Pulau Nikoi

Nikoi merupakan satu dari 1.062 buah pulau yang termasuk dalam wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Luas keseluruhannya hanya sekitar 15 hektar, terletak di lepas pantai timur Bintan atau sekitar 8 kilometer dari pelabuhan Kawal. Nama Nikoi sendiri diambil dari bahasa Hokkian yang berarti pepaya (paw paw), pohon yang dahulu mendominasi pulau itu (pedomanwisata.com).

Di Kepulauan Riau, Nikoi pernah dikategorikan sebagai pulau kecil yang tidak berpenghuni. Namun walau berukuran kecil, Nikoi memiliki keindahan luar biasa sehingga membuat banyak orang berusaha menguasainya. Pulau asri berpasir putih serta berpantai bersih yang memiliki karang koral warna-warni ini dianggap berpotensi sebagai aset wisata karena terletak hanya sekitar 85 kilometer dari Singapura.

Adapun orang yang berhasil menguasainya adalah pasangan dari Australia bernama Andrew dan Julia Dixon. Mereka menyewa Pulau Nikoi pada tahun 2005 sebagai sarana pariwisata (Malik, 2016). Hasilnya, pada tahun 2007 Nikoi menjelma menjadi sebuah resort bertaraf internasional dengan konsep "Back to Nature" bernama Nikoi Island Resort. Mengutip Conde Nast Traveller, Malau (2016) menyatakan bahwa konsep back to nature diadopsi dalam bentuk konsumsi energi yang sangat irit dan ramah lingkungan. Resort hanya menggunakan genset untuk memenuhi kebutuhan minimum kelistrikan, sehingga tidak memungkinkan ada televisi dan atau penyejuk udara di kamar/cottage. Sebagai solusinya, pihak pengelola memaksimalkan desain bangunan cottage yang ada dalam resort dengan ventilasi alami penggunaan kayu apung sebagai material konstruksi dan beratap ilalang.

Meski berkonsep alami, Nikoi Island Resort memiliki berbagai macam fasilitas yang dikelola secara profesional, di antaranya: 48 buah cottage panggung beratap rumbia, kolam renang dewasa yang dibangun di antara bebatuan granit di sisi utara dan timur pulau, kolam renang bagi anak-anak, dan indoor entertainment berupa lapangan tenis, bar area, serta bioskop mini (Manuel, 2015). Sementara untuk menikmati hidangan khas Melayu kepulauan, pengelola menyediakan dua buah lokasi kuliner. Lokasi pertama diperuntukkan bagi wisatawan yang datang bersama keluarga, sedangkan lokasi lainnya didesain lebih romantis bagi para pasangan yang sedang memadu kasih (Hidayati, 2017).

Pengelolaan secara profesional tersebut membuat Nikoi Island Resort sering mendapatkan penghargaan bergengsi. Malau (2016) mencatat ada sejumlah penghargaan, yaitu: Treehugger - Best Resort Award 2013, Conde Nast - World's Best Private Islan Resorts (2013), Travel+Leisure - Global Vision Award Sustainability (2013), runner-up Wild Asia'a 2009 Responsible Tourism Awards kategori operator akomodasi kecil-menengah, dan terakhir dinobatkan sebagai The Best Private Island 2016 oleh Majalah Conde Nast Traveller. Penghargaan ini diraih setelah mengalahkan sembilan private island lain, yaitu: Amanpula (Filipina), Turtle Island (Fiji), Island Lake Malaren (Swedia), Ariara Island (Filipina), Necker Island (Kepulauan Virgin), Velaa Island (Maladewa), Pulau Utara (Selandia Baru), Ile des Deux Cocos (Mauritius), dan Parrot Cay (Caribia).

Bagaimana? Anda tertarik mengunjungi Pulau Nikoi untuk menikmati pemandangan alam yang luar biasa indah dengan pelayanan resort kelas dunia? Apabila berminat, jauh hari sebelumnya harus melakukan reservasi karena pihak pengelola hanya menyediakan cottage dalam jumlah terbatas. Itu pun dengan harga yang fantastis (bagi turis berkantong cekak). Manuel (2015) mencatat, harga kamar per harinya antara Rp.3,6 juta-Rp.7,9 juta, sementara bila menyewa satu pulau penuh mencapai Rp.151 juta (senin-kamis) dan Rp.189 juta untuk hari sabtu dan minggu.

Jadi, dapat dipastikan bahwa pulau ini hanya bagi kalangan menengah-atas yang ingin menikmati privasi hidup tanpa gangguan orang lain. Alias orang-orang (karena statusnya) ingin berbeda dengan kalangan kebanyakan yang selalu hidup berdesakan dan berhimpitan dalam sempitnya ruang publik. Sebuah kecenderungan pembentukan citra kelas lebih elegan dan mewah yang dimanfaatkan kaum kapitalis mengeruk keuntungan besar ^_^. (ali gufron)

Foto: http://gayahidup.dreamers.id/article/38810/pulau-nikoi-kepulauan-riau-finalis-world-legacy-award-2015-oleh-national-geographic
Sumber:
"Pulau Nikoi: Surga Tropis di Laut Cina Selatan", diakses dari https://www.pedomanwisata.com/wisata-bahari-pantai/pantai-pasir-putih/pulau-nikoi-surga-tropis-di-laut-cina-selatan, tanggal 5 Januari 2018.

Malik, Sayuti. 2016. "Menuju Pulau Nikoi Kabupaten Bindan di Provinsi Kepulauan Riau Indonesia", diakses dari http://halamankepri.blogspot.co.id/2016/10/menuju-pulau-nikoi-kabupaten-bintan-di.html, tanggal 5 Januari 2018.

Malau, Srihandriatmo. 2016. "Kedasyatan Pulau Nikoi di Bintan Hingga Jadi The Best Private Island 2016", diakses dari http://www.tribunnews.com/travel/2016/07/13/kedahsyatan -pulau-nikoi-di-bintan-hingga-jadi-the-best-private-island-2016?page=3, tanggal 6 Januari 2018.

Manuel, Erlinel. 2015. "Pulau Nikoi - Ketika Surga Harus Dibayar Mahal", diakses dari http://www.ceritadimulai.com/2015/03/pulau-nikoi-ketika-surga-harus-dibayar.html, tanggal 6 Januari 2018.

