Zulhaidar

Bila berbicara mengenai orkes Melayu di daerah Pesisir Barat, Lampung, nama Zulhaidar pasti akan selalu menjadi "trending topic" pembahasan. Dia adalah salah seorang seniman orkes Melayu yang tenar di awal tahun 1980 hingga 1990an. Orkes melayu adalah kelompok pemusik yang memainkan musik Melayu khas Pantai Timur Sumatera hingga semenanjung Melaka menggunakan alat musik berupa rebana, gambus, serunai, rebab, akordenon, gitar, bass, keyboard, drum, dan lain sebagainya.

Zulhaidar lahir pada tanggal 10 Februari 1969 di Way Suluh yang dahulu masih berada dalam wilayah Kabupaten Lampung Utara (sebelum dimekarkan menjadi Kabupaten Lampung Barat dan sekarang Kabupaten Pesisir Barat). Anak ketiga dari tujuh bersaudara ini lahir dari pasangan Maskur dan Maisuri. Saudara-saudara kandungnya adalah Yuzzir Riza, H. Herawati, Endi Mulyadi, Edwinsyah, Syahrianto, dan Yon Maryono.

Ayah Zulhaidar berprofesi sebagai seniman yang juga menjadi pemimpin Orkes Melayu Sinar Remaja. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila dalam diri Zulhaidar juga mengalir darah seni. Semenjak kecil, mungkin terbiasa melihat Sang ayah pentas bersama grup Sinar Remaja, Zulhaidar telah menunjukkan kreativitas seni dengan mengajak teman-teman di sekitar rumahnya membuat "grup tandingan".

"Grup tandingan" yang tidak diberi nama ini hampir secara rutin berlatih tiap pulang sekolah. Zulhaidar yang waktu itu bersekolah di Sekolah Dasar Negeri Way Suluh Lampung Utara ditunjuk oleh teman-temannya sebagai koordinator "grup tandingan". Berbekal kaleng dencis (kaleng bekas tiner, cat, atau susu), ember, panci yang diberi senar, dan sejumlah peralatan dapur lainnya sebagai instrumen, mereka berlatih di halaman belakang rumah Zulhaidar. Hasil latihan tentulah bukan sebuah ensembel musik yang enak didengar, melainkan ocehan ibu Zulhaidar (Maisuri) karena peralatan masaknya banyak yang rusak.

Merasa kasihan melihat Zulhaidar sering dimarahi oleh Maisuri, Maskur kemudian memberi sebuah gitar akustik agar bakat bermusiknya menjadi terarah. Tetapi, sebagaimana layaknya seniman tradisional, dia tidak memberi latihan khusus kepada Zulhaidar mengenai teknik bermain gitar. Zulhaidar diajari dengan cara mengajak ke berbagai pentas Grup Sinar Remaja di sekitar Pesisir Barat. Hasilnya, tentu saja dia dapat cepat menguasai sebagian instrumen musik yang dimainkan oleh personil Sinar Remaja.

Agar tidak terlihat "tradisional" dia "meng-upgrade" diri dengan membeli sejumlah buku panduan bermain gitar yang berisi sejumlah kunci grip dan tanda baca (not balok). Namun, hal ini tidak berpengaruh banyak karena ketika dianggap layak pentas oleh Sang ayah diberikan gitar jenis lain, yaitu gitar gambus Lampung. Gitar ini mirip seperti gambus dari daerah Timur Tengah, yaitu: (1) bersenar dobel (12 senar); (2) tidak memiliki fret atau garis tekan terbuat dari logam yang berfungsi sebagai kunci not; (3) gagang beserta resonatornya terbuat dari batang pohon nangka; dan (4) resonator dilapis kulit kambing muda agar suara yang dikeluarkan terdengar lebih lembut.

Bagi Zulhaidar yang waktu itu masih duduk di bangku kelas V SD, bermain gitar gambus jauh lebih sulit ketimbang gitar akustik. Sebab, gambus tidak memiliki fret sebagai tempat meletakkan jari-jemari pengatur nada. Dia harus mengandalkan "feeling" saat jari-jemarinya menyentuh string gambus. Kesulitan mendapatkan "feeling" yang pas inilah yang membuatnya beralih ke alat musik tabuh, yaitu gendang. Gendang relatif lebih mudah karena hanya sebagai alat pengatur tempo irama musik.

