati. Oleh karena itu, di ruang tamu, baik untuk laki-laki maupun perempuan, diisi dengan meja-kursi dan sebagainya, sesuai dengan kemampuannya.

Sumber:
Galba, Sindu. 2012. Arsitektur Tradisional Masyarakat Pendhalungan Provinsi Jawa Timur. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.

Masjid Raya Sultan Riau

Masjid Raya Sultan Riau atau Masjid Putih Telur berada di Pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau. Keberadaan masjid ini tidak lepas dari sejarah Pulau Penyengat yang luasnya hanya sekitar 240 hektar. Menurut Evawarni (2000), nama Penyengat baru dicatat dalam sejarah ketika terjadi perang perebutan kekuasaan antara Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah dengan iparnya Raja Kecil pada tahun 1719. Raja Kecil menjadikan Penyengat sebagai benteng pertahanan untuk menangkis serangan yang datang dari Hulu Riau.

Pulau Penyengat mulai ditempati sebagai perkampungan setelah Sultan Mahmud Syah III menghadiahkannya sebagai mas kawin pada Raja Hamidah binti Raja Haji (Engku Puteri) tahun 1803. Setelah menjadi kediaman Raja Hamidah dan sadara-saudaranya, Penyengat diubah sebagai sebuah negeri kedudukan Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau yang pangkatnya setara dengan perdana menteri (Sultan berkedudukan di Daik Lingga).

Keberadaan Masjid Sultan Riau yang dibangun sekitar tahun 1761-1812 atau pada masa awal dihuninya pulau ini hanyalah berupa bangunan kayu sederhana berlantai batu bata yang dilengkapi dengan sebuah menara setinggi sekitar enam meter (id.wikipedia.org). Perbaikan atau renovasi masjid baru dilakukan ketika Sultan Abdurrahman Muazzam Syah atau Yang Dipertuan Muda Raja Abdurrahman memindahkan pusat pemerintahan dari Lingga ke Penyengat (Sultan berkedudukan di Pulau Penyengat).

Perpindaham pusat pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga menjadikan Penyengat semakin ramai. Jumlah penduduk bertambah dan masjid tidak lagi mampu menampung orang-orang yang akan sholat berjamaah. Oleh sebab itu, Sultan Abdurrahman berinisiatif memperbaiki dan memperbesar masjid (Stone, 2017). Bertepatan dengan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1248 Hijriah (1823 M) Sultan berseru pada wakyatnya untuk bergotong-royong memperbaiki masjid.

Seruan Sultan diindahkan oleh rakyatnya. Mereka (laki-laki dan perempuan) berbondong-bondong datang mengantarkan bahan bangunan, makanan, maupun tenaga agar renovasi masjid berjalan lancar. Bahkan konon, karena terlalu banyak bahan makanan yang disumbangkan, khususnya telur, sehingga tidak termanfaatkan dengan baik. Para pekerja hanya memakan bagian kuning telurnya saja sebagai lauk (Stone, 2017). Agar tidak mubazir, putih telur dimanfaatkan sebagai bahan baku oleh arsitek masjid keturunan India yang didatangkan dari Tumasik (Singapura). Bersama dengan pasir, tanah liat, dan kapur, putih telur diaduk dan dijadikan sebagai perekat. Hasilnya, bangunan masjid menjadi semakin kuat dan kokoh (Rosikhin, 2016).

Sampai saat ini Masjid Raya Sultan Riau masih digunakan oleh warga setempat untuk melaksanakan kegiatan keagamaan. Bila datang waktu sholat, akan terlihat puluhan warga menunaikan ibadah. Di luar waktu sholat banyak warga yang menggunakan masjid untuk berinteraksi, belajar Al Quran, mengadakan kenduri jamak sebelum bulan Ramadhan, dan lain sebagainya.

Kompleks Masjid Raya Sultan Riau
Kompleks Masjid Raya Sultan Riau dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu halaman, bangunan utama, dan bangunan tambahan. Area komplek masjid ini seluas 54,4x32,2 meter dikelilingi dinding tembok terbuat dari batu bata berwarna kuning (Stone, 2017). oleh karena letaknya agak tinggi dari areal di luar komplek, untuk memasuki gerbang utama masjid di sisi timur harus menaiki anak tangga berwarna hijau sejumlah belasan buah.