Hidayati, Nurul. 2017. "Lukisan Alam Pulau Nikoi, Pulau dengan Pemandangan yang Menakjubkan dan Menenangkan Hati", diakses dari https://www.tempat.co.id/wisata/Pulau-Nikoi, tanggal 6 Januari 2018.

Mansur dan Genderuwo

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, ada seorang pedagang keliling bernama Mansur. Bila berdagang area berkelilingnya bisa sangat jauh (hingga ke daerah Cirebon). Oleh karena itu, dia menjadi Bang Toyib yang jarang pulang. Dalam sekali berkeliling menjajakan dagangan, minimal dia pulang ke rumah satu minggu sekali. Selebihnya, dapat dua, tiga atau bahkan satu bulan penuh baru berjumpa lagi dengan isterinya.

Suatu hari, saat akan berdagang keliling Mansur didatangi oleh seorang tetangga bernama Udin. Dia mengingatkan Mansur bahwa malam nanti mendapat giliran ronda bersama Otong dan beberapa orang tetangga lain. Namun, karena jadwal ronda bertepatan dengan hari pasaran di daerah yang hendak kunjungi, Mansur lebih memilih untuk berjualan. Sebagai ganti, dia merogoh saku dan menyerahkan sejumlah uang pada Udin agar membeli tembakau sebagai "teman" saat meronda.

Malam harinya, menjelang subuh Otong dan Udin pulang meronda. Ketika melewati rumah Mansur, mereka melihatnya sedang membuka pintu dan hendak pergi dari rumah. Melihat hal itu, Otong dan Udin langsung mendatangi dan bertanya mengapa Mansur tidak ikut meronda. Mereka merasa kecewa terhadap sikap Mansur yang beralasan hendak pergi berdagang dan menggantinya dengan sejumlah uang.

Mansur tidak menghiraukan teguran mereka. Dia terus saja berlalu tanpa berkata apa-apa. Hal ini awalnya membuat Otong dan Udin menjadi jengkel dan hendak mengejar Mansur. Namun mereka mengurungkan niat karena Mansur orang yang sangat ramah, supel, dan setia kawan. Bila ditanya biasanya dia akan berhenti dan menjawab, walau hanya sekadar berbasa-basi. Mungkin hari itu dia sedang diburu waktu atau tidak mendengar atau melihat Otong dan Udin yang menegurnya.

Keesokan harinya, sepulang meronda kejadian serupa terulang lagi. Mansur tidak menjawab ketika ditanya oleh Otong dan Udin. Dia tetap berlalu di tengah udara dingin menjelang pagi. Otong sampai jengkel melihatnya dan hendak mendamprat Mansur yang dianggapnya sombong. Sementara Udin lebih bijaksana. Dia merasa ada yang aneh pada diri Mansur, sebab bila sedang berdagang minimal satu minggu kemudian baru pulang. Oleh karena penasaran, dia mengajak Otong melakukan pengintaian di rumah Mansur.

Malamnya mereka mulai menjalankan aksi dengan mengendap-endap di antara semak belukar dekat rumah Mansur. Entah mengapa, ketika lewat tengah malam suasana menjadi aneh, mencekam, sekaligus menakutkan. Tidak berapa lama kemudian muncullah Mansur dari kegelapan malam. Sampai di pintu rumah dia disambut oleh Sang isteri yang telah berdandan dan terlihat sangat menggoda.

Setelah Mansur masuk dan isterinya menutup pintu, Otong dan Udin segera beranjak dari persembunyian mengendap-endap mendekati rumah. Namun setengah jam kemudian runtuhlah rasa curiga keduanya setelah mendengar suara lenguhan kenikmatan dari isteri Mansur ^_^. Tahulah mereka apa yang sedang diperbuat oleh Mansur. Rasa curiga berubah menjadi umpatan karena hasil dari menunggu selama berjam-jam ternyata hanya seperti itu.

Selagi mereka mengumpat datang orang-orang yang kebetulan mendapat giliran ronda. Oleh para peronda Otong dan Udin malah diolok-olok dan ditertawakan setelah mendengar cerita mereka. Hanya seorang saja yang terdiam, bernama Bang Komar. Bang Komar yang telah malang melintang dalam dunia persilatan merasa aneh mendengar penuturan Otong dan Udin. Banyak tanda-tanda keanehan dari cerita Otong dan Udin sehingga dia menahan teman-temannya agar tidak beranjak dahulu dari depan rumah Mansur.

Menjelang subuh Mansur keluar dari rumah. Dengan langkah cepat dia berjalan tanpa menghiraukan orang-orang yang berdiri di depan rumahnya (Otong, Udin, Komar, dan teman-teman ronda lain). Komar, mungkin karena indra keenamnya bekerja baik dapat melihat ada yang ganjil, langsung mengejar Mansur. Tetapi karena yang dikejar adalah makhluk halus, dia tidak dapat menyamainya. Mansur melangkah sangat ringan dan memiliki lompatan di atas manusia biasa. Dalam sekejap mata dia sudah menghilang dalam rimbunya pohononan.

Peristiwa melompatnya Mansur yang luar biasa tersebut membuat mereka sadar bahwa yang dikejar bukanlah manusia, melainkan mahkluk halus yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai genderuwo. Makhluk ini umumnya tinggal atau bersemayam di pepohonan besar yang sudah tua. Berbeda dengan makhluk halus lainnya, genderuwo dipercaya memiliki nafsu terhadap manusia, terutama kaum perempuan. Bila lagi "pengen" dia akan mendatangi perempuan yang sering ditinggal pergi suami.

Hal ini terjadi pada isteri Mansur yang sering ditinggal pergi dalam jangka waktu relatif lama. Dia akhirnya hamil. Bayi hasil hubungan berwujud manusia namun memiliki ciri-ciri fisik layaknya genderuwo, di antaranya: sekujur tubuh ditumbuhi bulu lebat, bola mata turun, tidak tumbuh gigi dan berwajah agak menyeramkan. Si bayi hanya berumur beberapa hari. Konon, dia tidak meninggal melainkan ikut dan tinggal bersama bapaknya di pepohonan tua.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Arzeti Bilbina

"Percaya enggak percaya, bergantung Anda menyikapinya "

Begitulah kata Arzeti Bilbina di setiap akhir acara bertajuk sama yang dipandunya bersama almarhum Leo Lumanto. Arzeti merupakan presenter program misteri Percaya Enggak Percaya yang ditayangkan oleh stasiun televisi ANTV pada medio tahun 2000-an (tabloidbintang.com). Acara ini berfokus pada berbagai jenis hantu dan seputar penampakannya yang dikaitkan dengan keberadaan mereka dalam dunia Islam.