Minat Zulhaidar untuk kembali menekuni alat musik gitar terjadi ketika Sang ayah membeli sebuah gitar elektrik agar mendokrak penampilan Grup Sinar Remaja. Gitar yang lebih kaya nada dan distorsi ketimbang gitar akustik ini segera menyita perhatiannya. Setiap hari dia berlatih hingga mahir dan akhirnya ditunjuk sebagai pemain gitar melodi dalam Grup Sinar Remaja. Sebagai catatan, gitar melodi menempati posisi paling penting dalam orkes Melayu. Ia berperan sebagai pengatur tempo instrumen musik lain dan jalannya permainan. Jadi, apabila seseorang bertindak sebagai pemain gitar melodi, maka dia akan menjadi primadona panggung yang setara dengan penyanyinya.

Semenjak menggunakan gitar elektrik tersebut Grup Sinar Remaja mencapai puncak kejayaan. Jadwal pentas pun semakin bertambah padat. Menurut penuturan Zulhaidar, pada bulan-bulan tertentu Sinar Remaja pernah melakukan pentas selama 30 hari berturut-turut. Berbekal dua buah gerobak yang ditarik sapi untuk membawa peralatan (amplifier, accu, instrumen musik, toa, kabel) dan personel, Sinar Remaja tampil dari satu pekon ke pekon lainnya. Bahkan, tidak jarang mereka terpaksa menggunakan rakit untuk mencapai pekon-pekon yang belum dibuhungkan melalui jembatan.

Adapun durasi untuk sekali pentas dapat berlangsung antara 9 hingga 10 jam (mulai pukul 19.00--05.00 atau 06.00 WIB). Jumlah lagu yang dibawakan dapat mencapai puluhan buah bergantung pesanan penonton. Jenis lagunya bermacam-macam, mulai dari lagu-lagu berbahasa Lampung, dangdut Melayu, hingga lagu-lagu Sunda. Seluruhnya dibawakan non-stop segera setelah si empunya hajat (orang yang mengundang) menyampaikan sambutan pembuka.

Konsekuensi dari padat dan lama waktu pentas bagi Zulhaidar adalah terganggunya aktivitas bersekolah. Apabila jadwal pentas Sinar Remaja sangat padat misalnya, dia terpaksa membawa beberapa helai seragam sekolah karena setelah pentas harus pergi ke sekolah. Agar tidak mengantuk di kelas, sebelum berangkat Sang ayah "meracuni" dengan memberikan air kopi yang dicampur dengan garam. Begitu seterusnya hingga dia berhasil menamatkan pendidikan di SDN Way Wuluh, SMP Pembangunan Way Suluh, dan SMEA Lampung Utara (sekarang SMEA Muhammadiyah Krui).

Tamat dari SMEA Muhammadiyah Krui jurusan perdagangan sekitar awal tahun 1990 Zulhaidar mencoba menerapkan ilmu dengan berjualan gorengan. Hal ini dilakukan karena pamor Sinar Remaja mulai meredup dengan munculnya grup-grup orkes Melayu baru dan organ tunggal. Mereka umumnya menggunakan peralatan yang lebih canggih sehingga banyak dilirik orang. Selain itu, lagu-lagu yang ditampilkan bergenre lebih luas yaitu pop dan rock.

Untuk mensiasati agar tidak kalah bersaing dan tetap "dilirik" orang asli Lampung, Maskur mengubah nama Sinar Remaja menjadi Orkes Lampung Andah Muakhi. Andah berarti keinginan, sedangkan muakhi berarti persaudaraan. Jadi Andah Muakhi dapat diartikan sebagai "keinginan untuk menjalin ikatan persaudaraan antarorang Lampung". Namun, kata-kata yang agak etnosentris ini ternyata tidak dapat menolong eksistensi grup. Sinar Remaja atau Andah Muakhi akhirnya bubar. Setiap personel mencari jalan hidupnya masing-masing.

Zulhaidar memilih merantau mencari peruntungan di Tanah Jawa. Awalnya dia pergi ke daerah Ciwidey di Kabupaten Bandung. Kemudian pindah ke daerah Jelambar, Jakarta Barat, untuk bekerja sebagai karyawan di PT Dynaplast. PT Dynaplast merupakan perusahaan berskala multinasional yang memproduksi dan mendistribusikan plastik berkualitas tinggi untuk kemasan makanan, kosmetik, produk farmasi, bahan kimia dan pelupas, serta komponen plastik presisi bagi peralatan listrik rumah tangga, barang konsumsi, elektronik dan industri otomotif.