Setelah melewati pintu gerbang ada halaman yang sebagian dikeramik dan sisanya dibiarkan tetap berupa tanah berumput. Pada bagian yang dikeramik terdapat dua buah balai tidak berdinding yang oleh Adiputra (2016) dan wisatago.com disebutkan berfungsi sebagai tempat istirahat sambil menunggu waktu sholat, berkesenian, dan berbuka puasa saat bulan Ramadhan.

Di belakang balai ada bangunan yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai sotoh. Bangunan tersebut berfungsi antara lain sebagai: tempat penyimpanan peralatan dan perlengkapan upacara yang berkaitan dengan hari-hari besar Islam (ksmtour.com); peristirahatan musafir serta penyelenggaraan musyawarah (wisatago.com); dan tempat menimba ilmu agama. Wikipedia.org mencatat, setidaknya ada empat ulama besar yang pernah mengajar di masjid ini, yaitu: Syekh Ahmad Jabrati, Syekh Ismail, Syekh Arsyad Banjar, dan Haji Shahabuddin.

Beranjak dari balai dan gedung sotoh ada bangunan utama (masjid) berdenah segi empat dengan pintu masuk utama berada di sisi timur yang bagian depannya diatapi kubah dan berpliaster. Di dekat pintu masuk utama terdapat lemari kaca berisi mushaf Al Quran tulisan tangan Abdurrahman Stambul, putera Penyengat yang diutus Sultan belajar di Turki pada tahun 1867 M (wikipedia.org). Menurut Movanita (2017), ada sebuah kitab tulis tangan lebih tua lagi (dibuat tahun 1752 M tanpa nama penulis) yang disimpan bersama sekitar 300 buah kitab lain dalam dua lemari di sayap kanan masjid. Kitab-kitab tersebut merupakan warisan Kerajaan Riau-Lingga saat terjadi eksodus besar-besaran ke Singapura dan Johor pada awal abad ke-20 akibat perang melawan Belanda (wisatago.com).

Melewati lemari kaca terdapat ruang utama berukuran 29,3x19,5 meter berlantai batu bata. Dindingnya berketebalan sekitar 50 centimeter dengan enam buah jendela. Ruang utama ini memiliki empat buah soko guru terbuat dari beton guna menopang atap kubah berbentuk bawang. Jumlah seluruh kubah ada 13 buah, terdiri atas: empat mengarah kiblat, tiga kubah melintang dan satu kubah di pintu masuk. Selain itu, di tiap pejuru terdapat menara berdinding kuning dan beratap hijau setinggi 18,9 meter (wisatago.com). Apabila kubah dan menara digabungkan, ksmtour.com berpendapat bahwa akan sama jumlahnya dengan rakaat shalat lima waktu.

Sebagai catatan, selain mushaf Al Quran di ruang utama juga terdapat mimbar terbuat dari kayu jati yang didatangkan khusus dari Jepara. Wikipedia.org menyatakan bahwa mimbar tersebut sebenarnya dipesan sejumlah dua buah, berukuran besar dan becil. Mimbar berukuran besar ditempatkan di Masjid Sultan Riau, sedangkan yang lebih kecil berada di Daik Lingga. Di dekat mimbar terdapat sepiring pasir yang konon dibawa oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua sepulang dari berhaji pada tahun 1820 M (Adiputra, 2016).

Bagaimana? Anda berminat mengunjungi Masjid Raya Sultan Riau yang saat ini telah ditetapkan pemerintah sebagai benda cagar budaya? Apabila berminat, untuk mencapainya Anda harus menaiki perahu motor yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai pompong dari dermaga Sri Bintan Pura, Tanjungpinang. Sarana ini merupakan satu-satunya alternatif bagi masyarakat keluar-masuk Penyengat. Pompong tersedia baik di pelabuhan Sri Bintan Pura maupun di pelabuhan Penyengat yang melayani penumpang dari pagi sekitar pukul 06.00 WIB sampai dengan malam sekitar pukul 21.00 WIB.