Percaya Enggak Percaya bukanlah satu-satunya kegiatan yang membuat nama Arzeti dikenal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Perempuan berdarah Minang bernama lengkap Arzeti Bilbina Huzaimi yang lahir di Krui pada 4 September 1974 ini sebelumnya telah malang-melintang di dunia modeling Indonesia. Arzeti memulai karir sebagai peragawati ketika pindah dari Pesisir Barat dan bersekolah di SMA Negeri 6 Jakarta, sekitar tahun 1992.

Setelah sukses dalam dunia modeling (menjadi peragawati papan atas, pengajar di Face Modelling, dan mendirikan sekolah modeling Zema Management/PT Zema Indonesia), Arzeti mencoba melebarkan sayap ke dunia akting. Menurut uniqpost.com, Arzeti sempat bermain dalam film televisi (FTV) berjudul "Ajari Aku Cinta" (2007), sinetron "Romantika" dan film "Angels Cry", sebuah film yang diilhami oleh peristiwa bom Bali. Sedangkan menurut ketemulagi.com dan kuakap.com masih ada sejumlah film dan sinetron yang diperankan oleh Arzerti, yaitu: Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Cinta Bersemi di Putih Abu-abu The Series, Super ABG, Putih Abu-abu 2, Ji Ung Pendekar Cabe Rawit, dan Si Biang Kerok Cilik. Selain itu, dia tidak hanya memandu acara reality show Percaya Enggak Percaya saja, tetapi juga Mamamia yang ditayangkan di stasiun televisi Indosiar pada pertengahan 2007.

Sukses dalam pekerjaan rupanya diikuti pula oleh kesuksesan dalam kehidupan pribadinya. Pada sekitar bulan Februari 2004 Arzeti menikah dengan seorang pengusaha bernama Aditya Setiawan. Dari pernikahan tersebut dia "sukses" meneruskan keturunan. Anak-anak mereka bernama Bagas Wicaksono Rahadi Setiawan (lahir 9 Maret 2005), Dimas Aryo Baskoro Rahadi Setiawan (lahir 12 Maret 2006), dan Gendis Setiawan (lahir 2 Januari 2008) (wowkeren.com).

Tidak puas hanya sebagai pesohor dan pengusaha, Arzeti mulai merambah ke dunia politik, seperti beberapa pesohor lain (Miing Bagito, Dede Yusuf, Eko Patrio, Rieke Dyah Pitaloka dan lain sebagainya). Adapun kendaraan politik yang dipilihnya adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Arzeti bergabung dengan PKB pada tahun 2013. Setahun berikutnya, saat menjabat sebagai Wakil Bendara Dewan Pimpinan Pusat PKB, Arzeti mencalonkan diri menjadi calon legislatif Dapil Jawa Timur 1. Namun, dia gagal menjadi Anggota Dewan (DPR-RI) karena hanya meraih sekitar 50.000 suara (wikidpr.org).

Melihat popularitas Arzeti cukup tinggi di Surabaya DPP PKB berniat mencalonkannya menjadi Walikota Surabaya pada Pilkada 2015 (lensaindonesia.com). Tetapi rezeki dari Tuhan memang tidak pernah tertukar. Seorang kader PKB yang berhasil menjadi Anggota Dewan bernama Imam Nahrawi dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga pada Kabinet Kerja. Arzeti yang dalam Pilleg berada di bawah Nahrawi secara otomatis maju menjadi Pejabat Antar Waktu (PAW) pada 28 Januari 2015 menggantikan Nahrawi sebagai Anggota DPR-RI periode 2014-2019. Mulanya dia duduk di Komisi VIII yang membidangi agama, sosial, dan pemberdayaan perempuan, kemudian pada bulan September 2016 dimutasi ke Komisi X DPR-RI.

Konsekuensi dari banyaknya peran yang dimainkan dalam arena publik, tentu membuat sepak terjang Arzeti selalu menjadi sorotan. Seperti kata pepatah, semakin tinggi sebuah pohon akan semakin banyak pula terpaan angin yang menggoyangnya. Hal ini terjadi hanya sekitar 10 bulan setelah menjabat sebagai anggota dewan. Pada tanggal 25 Oktober 2015 dia dikabarkan digrebek saat berada di kamar Hotel Arjuno, Malang, bersama Komandan Komando Distrik Militer 0816 Sidoarjo Letkol Kav Risky/Rizeki Indra Wijaya (nasional.kompas.com). Kabar miring tersebut segera dibantah Arzeti dengan menyatakan bahwa pertemuan bersama Letkol Rizeki guna membicarakan suatu pekerjaan. Dan, dalam pertemuan juga dihadiri oleh ajudan Dandim Sidoarjo (ketemulagi.com).