Selama menjadi karyawan Dynaplast praktis kegiatan bermusik Zulhaidar terhenti total. Tetapi dia mendapatkan pengalaman lain yang bakal dikenangnya sepanjang hidup. Pengalaman tersebut berkaitan dengan kisah cinta dengan dua orang gadis. Gadis pertama beretnis campuran Tionghoa-Jawa yang dipacari selama kurang lebih tiga tahun namun tidak berakhir dalam pelaminan. Sang gadis didesak oleh orang tuanya untuk segera menikah, sementara Zulhaidar belum siap dan masih ingin menikmati masa lajang.

Kisah cinta berikutnya terjadi setelah lepas dari gadis pertama. Waktu itu ada karyawati baru bernama May yang kebetulan satu sift (giliran kerja) dengan Zulhaidar. Oleh karena paras May alias Maemunah lumayan manis dan berasal dari sukubangsa yang sama (ulun Lampung Saibatin), timbullah ketertarikan Zulhaidar. Singkat cerita, mereka pun berpacaran dan akhirnya menikah. Buah dari pernikahan yang dilaksanakan sekitar tahun 1996 tersebut melahirkan seorang puteri dan dua orang putera, bernama: Riska Setiana, Reynaldi, dan Rama Yulian.

Sebelum menikah dengan Maemunah, sebenarnya Zulhaidar juga mendapat "pengalaman berharga" lain. "Pengalaman berharga" tersebut terjadi pada bulan Ramadhan tahun 1994. Waktu itu, mungkin karena kekurangan cairan akibat berpuasa Zulhaidar mengalami kondisi "blank" (pinjam istilah iklan air mineral Aqua) yang menyebabkan dirinya kurang berkonsentrasi. Akibatnya, ayunan cutter mesin pemotong plastik pun mengenai wajah terutama mata bagian kanan.

Zulhaidar langsung dilarikan ke ruang UGD Rumah Sakit Mata Aini di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Setelah didiagnosis, dokter menyatakan bahwa mata kanan Zulhaidar mengalami cedera yang cukup parah dan mengarah pada kebutaan sehingga harus segera dilakukan operasi. Adapun biayanya ditanggung oleh asuransi dari perusahaan karena kecelakaan terjadi pada saat Zulhaidar sedang melaksanakan tugas.

Selesai operasi yang berlangsung sekitar empat jam, Zulhaidar segera dibawa ke ruang perawatan. Di ruang perawatan tersebutlah dia merasa seperti "dipenjara". Selama kurang lebih 16 hari dia tidak boleh meninggalkan tempat tidurnya, walau hanya untuk membasuh muka. Jadi, selama kurun waktu tersebut segalanya dilakukan di atas tempat tidur, termasuk buang air kecil dan besar. Dokter yang merawat memaksa agar tidak banyak bergerak karena mata kanan yang terluka berhubungan langsung dengan bagian syaraf. Apabila banyak bergerak dikhawatirkan syaraf besar yang berada di belakang kepala akan mengalami gangguan.

Pulang dari rumah sakit dengan kondisi pengelihatan mata kanan hanya sekitar 70% Zulhaidar tetap melanjutkan pekerjaannya di PT. Dynaplast hingga menduduki jabatan sebagai Asisten Leadership (wakil mandor) serta menikahi Maemunah. Namun, jalan hidup memang sulit ditebak. Pada tahun 1998 ketika terjadi reformasi di Indonesia kehidupan masyarakat menjadi lebih sulit. Banyak orang terdampak dengan kenaikan harga kebutuhan pokok akibat krisis moneter (merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar). Sebagai rakyat kecil, Zulhaidar pun tidak luput dari dampaknya. Gaji yang hanya pas-pasan dirasa sudah tidak cukup lagi memenuhi kebutuhan hidup di Jakarta.

Setelah berpikir matang, Zulhaidar bersama Maemunah akhirnya memutuskan kembali ke kampung halaman dengan harapan dapat menyambung hidup dengan sokongan dari para kerabat. Singkat cerita, mereka pun pulang ke kampung halaman. Tiba di Pesisir Barat, mereka menuju rumah salah seorang kerabat di daerah Pugung karena tidak mendapat harta warisan dari orang tua. Dalam siitem kekerabatan masyarakat Saibatin Krui yang patrilineal-primogenitur, orang yang berhak mendapatkan harta waris adalah anak laki-laki pertama dalam keluarga. Zulhaidar adalah adak keempat dari tujuh bersaudara sehingga harta warisan sepenuhnya dikuasai oleh kakak sulungnya. Zulhaidar lebih memilih bergantung pada kerabat daripada meminta bagian yang secara adat dikuasai oleh kakak sulungnya.