Apabila belum puas hanya mengunjungi Masjid Raya Sultan Riau, di Penyengat masih ada 16 situs cagar budaya lain, di antaranya: Makam rraja-raja Melayu beserta keluarganya (makam Engku Puteri sebagai pemilik Pulau Penyengat, Makam Raja Jakfar, Makam Raja Haji Fisabilillah), Kedaton, dan Benteng Pertahanan. Adapun cara mengunjungi situs-situs cagar budaya tersebut selain dengan berjalan kaki, dapat juga menggunakan becak motor sambil mengitari kampung-kampung yang ada di Pulau Penyengat (Kampung Datuk, Kampung Bulang, Kampung Ladi, Kampung Balik Kota, dan Kampung Baru). (Ali Gufron)

Foto: https://travel.kompas.com/read/2013/07/21/2053532/Pulau.Penyengat.Menjadi.Hutan.Konversi
Sumber:
Evawarni, 2000, Naskah Kuno: Sumber Ilmu Yang Terabaikan (Telaah Terhadap Beberapa Naskah Kuno), Penelitian, Departemen Pendidikan Nasional Direktoran Jenderal Kebudayaan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang.

"Masjid Raya Sultan Riau", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Raya_Sultan_ Riau, tanggal 30 Desember 2017.

"Megahnya Arsitektur Masjid Raya Sultan Riau yang Dibangun dengan Putih Telur", diakses dari https://www.wisatago.com/mesjid-raya-sultan-riau/, tanggal 25 Desember 2017.

Stone, Riyad. 2017. "Masjid Raya Sultan Riau, Masjid Peninggalan Kerajaan Riau-Lingga", diakses dari https://www.tempat.co.id/wisata/Masjid-Raya-Sultan-Riau, tanggal 25 Desember 2017.

Rosikhin. 2016. "Sejarah Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat", diakses dari http://khinrosi06.blogspot.co.id/2016/08/masjid-ini-mulai-dibangun-sekitar-tahun.html, tanggal 26 Desember 2017.

Movanita, Ambaranie Nadia Kemala. 2017. "Masjid di Pulau Penyengat, Kono Dibangun dengan Bahan Putih Telur", diakses dari http://travel.kompas.com/read/2017/05/18/ 060800327/masjid.di.pulau.penyengat.konon.dibangun.dengan.bahan.putih.telur, tanggal 27 Desember 2017.

Adiputra, Maryo Sanjaya. 2016. "Masjid Penyengat, Mesjid Sultan Riau - Mesjid Pulau Para Raja", diakses dari http://www.riaumagz.com/2016/10/masjid-penyengat-mesjid-sultan-riau.html, tanggal 27 Desember 2017.

"Masjid Raya Sultan Riau yang Unik di Pulau Penyengat Kepulauan Riau", diakses dari https://ksmtour.com/informasi/tempat-wisata/kepulauan-riau/masjid-raya-sultan-riau-yang-unik-pulau-penyengat-kepulauan-riau.html, tanggal 27 Desember 2017.

Mie Lendir

Selain nasi, mie adalah makanan yang populer di kawasan Asia. Makanan berbentuk bulat atau pipih panjang ini konon telah ada sejak 4.000 tahun lalu (mesinmie.biz). Namun dari mana asalnya, hingga saat ini masih simpang siur. Menurut sejarahdk.com, penentuan waktu 4.000 tahun tersebut berasal dari Gary Crawford, arkeolog University of Toronto yang pada tahun 2005 menemukan fosil mie kuning dalam endapan lumpur di daerah Lajia, Tiongkok. Fosil mie tadi berbahan millet-broomcorn dan jawawut yang dibuat secara manual dalam bentuk lembaran-lembaran tipis-panjang.