Terlepas dari kabar miring yang menimpa dirinya, yang jelas semenjak menjadi anggota dewan Arzeti sering kali menyatakan tanggapan serta sikap politik berkaitan dengan tugas yang diembannya. Tangapan dan sikap-sikap politik itu antara lain: (1) tanggal 29 Januari 2015 Arzeti meminta tes keperawanan dihilangkan karena tes-nya sendiri bersifat menghilangkan keperawanan. Selain itu, dia berharap Pemerintah meningkatkan anggaran Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Alasannya Kementerian PPPA membutuhkan anggaran besar untuk perogram-program perlindungan hukum, pendidikan usia dini untuk mencegah pernikahan usia muda terutama di daerah kepulauan, dan memudahkan aksesibilitas sarana persalinan (wikidpr.org); (2) 11 Februari 2015 menanyakan persiapan Menteri Agama dalam memperbaiki administrasi visa haji karena pemerintah Arab Saudi hanya memberikan visa non-quota sebesar 4.000 buah sementara Indonesia menerbitkan 16.000 quota (wikidpr.org); (3) berkaitan dengan Evaluasi Sistem Manajemen Resiko Penanggulangan Bencana, tanggal 7 April 2015 Arzeti berharap kesejahteraan tenaga BNPB diperhatikan agar dapat memberikan pelayanan terbaik bagi Indonesia (wikidpr.org); (4) masih berkaitan dengan Anggaran dan Program Penanggulangan Bencana, tanggal 8 April 2015 Arzeti menanyakan perlukan perumahan cluster dibatasi karena penambahan perumahan dapat meningkatkan resiko bencana banjir (wikidpr.org); (5) tanggal 16 April 2015 meminta klarifikasi dari Menteri PPPA dalam hal Rencana Strategis Kementerian PPPA menanggulangi meningkatnya angka kecelakaan dan pelanggaran lalu-lintas yang dilakukan oleh kanak-kanak usia 0-10 tahun (wikidpr.org); (6) tanggal 21 April 2015 memberi saran agar Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial bekerja sama dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal membuat perundang-undangan guna menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di Desember 2015; (7) tanggal 30 September menyarankan agar ada kemaksimalan koordinasi antarinstansi daerah sebagai komitmen Pemerintah Daerah terhadap Perlindungan Anak (wikidpr.org); (8) 19 April 2016 mempertanyakan anggaran yang dikeluarkan untuk Corporate Social Responsibility (CRS) yang akan dibuat menjadi UU dan kemungkinan bagi kaum disabilitas bisa dipekerjaan (wikidpr.org); (9) 13 Juni 2016 Arzeti menginginkan ada program kegiatan positif bagi teenager dalam Renstra Kementerian PPPA (wikidpr.org); dan (10) menyangkut kebijakan moratorium Ujian Nasional, tanggal 1 Desember 2016 Arzeti meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan sistem standarisasi serta mencari tahu apa yang akan digunakan sebagai pengganti Ujian Nasional (wikidpr.org).

Sementara berkaitan dengan tanah kelahirannya, menurut Sulistyo (2016), ada beberapa hal yang dilakukan Arzeti. Pertama, bersama komunitas Srikandi Kuri pimpinan Dewi Nurani menggelar tabligh akbar sebagai penumbuh keimanan dan ketakwaan sumber daya manusia di Kabupaten Pesisir Barat. Tabligh akbar menyambut bulan suci Ramadhan 1437 H dipusatkan di lapangan Labuhan Jukung, Kecamatan Pesisir Tengah pada Kamis, 2 Juni 2016. Dan kedua, melaksanakan misi Gerakan Cinta Al Quran dengan membagikan 10.0001 Al Quran hasil sumbangan masyarakat Krui dan donatur lain di Jakarta kepada seluruh masyarakat Pesisir Barat dan Lampung Barat yang tersebar di 11 kecamatan dan 118 pekon (desa). (gufron)

Foto: http://lifestyle.liputan6.com/read/2350730/arzetti-bilbina-dan-4-gaya-hijab-favoritnya
Sumber:
"RAPBN 2017, Evaluasi APBN 2016, dan Tindak Lanjut Pemeriksaan BPK – Rapat Kerja Komisi 8 dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPP-PA)", diakses dari http://wikidpr.org/rangkuman/rapbn-2017-evaluasi-apbn-2016-dan-tindak-lanjut-pemeriksaan-bpk-rapat-kerja-komisi-8-dengan-menteri-pemberdayaan-perempuan-dan-perlindungan-anak-menpp-pa-, tanggal 25 Juni 2017.

"RUU CSR - Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi 8 dengan PT Indofood Sukses Makmur", diakses dari http://wikidpr.org/rangkuman/ruu-csr---rapat-dengar-pendapat-umum-komisi-8-dengan-pt-indofood-sukses-makmur, tanggal 25 Juni 2017.

"Komitmen Pemda terhadap Panja Perlindungan Anak – Rapat Komisi 8 dengan Pemda Jateng, Jabar, dan Sulsel", diakses dari http://wikidpr.org/news/komitmen-pemda-terhadap-panja-perlindungan-anak-rapat-dengar-pendapat-komisi-8-dengan-pemda-jateng-jabar-dan-sulsel, tanggal 25 Juni 2017.

Sulistyo, Hilda Sabri. 2016. "Arzetti Biblina Majukan Krui Sebagai Tanah Kelahiran Lewat Kompetensi SDM", diakses dari http://bisniswisata.co.id/arzetti-biblina-majukan-krui-sebagai-tanah-kelahiran-lewat-kompetensi-sdm/, tanggal 23 Juni 2017.

"Rencana Strategis Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak - Rapat Komisi 8 dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak", diakses dari http://wikidpr.org/news/rencana-strategis-kementerian-pemberdayaan-perempuan-dan-perlindungan-anak---rapat-komisi-8-dengan-menteri-pemberdayaan-perempuan-dan-perlindungan-anak, tanggal 25 Juni 2017.

"Penanggulangan Bencana Alam - Rapat Komisi 8 dengan Ditjen Pengendalian Iklim & Ditjen Sumber Daya Air" diakses dari http://wikidpr.org/news/penanggulangan-bencana-alam---rapat-komisi-8-dengan-ditjen-pengendalian-iklim-ditjen-sumber-daya-air, tanggal 25 Juni 2017.

"Evaluasi Kesiapan Sistem Manajemen Resiko Penanggulangan Bencana - Rapat Panja Komisi 8 dengan Kemensos, Kemendagri, BPKP dan BNPB", diakses dari http://wikidpr.org/news/evaluasi-kesiapan-sistem-manajemen-resiko-penanggulangan-bencana---rapat-panja-komisi-8-dengan-kemensos-kemendagri-bpkp-dan-bnpb, tanggal 25 Juni 2017.

"Kemenag - Rapat Kerja Komisi 8 dan Kementerian Agama", diakses dari http://wikidpr.org/news/kemenag---rapat-kerja-komisi-8-dan-kementerian-agama, tanggal 25 Juni 2017.

"Sesmen PPPA - Rapat Dengar Pendapat Komisi 8 dan Sekretaris Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak", diakses dari http://wikidpr.org/news/sesmen-pppa---rapat-dengar-pendapat-komisi-8-dan-sekretaris-menteri-negara-pemberdayaan-perempuan-dan-perlindungan-anak, tanggal 25 Juni 2017.

"Arzeti Bilbina", diakses dari http://wikidpr.org/anggota/54c85838474254c52100001f #tanggapan, tanggal 22 Juni 2017.