Bentuk mie baru berubah setelah ditemukan alat mekanik pembuat mie pada tahun 700-an Masehi. Dan, baru diproduksi secara masal setelah T. Masuki berhasil membuat mesin mie tahun 1854. Adapun jenisnya (berdasarkan tingkat kematangan) menurut mesinmie.biz dapat dibagi menjadi: mie kering, mie basah dan mie instan. Mie basah adalah mie yang memiliki kandungan air sekitar 52% sehingga hanya dapat bertahan selama satu hari. Mie instan berkandungan air hanya sekitar 8% sehingga tidak memerlukan waktu lama dalam proses pengeringannya. Sedangkan mie kering Mie kering atau biasa disebut mie telur karena berbahan dasar terigu dan telur memiliki kandungan air hanya sekitar 13%, umumnya digunakan sebagai bahan baku mie rebus atau mie goreng. Ketiga jenis mie tadi memiliki kandungan gizi relatif sama, yaitu per 100 gram terdapat 338 kalori, 7.6 gram protein, 11,8 gram lemak, 50 gram karbohidrat, 1,7 mg mineral, dan 49 mg kalsium (www.superindo.co.id).

Berkenaan dengan mie jenis terakhir, di Provinsi Kepulauan Riau ada sebuah makanan berbahan mie telur yang oleh orang Melayu disebut sebagai mie lendir. Sesuai dengan namanya, mie ini dilengkapi dengan kuah kental menyerupai lendir berasal dari campuran air, bawang merah, bawang putih, jahe halus, kunyit, cabe giling, udang giling, jintan, kacang tanah goreng, daun salam dan tepung kanji atau maizena. Bahab-bahan lain berupa 250 gram tauge, 250 gram kentang rebus, 2 buah mentimun, 5 butir telur rebus, bawang goreng dan seledri (Qomariah, 2017).

Langkah membuatnya diawali dengan menumis bawang putih, cabe giling, bawang putih, kunyit, dan jintan. Kemudian, dalam tumisan masukkan kacang goreng yang telah dihaluskan. Setelah tercampur merata, tuangkan air dan biarkan matang (mendidih) lalu masukkan gula jawa (gula merah), garam, perasa dan tepung kanji atau maizena. Aduk merata hingga membentuk cairan kental menyerupai lendir. Terakhir, sebelum disajikan, tuang kuah lendir tersebut dalam piring yang berisi mie, tauge rebus, telur rebus, potongan kentang rebus, irisan mentimun, dan irisan cabe rawit.

Di Kota Tanjungpinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau, salah satu penjual mie lendir yang cukup laris berada di sebuah ruko (rumah toko) di Jalan Bintan, tidak begitu jauh dari Masjid Agung Al Hikmah. Jumlah meja makannya yang cukup banyak membuat suasana menikmati mie lendir terasa lebih "privat" dan "berbeda", khususnya pada bagian dalam ruko. Saya sempat mempunyai pengalaman "indah" ketika ingin merasakan sensasi "privat" dan "berbeda" tersebut. Sekitar dua puluh tahun lalu (tahun 1998), bersama beberapa teman "iseng" menuju tempat itu di sela-sela jam pelajaran sekolah. Tujuan sejatinya adalah menikmati beberapa batang rokok di tempat "privat". Bagian dalam warung mie lendir kami rasa cocok dijadikan sebagai lokasi "tersembunyi" sambil mencicipi hangatnya mie lendir serta dinginnya teh obeng (es teh).

Namun, baru beberapa belas menit di sana, tiba-tiba datang salah seorang guru dan langsung duduk bersama kami (kok bisa tahu yah? Ngikutin gitu? ^_^). Anehnya, beliau tetap membiarkan sebagian dari kami menyelesaikan "tugas" menyatap mie lendir dan sebagian lagi menghabiskan rokok yang sedang dihisap. Setelah selesai, barulah kami digelandang ke sekolah (SMA Negeri 1 Tanjungpinang) untuk menemui guru Bimbingan Penyuluhan (sekarang Bimbingan Konseling) yang bertugas dan bertanggungjawab memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan. Walhasil, kami pun mendapat bimbingan karena tidak berada di tempat ketika jam pelajaran berlangsung, tidak mengindahkan larangan merokok bagi pelajar, dan beberapa hal lain yang tidaklah elok bila disebutkan satu per satu ^_^. (Ali Gufron)

Foto: https://www.temberang.co.id/travel/mie-lendir-kuliner-enak-nan-unik-di-kepulauan-riau.html
Sumber:
"Sejarah Mie dan Asal Usulnya", diakses dari http://mesinmie.biz/sejarah-mie-dan-asal-usulnya/, tanggal 22 Maret 2018.