"Biodata Lengkap Arzetti Bilbina Angota DPR", diakses dari http://ketemulagi.com/biodata-lengkap-arzetti-bilbina-angota-dpr/, tanggal 19 Juni 2017.

"In Memoriam Leo Lumanto (1969-2017), Host Program Misteri Percaya Nggak Percaya ANTV", diakses dari http://www.tabloidbintang.com/articles/berita/sosok/65276-in-memoriam-leo-lumanto-19692017-host-program-misteri-percaya-nggak-percaya-antv, tanggal 19 Juni 2017.

"Biodata Profil Arzeti Bilbina Dan Foto Terbaru", diakses dari http://www.kuakap.com/2015/10/biodata-profil-arzeti-bilbina-dan-foto.html, tanggal 20 Juni 2017.

"Soal Kasus Arzeti Bilbina, MKD Tunggu Hasil Pemeriksaan Denpom", diakses dari http://nasional.kompas.com/read/2015/10/27/15370581/Soal.Kasus.Arzeti.Bilbina.MKD.Tunggu.Hasil.Pemeriksaan.Denpom, tanggal 20 Juni 2017.

"PKB akan usung Arzeti Bilbina di Pilwali Surabaya", diakses dari http://www.lensaindonesia.com/2015/03/05/pkb-akan-usung-arzeti-bilbina-di-pilwali-surabaya.html, tanggal 23 Juni 2017.

"Arzeti Bilbina", diakses dari http://uniqpost.com/profil/arzeti-bilbina/, tanggal 17 Juni 2017.

"Arzetti Bilbina", diakses dari http://www.wowkeren.com/seleb/arzeti_bilbina/profil.html, tanggal 17 Juni 2017.

Tugu Pensil

Wikipedia.org mendifinisikan "tugu" sebagai bangunan menjulang besar/tinggi yang terbuat dari batu/batu bata atau bahan lain yang tahan rusak. Tugu dapat berfungsi sebagai: (a) peringatan suatu peristiwa bersejarah; (b) marka navigasi; (c) penanda kawasan, dan (d) peringatan untuk mengenang tokoh tertentu. Definsi ini senada dengan kbbi.web.id yang menyatakan bahwa "tugu" adalah tiang besar yang dibuat dari batu, bata, dan sebagainya untuk memperingati pahlawan (tugu pahlawan), menghormati orang yang berjasa atau pengingat peristiwa bersejarah (tugu peringatan).

Di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, ada sebuah tugu tinggi-runcing menyerupai pensil (alat tulis berupa kayu bulat berisi arang) yang alasnya berbentuk segitiga terbalik bertuliskan "Bebas dari Buta Huruf Latin, Kewedanaan Tanjung Pinang". Oleh masyarakat setempat tugu yang berada di tepi laut (Jalan Agus Salim) tersebut diberi nama sebagai Tugu Pensil. Tugu hasil rancangan Ir. Nizar Nasir ini merupakan simbol prestasi Kewedanaan Tanjungpinang yang berhasil memberantas buta aksara melalui program Pemberantasan Buta Huruf (PBH) pada sekitar tahun 1960-an (kompasiana.com). Adapun pembangunannya menurut paud-dikmas.kemdikbud.go.id, dilaksanakan pada pertengahan tahun 1962 dengan ditandai peletakan batu pertama oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu, Prof. Prijono.

Selesai dibangun, sama seperti kebanyakan tugu di Indonesia, Tugu Pensil dibiarkan begitu saja sehingga seolah-olah tidak terawat (hasil pengamatan saya dari tahun 1992-2005 ^_^). Ia baru mulai dilirik kembali setelah Kepulauan Riau beralih status dari kabupaten menjadi provinsi. Oleh pemerintah setempat Tugu Pensil dijadikan sebagai objek wisata dengan memberi sentuhan baru berupa taman dan beberapa faslitas penunjangnya, seperti: lapangan voli, jogging track, double seat pulling, double air walker, four post waist twitter, double bar leg lifter, double moon walker, ayunan dan sejumlah permainan lain, serta hotspot internet gratis (ksmtour.com).

Selain itu, agar telihat lebih menarik bagian taman yang berada di bibir pantai diberi tulisan besar "TUGU PENSIL", sebuah kecenderungan penanda area yang sedang "ngetren" di tanah air layaknya landmark "Hollywood" California ^_^. Pada bagian bawah tulisan dipahatkan sejumlah 12 buah prasasti berisi pasal-pasal dalam Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji yang diselesaikan di Pulau Penyengat pada tanggal 23 Rajab 1264 Hijriyah atau 1847 Masehi (id.wikipedia.org).

Hasilnya, saat ini Tugu Pensil menjadi salah satu kawasan yang banyak dikunjungi warga masyarakat Tanjungpinang dan sekitarnya. Pada pagi hari umumnya mereka ber-jogging sambil menikmati matahari terbit. Sedangkan sore harinya difungsikan sebagai: sarana berkumpul sembari melihat atlet voli lokal memperagakan keahliannya; berolahraga menggunakan fasilitas taman; menikmati indahnya pantai dan menunggu matahari terbenam di kejauhan; atau hanya sekadar berburu internet gratisan melalui sarana hotspot yang disediakan pengelola taman (bagi "fakir Wi-Fi") ^_^. (Ali Gufron)

Foto: https://id.wikipedia.org/wiki/Gurindam_Dua_Belas
Sumber:
"Tugu", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Tugu, tanggal 5 Desember 2017.

"Tugu", diakses dari https://kbbi.web.id/tugu, tanggal 5 Desember 2017.

"Tugu Pensil, Simbol Buta Huruf Kepulauan Riau", diakses dari https://www.kompasiana.com/lian_gayo/tugu-pensil-simbol-buta-huruf-kepulauan-riau_552cc03e6ea834c07e8b4595, tanggal 6 Desember 2017.

"Tugu Pensil, Simbol Bebas Buta Aksara Kepulauan Riau", diakses dari https://www.paud-dikmas.kemdikbud.go.id/berita/2079.html, tanggal 6 Desember 2017.

"Tugu Pensil Wisata Pantai Bersejarah di Tanjung Pinang Kep. Riau", diakses dari https://ksmtour.com/informasi/tempat-wisata/kepulauan-riau/tugu-pensil-wisata-pantai-bersejarah-di-tanjung-pinang-kep-riau.html, tanggal 7 Desember 2017.