"Jenis-jenis Mie", diakses dari https://www.superindo.co.id/artikel/info-sehat/jenis-jenis-mie/3, tanggal 22 Maret 2018.

"Sejarah dan Asal Usul Mie", diakses dari http://www.sejarahdk.com/2016/04/sejarah-dan-asal-usul-mie.html, tanggal 23 Maret 2018.

Qomariah, Nurul. 2017. "Lezatnya Mie Lendir Tanjung Pinang, Begini Cara Membuatnya", diakses dari http://pekanbaru.tribunnews.com/2017/10/23/lezatnya-mie-lendir-tanjung-pinang-begini-cara-membuatnya, tanggal 25 Maret 2018.

Lakma Dewi

Lakma Dewi merupakan satu dari segelintir seniman tradisi yang masih eksis di Kabupaten Pesisir Barat. Perempuan yang mahir dalam memainkan berbagai macam kesenian tradisional ini lahir di Krui pada hari Jumat tanggal 6 Juli 1965. Dia adalah anak ke-sebelas (tiga belas bersaudara) dari pasangan Bahsan dan Rabiah binti Basro. Saudara-saudara kandung Lakma yang terdiri dari 10 orang laki-laki dan 2 orang perempuan saat ini sudah tidak utuh lagi (setengah di antaranya telah meninggal dunia). Sementara sisanya ada yang berdomisili di Pesisir Barat, Lampung Barat, Bandarlampung, dan DKI Jakarta.

Konon semenjak kecil (Lakma sendiri sudah tidak dapat mengingat kapan tepatnya), telah menunjukkan bakat seni dengan pandai bernyanyi dan membawakan tari sempaya, cerai kasih, serta payung. Adapun belajarnya hanya dengan cara otodidak, alias melihat dan mendengar para seniman beraksi kemudian mempraktikkannya di rumah. Kebiasaan Lakma ternyata didukung oleh kedua orang tua. Bahkan, mereka menyarankan agar para tetangga yang sedang mengadakan pesta memberi kesempatan pada Lakma untuk mempertontonkan kebolehannya. Sebagai catatan, bagi generasi Lakma pengertian pesta yang dimaksud di sini adalah adalah gelaran-gelaran yang berkenaan dengan lingkaran hidup seseorang (kelahiran, perkawinan, kematian) atau acara adat lainnya (penobatan raja, pemberian gelar, dan lain sebagainya).

Di berbagai gelaran pesta inilah Lakma Dewi mulai mengasah diri untuk menjadi seorang seniman tradisi. Selain itu, berkat interaksi yang cukup intens dengan seniman-seniman seni tutur yang turut tampil dalam pesta, Lakma juga mulai merambah ke seni tutur. Hahiwang, segata, bebandung, ringget, wayak/muayak dan hahaddo hasil "contekan" dari para seniman tutur tersebut dipelajarinya secara rutin sepulang sekolah di SDN 04 Penengahan Laay. Namun, kebiasaan berlatih seni tradisi sempat terhenti ketika dia baru beberapa bulan duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama karena Sang kakek mengajaknya hijrah ke Jakarta.

Oleh karena sangat dimanja Sang kakek dan keluarganya, Lakma diberi kebebasan untuk melakukan segala hal sesuai dengan kemauan sendiri dan tidak dibebani kewajiban sebagaimana layaknya orang lain. Alhasil, dia terlalu "enjoy" dengan diri sendiri sehingga tidak berhasrat melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertamanya. Jadi, praktis selama di Jakarta rutinitas yang dilakukan hanyalah makan, tidur, dan jalan-jalan bersama keluarga Sang kakek.

Sepulang dari Jakarta, Lakma menggeluti kembali seni tradisi yang sempat ditinggalkan. Bahkan dia tidak hanya tampil dalam acara pesta-pesta adat yang diselenggarakan oleh masyarakat yang ada di sekitar pekon tempat tinggalnya. Secara rutin Lakma Dewi mengikuti berbagai ajang perlombaan kesenian daerah, baik yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Barat maupun Pemerintah Provinsi Lampung. Dan, dari berbagai macam perlombaan ini banyak di antaranya yang berhasil dimenangkan.

Konsekuensi dari keberhasilan memenangkan sejumlah perlombaan, jadwal manggung pun semakin bertambah. Dia tidak hanya diundang memeriahkan acara adat yang diselenggarakan oleh Pekon, Kecamatan, dan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat saja, tetapi juga orang-orang tertentu yang berniat ingin menjadi petinggi di Lampung Barat hingga para pejabat di pemerintahan Provinsi Lampung.

Tidak berapa lama setelah mencapai ketenaran sebagai seorang seniwati tradisi, Lakma Dewi menikah dengan Hermanto, seorang staf Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Barat. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai empat orang anak (seorang laki-laki dan tiga orang perempuan), yaitu: Wawan Putra (kelahiran tahun 1983), Heidi Diana (kelahiran tahun 1985), Tria Yunisa (kelahiran tahun 1987), dan Wira Opana (kelahiran tahun 1990).

Pernikahan dengan Hermanto ternyata membawa berkah tersendiri bagi Lakma Dewi. Jadwal pentasnya menjadi kian banyak hingga rata-rata mencapai 20 kali dalam satu bulan. Oleh karena itu, tidak jarang Hermanto turut menemani ketika Lakma pentas keluar wilayah Lampung Barat, seperti: Bandarlampung, Metro, Jakarta, hingga Yogyakarta. Khusus di Bandarlampung dan Yogyakarta Lakma pernah diminta masuk dapur rekaman untuk membawakan sastra lisan muayak dan hahaddo. Namun, hasil rekamannya saat ini hanya ada di Kantor Dinas Pemuda, Pariwisata, dan Olahraga Kabupaten Lampung Barat.

Menurut Lakma tidak lakunya penjualan rekaman muayak dan hahaddo karena masyarakat (terutama generasi muda) menganggap bahwa kedua kesenian tersebut sudah ketinggalan zaman. Kemajuan dalam bidang teknologi dan informasi membuat orang lebih menghargai kesenian populer yang datang dari daerah atau negara lain. Muayak, hahaddo, hahiwang, ringget dan beragam kesenian tradisional lain yang selalu mempertahankan "pakem" tanpa melakukan pembaruan tidak lagi dapat mengikuti arus perubahan zaman sehingga nyaris ditinggalkan dan hampir punah.

Keprihatinan akan punahnya kesenian tradisi mendorong Lakma Dewi untuk menularkan keahliannya pada generasi muda. Mula-mula dia mengajar pada anak-anak usia Sekolah Dasar hingga Menengah Pertama di sekitar tempat tinggalnya. Menurutnya anak-anak usia 6 hingga 16 tahun lebih "lebih cepat nyambung" ketimbang remaja atau orang tua. Anak-anak relatif mudah menerima pelajaran dan dapat "dipoles" sedemikian rupa agar sesui dengan pakem-pakem kesenian yang diajarkan.

Tetapi usaha awal Lakma Dewi banyak mengalami kendala. Salah satunya disebabkan oleh stratifikasi sosial dalam masyarakat yang tercermin dalam kelas-kelas sosial yang ditentukan berdasarkan asal usul serta hubungan kekerabatan patrilineal. Mereka membagi diri menjadi 16 marga. Masing-masing marga dipimpin oleh seorang Saibatin (Kepala Marga) dan memiliki tujuh tingkatan Gelar yaitu: Suntan, Raja, Batin, Radin, Minak, Kimas dan Mas.

Struktur sosial berdasarkan tingkatan gelar tersebut mempengaruhi ruang gerak individu, mulai dari level paling tinggi (Kepaksian) hingga ke level terendah yaitu keluarga. Atau dengan kata lain, terdapat rambu-rambu tertentu yang mengatur hubungan antarstatus dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang tidak dapat sesuka hati berhubungan tanpa mengindahkan statusnya karena akan mendapat sanksi-sanksi tertentu (adat maupun sosial) apabila melanggarnya.