"Gurindam Dua Belas", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Gurindam_Dua_Belas, tanggal 8 Desember 2017.

Gedung Gonggong

Gonggong atau Canarium Stroumbus adalah biodata endemik sejenis siput pemakan alga dan plankton. Menurut Prie (2013), gonggong merupakan spesies indo-pasifik yang hidup pada lumpur dan pasir di sekitar perairan Kepulauan Riau, khususnya Pulau Bintan. Binatang bertekstur kenyal ini sejak dahulu telah menjadi makanan sehari-hari karena mudah didapat serta memiliki kandungan protein tinggi bagi pelengkap kebutuhan gizi anak dan ibu hamil. Adapun cara memasaknya cukup direbus dan ditambah sambal sebagai pelengkap (Maharani, 2016).

Oleh karena endemik di perairan Pulau Bintan, pemerintah setempat menjadikan binatang gonggong ikon penanda Kota Tanjungpinang dalam bentuk sebuah tugu kecil di Tepi Laut (Jalan Hang Tuah). Beberapa tahun ke belakang, mereka membuat lagi sebuah "gonggong besar" yang bukan berbentuk tugu, melainkan bangunan menyerupai gonggong, berlantai dua, berwarna emas, dan sebagian besar dinding terbuat dari kaca (Movanita, 2017).

Sesuai dengan bentuknya, bangunan menyerupai gonggong ini dinamakan Gedung Gonggong. Letaknya di Tepi Laut, tidak begitu jauh dari Tugu Gonggong, Gedung Daerah dan Pelabuhan Sri Bintan Pura. Jadi, bagi wisatawan yang menggunakan perahu dari Batam, sebelum bersandar dari kejauhan akan melihat Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat (sebelah kiri) dan Gedung Gonggong di bagian kanan perahu.

Pembuatan Gedung Gonggong dilaksanakan oleh PT. Findomuda Desaincipta selaku pemenang tender. Adapun proses pengerjaannya berlangsung selama kurang lebih empat tahun dengan biaya sebesar Rp. 14,3 miliar. Selesai dibangun, gedung diresmikan oleh Menteri Pariwisata Republik Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc pada tanggal 29 Oktober 2016. Peresmian yang juga dihadiri oleh Gubernur Kepulauan Riau dan Walikota Tanjungpinang itu menandai Gedung Gonggong sebagai tempat tujuan wisata nonbahari sekaligus Tourist Information Center (TIC) atau pusat informasi pariwisata Tanjungpinang (Puputyuhara, 2016).

Agar sesuai dengan tujuannya, Gedung Gonggong dilengkapi dengan beberapa fasilitas penunjang TIC. Puputyuhara (2016) mencatat sedikitnya ada lima fasilitas penunjang kepariwisataan yang ada di dalam gedung, yaitu: (1) ruang resepsionis; (2) display informasi pariwisata Tanjungpinang dan sejumlah lukisan; (3) ruang ekspose bagi wisatawan yang dilengkapi dengan tempat duduk serta televisi layar lebar; (4) kantor manajemen; dan (5) basement.

Selain itu, menurut Wahyudi (2017) Gedung Gonggong juga berfungsi sebagai pusat penawaran investasi dan pengembangan di Kota Tanjungpinang. Oleh karena itu, gedung dilengkapi dengan ruang rapat VIP bagi para pengusaha (berkapasitas 12 orang) serta ruang semi pusat bisnis (pameran produk lokal dan kuliner). Kedua ruang tadi dapat dijadikan "ladang usaha" bagi pengelola guna menunjang biaya operasional gedung sehingga tidak terlalu membebankan APBD.

Saat ini, lepas dari letak yang strategis dan fungsinya sebagai pusat bisnis dan informasi kepariwisataan, Gedung Gonggong menjadi salah satu kawasan yang banyak dikunjungi warga masyarakat Tanjungpinang dan sekitarnya. Pada pagi hari umumnya mereka berolahraga sambil menanti matahari terbit. Sedangkan sore harinya menjadi sarana berkumpul sembari menunggu matahari terbenam di balik Pulau Penyengat. (ali gufron)

Foto: https://www.youtube.com/watch?v=YzAUaeiuvjQ
Sumber:
Prie, Mas. 2013. "Mungkin Gonggong adalah Salah Satu Ikon Batam", diakses dari http://gonggongbatam.blogspot.co.id/2013/06/apa-gonggong-canarium-stroumbus.html, tanggal 10 Desember 2017.

Maharani, Dian. 2016. "Gonggong, Makanan Laut Tinggi Kolesterol", diakses dari http://lifestyle.kompas.com/read/2016/04/25/180000823/Gonggong.Makanan.Laut.Tinggi.Kolesterol, tanggal 10 Desember 2017.

Movanita, Ambaranie Nadia Kemala. 2017. "Gedung Gonggong akan Dibuat Mirip Opera House di Australia", diakses dari http://travel.kompas.com/read/2017/05/17/100800927/ gedung.gonggong.akan.dibuat.mirip.opera.house.di.australia, tanggal 11 Desember 2017.

Puputyuhara. 2016. "Potret Gedung Gonggong di Laman Boenda Tanjungpinang", diakses dari https://puputyuhara.wordpress.com/2016/11/10/potret-gedung-gonggong-di-laman-boen da-tanjungpinang/, tanggal 11 Desember 2017.

Wahyudi, Sri. 2017. "Gedung Gonggong Ikon Wisata Tanjung Pinang", diakses dari https:// hangtuahnews.co.id/gedung-gonggong-ikon-wisata-tanjung-pinang/, tanggal 12 Desember 2017.

Mini Zoo Kijang

Di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, kata "Kijang" tidak selalu dikaitkan dengan binatang yang oleh kbbi.web.id didefinisikan sebagai menyusui, sebangsa rusa kecil, cepat larinya, dan bertanduk pendek. Kata "Kijang" juga merupakan ibu kota Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan. Di Kijang ada sebuah kebun binatang kecil (mini zoo) yang berlokasi di Jalan Tengiri, Kota Kijang (wartakepri.co.id). Untuk mencapainya (menggunakan kendaraan pribadi), baik dari Kota Tanjungpinang (ibu kota Provinsi Kepulauan Riau) mapun Tanjunguban (kecamatan Bintan Utara) relatif mudah karena kondisi jalan relatif baik.