Lakma Dewi yang berada dalam keluarga berstatus atau bergelar Minak relatif mudah menggerakkan anak-anak dari keluarga yang berstatus di bawahnya (Kimas dan Mas) untuk belajar kesenian tradisional. Namun, dia sulit "memaksa" anak-anak dari keluarga berstatus Radin, Batin, Raja, apalagi Suntan tanpa persetujuan orang tua mereka. Apabila orang tua menyetujui, dalam menentukan jadwal latih pun dia tidak dapat begitu saja menyuruh anak-anak mereka datang. Lakma harus membujuk anak yang akan berlatih agar orang tuanya tidak tersinggung dan marah.

Aturan-aturan adat yang mengikat seseorang berdasarkan kelas dalam masyarakat tentu saja menyulitkan Lakma Dewi dalam mentransfer ilmunya. Agar seni tradisi yang digeluti tidak hilang di telah zaman, dia kemudian beralih ruang dengan mengajar di pekon-pekon (desa) dan sekolah-sekolah di sekitar Krui. Kedua tempat tersebut dipilih karena sudah ada orang-orang yang mengkoordinasi anak-anak untuk berkumpul dan berlatih. Jadi, dia dapat langsung mengajar tanpa perlu lagi bersusah payah membujuk anak-anak agar mau belajar seni tradisi.

Lambat laun jerih payah Lakma secara perlahan membuahkan hasil. Banyak di antara anak didiknya memenangi berbagai ajang perlombaan, mulai dari tarian, nyanyian, hingga tradisi lisan. Bahkan karena terlalu sering menang, terkadang pihak panitia perlombaan sengaja "menghambat" agar peserta lain mendapat giliran sebagai pemenang. Adapun caranya adalah dengan menjadikan anak-anak didik Lakma sebagai penampil dan bukan peserta lomba. Sementara Lakma sendiri didaulat juga menjadi penampil, panitia dan atau jurinya.

Foto: ali gufron

Ahmad Sjarief Mustafa

Di lingkungan Pemprov DKI Jakarta nama Ahmad Sjarief Mustafa sudah cukup akrab di telinga. Putra dari Muallim Radjiun Pekajon yang lahir di Jakarta pada tanggal 21 Juli 1951 ini merupakan salah seorang pejabat di jajaran Prmprov DKI Jakarta. Jabatan terakhirnya adalah sebagai Kepala Dinas Bina Mental Spiritual Kesejahteraan Sosial Provinsi DKI Jakarta.

Ahmad menyelesaikan pendidikan dasarnya pada tahun 1964, kemudian pendidikan menengah pertama tahun 1967. Tamat dari sekolah menengah pertama Ahmad meneruskan ke sekolah lanjutan atas hingga tahun 1970. Selanjutnya dia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti (Usakti) hingga lulus pada tahun 1980. Selama kuliah, dia aktif berorganisasi di dalam kampus. Jabatannya waktu itu adalah sebagai Ketua HIMEP FE Usakti dan Kedua DPM FE Usakti (jakarta.go.id).

Selesai kuliah Ahmad memulai karir sebagai Pegawai Negeri Sipil di Badan Pengawas Daerah (Bawasda) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Bawasda adalah sebuah lembaga pengawasan yang dibentuk sebagai perangkat daerah yang ditujukan untuk menjamin agar Pemerintahan Daerah berjalan sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku (researchgate.net). Jabatan yang diembannya selama di Bawasda adalah sebagai Inspektur Wilayah Kota Jakarta Barat dari tahun 1983 hingga 2001.

Pada tahun 2001 Ahmad dipindahtugaskan sebagai Kepala Dinas Bina Mental Spiritual dan Kesejahteraan Sosial hingga tahun 2007. Dia dilantik bersama 37 pejabat eselon II dan II di lingkungan Pemerintah DKI Jakarta oleh Gubernur Sutiyoso di Gedung Balai Agung, Balaikota, Medan Merdeka Selatan. Dalam sambutannya, Sutiyoso mengatakan pejabat yang dilantik akan dinilai kinerjanya pada 6 bulan pertama. Penilaian dimaksudkan membuka ruang diadakannya koreksi dan tindakan internal demi pencapaian misi organisasi (news.detik.com).

Sebagai Kepala Dinas Ahmad bertanggung jawab kepada Gubernur Provinsi DKI Jakarta melalui Sekretaris Daerah dan dikoordinasikan oleh Asisten Kesejahteraan Masyarakat. Adapun tugas pokok lembaga yang diatur berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 41 tahun 2002 di antaranya adalah melaksanakan pembinaan mental spiritual dan kesejahteraan sosial di Provinsi DKI Jakarta. Sementara fungsinya antara lain: merumuskan kebijakan teknis di bidang mental spiritual dan kesejahteraan sosial; melaksanakan pendataan, perencanaan, pemantauan, evaluasi, penelitian serta pengembangan kegiatan mental spiritual dan usaha kesejahteraan sosial; melakukan pembinaan mental spiritual dan kesejahteraan masyarakat; menyelenggarakan kegiatan pencegaran timbulnya penyandang masalah sosial; menyelenggarakan peningkatan kualitas dan perluasan jangkauan pelayanan usaha kesejahteraan sosial; menyelenggarakan promosi dan pembinaan partisipasi kegiatan sosial masyarakat; melaksanakan pembinaan dan pengasawan terhadap penempatan tenaga kerja kesejahteraan sosial serta peningkatan profesionalisme sumber daya manusia di bidang kesejahteraan sosial; melakukan pembinaan dan peningkatan profesionalisme sumber daya manusia di bidang mental spiritual; memberikan rekomendasi perizinan pembangunan tempat-tempat ibadah; memberikan perizinan dan akreditasi lembaga kesejahteraan sosial; memberikan rekomendasi, perizinan, pengawasan, dan pengendalian undian dan sumbangan; menyelenggarakan rekomendasi pengangkatan anak, perizinan pengasuhan anak dan perizinan operasional Taman Penitipan Anak (TPA); memberikan pelayanan rehabilitasi, resosialisasi dan pemberdayaan terhadap penyandang masalah kesejahteraan sosial dan penginformasiannya; menyelenggarakan pelayanan perlindungan korban tindak kekerasan, bantuan sosial korban bencana dan musibah sosial lainnya serta orang terlantar; melestarikan nilai-nilai keperintisan, kepahlawanan, dan kesetiakawanan sosial; memberikan bantuan penyelenggaraan pelayanan sosial lembaga-lembaga kesejahteraaan sosial; menyediakan dan mengelola sarana dan prasarana pelayanan di bidang mental spiritual dan kesejahteraan sosial; meningkatkan dan memberdayakan potensi lembaga-lembaga keagamaan; mengelola dukungan teknis dan administrasi; dan melakukan pembinaan teknis pelaksanaan kegiatan suku dinas (Lakip Dinas Bintal dan Kesos tahun 2008).

Sebagai catatan, selain mengabdi pada negara, pria yang menikahi Muliana dan dikaruniai tiga orang anak ini juga aktif dalam organisasi massa sebagai Wakil Ketua PWNU Provinsi DKI Jakarta dan Ketua PP Persatuan Masyarakat Jakarta Muhammad Husni Thamrin (Permata MHT). Permata MHT merupakan organisasi yang turut membentuk Badan Musyawarah Masyarakat Betawi (Bamus Betawi) (jakarta.go.id).

Sumber:
Ahmad Sjarief Mustawa, H. SH", diakses dari http://www.jakarta.go.id/v2/dbbetawi/detail/62 /Ahmad-Sjarief-Mustafa-H.-SH, tanggal 5 Mei 2017.

"Sutiyoso Lantik 38 Pejabat Pemprov DKI Jakarta", diakses dari http://news.detik.com/berita /226645/sutiyoso-lantik-38-pejabat-pemprov-dki-jakarta, tanggal 4 Mei 2017.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Dinas Bintal dan Kesos Provinsi DKI Jakarta Tahun 2008.

"Kedudukan dan Peran Padan Pengawas Daerah dalam Pengawasan Fungsional", diakses dari https://www.researchgate.net/publication/42323253_Kedudukan_Dan_Peran_Badan_Pengawas_Daerah_BAWASDA_Dalam_Pengawasan_Fungsional_Setelah_Keluarnya, tanggal 5 Mei 2017.

Popular Posts