Sesuai dengan namanya (mini zoo), objek wisata ini merupakan tempat untuk mempertunjukkan satwa liar yang dipelihara dalam lingkungan buatan berskala kecil. Adapun tujuannya, bagi masyarakat dapat sebagai tempat rekreasi maupun sarana pendidikan, riset, atau konservasi satwa yang terancam punah. Sementara menurut wisatastevenly.blogspot.co.id, oleh Pemerintah Kabupaten Bintan mini zoo ditujukan sebagai "aksesoris" kota di bawah pengawasan Dinas Kebersihan, Pertamanan, dan Pemakaman (DKPP). Sedangkan versi lain berada di bawah Dinas Kehutanan dan Pertanian Bintan (batam.tribunnews.com).

Kebun binatang mini yang diresmikan pada tahun 2011 ini memiliki luas sekitar satu hektar. Walau berukuran relatif kecil Mini Zoo Kijang mengkoleksi beraneka macam satwa yang dipelihara dalam kandang atau sangkar, di antaranya: orang utan, tupai, ular, buaya, beruang, iguana, kakak tua, cendrawasih, elang, beruang madu, rusa tanduk cabang, elang laut, ikan, elang kepala putih, merak, kelinci, kelelawar, musang, tupai, dan kupu-kupu (sarahjalan.com).

Fasilitas Mini Zoo Kijang
Fasilitas penunjang objek wisata Mini Zoo Kijang tergolong lengkap, yaitu: toilet, tempat parkir yang relatif luas, mushola, ruang khusus bagi ibu menyusui, kantin, wahana permainan anak (ayudan dan perosotan), dan pondok-pondok sederhana (gazebo) yang berada di tepian danau (tempat.co.id).

Bagaimana? Anda berminat membawa keluarga berekreasi ke Mini Zoo Kijang sembari mengajari sang buah hati tetang keanekaragaman fauna dalam suasana yang nyaman dan menyenangkan? Apabila berminat Mini Zoo Kijang dibuka gratis untuk umum dari hari Senin-Minggu mulai pukul 09.00-16.00 WIB. Pengunjung hanya dikenakan biaya parkir, bergantung dari kendaraan yang dibawa (roda dua atau empat).

Sebagai catatan, apabila belum puas, tidak berapa jauh dari mini zoo ada Kijang City Walk yang dibangun sekitar tahun 2015 sebagai area rekreasi bagi warga Kijang dan sekitarnya. Di kawasan ini, selain terdapat sebuah jembatan panjang yang dapat digunakan sebagai tempat"nongkrong", juga wahana permainan anak serta sarana berolahraga. (ali gufron)

Foto: http://wartakepri.co.id/2016/01/03/liburan-ke-bintan-lebih-lengkap-jika-bisa-berkunjung-ke-mini-zoo-kijang/
Sumber:
"Kijang", diakses dari https://kbbi.web.id/kijang, tanggal 23 November 2017.

"Kijang City Walk dan Mini Zoo Di Kijang Bintan - Kepulauan Riau", diakses dari http://www.sarahjalan.com/2017/02/kijang-city-walk-dan-mini-zoo-di-kijang.html, tanggal 25 November 2017.

"Mini Zoo Kijang", diakses dari https://www.tempat.co.id/wisata/Mini-Zoo-Kijang, tanggal 25 November 2017.

"Liburan ke Bintan Lebih Lengkap Jika Bisa Berkunjung ke Mini Zoo Kijang", diakses dari http://wartakepri.co.id/2016/01/03/liburan-ke-bintan-lebih-lengkap-jika-bisa-berkunjung-ke-mini-zoo-kijang/, tanggal 26 November 2017.

"Kebun Binatang Mini Zoo Kijang", diakses dari http://wisatastevenly.blogspot.co.id/2014/06/kebun-binatang-mini-zoo-kijang.html, tanggal 26 November 2017.

"Banyak Koleksi Satwa di Mini Zoo Kijang Berkurang, Ini Jawaban Kepala Dinas Bintan", diakses dari http://batam.tribunnews.com/2016/09/19/banyak-koleksi-satwa-di-mini-zoo-kijang-berkurang-ini-jawaban-kepala-dinas-bintan, tanggal 26 November 2017.

Raja Haji Fisabilillah

Tanah Melayu tidak hanya melahirkan pujangga sekaligus sejarawan setaraf Raja Ali Haji yang terkenal melalui Gurindam Dua Belas dan Tuhfat al Nafis-nya, melainkan juga para pejuang yang gigih berani melawan penjajah demi kemuliaan Islam dan bangsa Melayu. Salah seorang di antaranya, adalah kakek Raja Ali Haji sendiri yaitu Raja Haji Fisabilillah yang lahir di Kota Lama, Ulusungai, Riau, pada tahun 1725 (id.wikipedia.org).

Raja Haji Fisabilillah adalah "blasteran" Bugis-Melayu. Ayahnya (Opu Daeng Celak atau Engku Haji) mewarisi garis keturunan raja-raja Bugis di negeri Luwuk, sementara Sang ibu (Tengku Mandak) merupakan keturunan raja-raja Melayu (Abdullah, 2006). Menurut Isnaeni (2016), setelah bermigrasi ke tanah Melayu Opu Daeng Celak memperoleh gelar Yang Dipertuan Agung dari Kerajaan Riau-Johor.

Setelah Opu Daeng Celak wafat tahun 1744, Raja Haji yang waktu itu baru berusia 19 tahun diangkat menjadi Engku Kelana. Adapun tugasnya selain mengatur pemerintahan, juga menjaga keamanan seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Riau-Johor (Isnaeni, 2016). Pada masa kejayaannya, kerajaan ini memiliki cakupan wilayah cukup luas, meliputi: Johor, Pahan, Singapura, Kepulauan Riau dan beberapa daerah-daerah di Pulau Sumatera (Riau Daratan dan Jambi) (Dediarman, 2014).

Tiga dasawarsa kemudian, atau tepatnya tahun 1777 Raja Haji diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda IV. Isnaeni (2016), mengutip buku Jejak Pahlawan dalam Aksara terbitan Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia dan Departemen Sosial Republik Indonesia, mengatakan bahwa sejak menjadi Yang Dipertuan Muda IV Kerajaan Riau-Johor mengalami kemajuan pesat dalam bidang ekonomi, pertahanan, sosial-budaya, dan spiritual.

Khusus dalam bidang pertahanan dan keamanan, perjuangan-perjuangan Raja Haji dilakukan hingga titik darah penghabisan. Adapun perjuangan setelah menjadi Yang Dipertuan Muda IV, antara lain adalah: (1) membantu Syarif Abdur Rahman al-Qadri memerangi Sanggau dari 24 Februari 1778 hingga 1 Maret 1778. Setelah berhasil, dia lalu melantik Syarif Abdur Rahman al-Qadri sebagai sultan pertama Kerajaan Pontianak (Abdullah, 2006); dan (2) mengadakan perjanjian-perjanjian dengan Belanda yang salah satu isinya berupa pembagian kapal asing hasil sitaan (Isnaeni. 2016).

Namun perjanjian-perjanjian tersebut tidak berjalan baik sehingga peperangan di antara keduanya tidak terhindarkan (Margana, 2016). Peperangan diawali 6 Januari 1784 ketika pasukan Belanda mendarat dan ingin menguasai Pulau Penyengat. Raja Haji berhasil menghalau sehingga Belanda terpaksa mundur ke Melaka tanggal 27 Januari 1784 (Isnaeni 2016). Tidak puas dengan kemenangan itu, pada 13 Februari 1784 Raja Haji bekerja sama dengan Sultan Selangor balik menggempur pasukan Belanda di Melaka.

Terdesak oleh pasukan gabungan tersebut pasukan Belanda segera meminta bantuan. Ada beberapa versi mengenai bala bantuan pasukan Belanda ketika diserang oleh Raja Haji dan Sultan Selangor. Versi pertama berasal dari Isnaeni (2016) dan Abdullah (2006), yang mengatakan bahwa pasukan Belanda di Malaka mendapat bantuan dari armana Jacob Pieter van Braam yang sedianya akan berlayar ke Maluku. Sedangkan versi lainnya dari Fathurrohman (2014) dan merdeka.com, mengatakan bahwa Belanda mendatangkan pasukan dari Pulau Jawa dalam jumlah besar.

Lepas dari berbagai versi di atas, dalam pertempuran yang meletus pada 18 Juni 1784, Raja Haji gugur bersama kurang lebih 500 orang pasukanya saat melakukan peperangan maritim di Teluk Ketapang (merdeka.com). Jenazahnya dimakamkan di Melaka. Beberapa dekade setelahnya, saat Raja Ja'afar (putera mahkota) diangkat sebagai Yang Dipertuan Muda, jenazah Raja Haji dipindahkan dari Melaka untuk selanjutnya dikebumikan di Pulau Penyengat Indrasakti (Sudrajat, 2016).

Sebagai catatan, semasa hidupnya Raja Haji banyak mendapat julukan atau gelaran, seperti: Engku Kelana (1747M-1777M), Pangeran Sutawijaya, Yang Dipertuan Muda Riau-Johor IV (177M-1784M), Raja Api1, Marhum Teluk Ketapang, Marhum Asy-Syahid Fisabilillah, dan yang terakhir sebagai Pahlawan Nasional Indonesia (memperoleh Bintang Mahaputera Adipradana tanggal 11 Agustus 1997) berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 72/TK/1997.

Untuk mengenang jasa, pihak pemerintah setempat (Provinsi Kepulauan Riau) mengabadikan namanya sebagai bandar udara di Tanjungpinang (Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah), serta membuatkan monumen setinggi sekitar 28 meter di daerah Tepi Laut yang berhadapan langsung dengan Pulau Penyengat. Selain itu, kemenangan Raja Haji Fisabililah atas Belanda di Pulau Penyengat (6 Januari 1784) ditetapkan pula menjadi hari jadi Kota Tanjungpinang. (ali gufron)

Foto: https://pahlawancenter.com/raja-haji-fisabilillah/
Sumber:
"Raja Haji Fisabilillah", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Raja_Haji_Fisabilillah, tanggal 19 Desember 2017.

Abdullah, Wan Mohd. Shaghir. 2006. "Raja Haji Pahlawan Teragung Nusantara", diakses dari http://ww1.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2006&dt=0612&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_01.htm, tanggal 19 Desember 2017.

Isnaini, Hendri. 2016. "Cerita Kumis Pahlawan Nasional Raja Haji Fisabilillah", diakses dari http://historia.id/persona/cerita-kumis-pahlawan-nasional-raja-haji-fisabilillah, tanggal 20 Desember 2017.

Dediarman. 2014. "Sejarah Kerajaan Riau-Lingga Kepulauan Riau", diakses dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkepri/2014/06/08/sejarah-kerajaan-riau-lingga-kepulauan-riau/, tanggal 20 Desember 2017.

Margana, Panjaitan. 2016. "Raja Haji Fisabilillah - Raja Kerajaan Melayu Riau", diakses dari http://sosok-tokoh.blogspot.co.id/2016/05/biografi-singkat-raja-haji-fisabilillah.html, tanggal 20 Desember 2017.

Fathurrohman, Muhamad Nurdin. 2014. "Biografi Raja Haji Fisabilillah - Pahlawan Nasional Indonesia", diakses dari https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.co.id/2014/02/Biografi-Raja-Haji-Fisabilillah-Pahlawan-Nasional-Indonesia.html, tanggal 20 Desember 2017.

"Raja Haji Fisabilillah", diakses dari https://www.merdeka.com/raja-haji-fisabilillah/profil/, tanggal 20 Desember 2017.

Sudrajat, Ajat. 2016. "Raja Haji Fisabilillah", diakses dari http://biografi-pahlawan-nasional-indonesia.blogspot.co.id/2016/01/raja-haji-fisabilillah.html, tanggal 20 Desember 2017.

1. Abdullah (2006), mengutip Tuhfat an-Nafis (Naskah Terengganu, hlm. 151) karangan Raja Ali Haji, menyatakan bahwa riwayat gelaran Raja Api diberikan oleh Belanda atas dasar kejadian aneh pada peti jenazah Raja Haji yang semula akan dibawa ke Betawi. Malam sebelum keberangkatan peti jenazah memancarkan cahaya menyerupai api yang membuat gaduh banyak orang. Di tengah kegaduhan, perahu yang sedianya akan membawa peti jenazah terbakar. Niat untuk membawa jenazah Raja Haji pun terpaksa diurungkan.

Popular Posts

-