Di pugung dia bekerja mengurus perkebunan kopi milik kerabat. Selain itu, dengan bekal sebuah pesawat televisi, pemutar video campact disc, dan puluhan video compact disc yang dibawa dari Jelambar diusahakannya sebagai ladang usaha. Setiap malam dia membuka "bioskop kecil" di rumah dengan mematof tarif sebesar Rp. 150,00 bagi orang yang ingin menonton film. Sementara Maemunah membuka warung kecil-kecilan untuk mensuplai kebutuhan para penonton.

Pekerjaan sebagai petani dan warungan dilakukannya hingga sekarang (kecuali membuka biskop kecil). Dia juga sesekali menggeluti profesi lamanya sebagai seniman dengan mengiringi Mamak Lawok pentas. Mamak Lawok adalah salah seorang seniman tradisi yang cukup ternama di Pesisir Barat. Tempat tinggal Mamak Lawok tidak begitu jauh dari rumah Zulhaidar sehingga keduanya sering berkolaborasi mementaskan sejumlah kesenian tradisional khas Pesisir Barat. Saat wawancara ini dilakukan Zulhaidar dan Mamak Lawok sedang berkolaborasi menciptakan sebuah lagu untuk dilombakan dalam Festival Cipta Lagu Pesisir Barat. (pepeng)

Foto: Basuki Indratno

Kampung Seni dan Wisata Manglayang

Di kaki Gunung Manglayang, tepatnya di Komplek Bumi Cinunuk Indah, Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, ada sebuah obyek wisata bernama Kampung Seni dan Wisata Manglayang. Untuk mencapainya relatif mudah karena hanya berjarak sekitar beberapa kilometer dari Jalan Raya Cinunuk. Bagi pengunjung yang datang dari arah Bandung atau Jakarta, agar tidak terhalang macet di bundaran Cibiru, dapat menggunakan jalan tol hingga keluar di gerbang tol Cileunyi lalu menuju Jalan Raya Cinunuk. Sesampai di Jalan Raya Cinunuk (setelah toserba Griya) berbelok ke kanan menuju Jalan Cijambe. Sekitar tiga kilometer menyusuri jalanan menanjak Cijambe inilah lokasi Kampung Seni dan Wisata Manglayang berada.

Sesuai dengan namanya, obyek wisata ini merupakan tempat untuk menikmati seni dan budaya Sunda dalam nuansa alam dan tradisi bersahaja (destinasibandung.co.id). Adalah H. Kawi dan isteri (Ria Dewi Fajaria) sebagai penggagasnya. Adapun tujuannya sebagai wadah bagi warga masyarakat sekitar dalam menyalurkan kemampuan berkesenian, khususnya kesenian Sunda (antarajabar.com).

Menurut citizenmagz.com, kehadiran Kampung Seni dan Wisata Manglayang Mandala Kasundaan Sarakan Paduritan bermula dari kecintaan Kawi pada seni tari Sunda. Kawi yang berprofesi sebagai Dosen Seni Tari di ISBI Bandung kemudian membangun sebuah panggung kecil di kebun miliknya untuk mengajarkan tarian pada anak-anak yang tinggal di sekitarnya. Lambat laun, karena digunakan juga untuk pertunjukan rutin yang menyedot penonton, pada tahun 2005 Kawi menyulap kebunnya menjadi obyek wisata.

Waktu itu, agar lebih "mengena" di hati masyarakat sekitar, sebagian besar pementasan diisi oleh alunan musik dangdut. Di sela-sela penampilan para pedangdut itulah Kawi menyisipkan kesenian Sunda (antarajabar.com). Secara perlahan namun pasti kesenian Sunda akhirnya menggantikan pentas musik dangdut. Adapun pementasannya sendiri menurut citizenmagz.com, dilakukan setiap pekan (malam minggu) dari pukul 20.00 WIB hingga tengah malam, dengan agenda: pekan pertama diisi oleh pertunjukan wayang golek, pekan kedua seni benjang; pekan ketiga ketuk tilu; dan pekan keempat menampilkan seni tradisional dan modern (pop Sunda).

Kegigihan Kawi dan isterinya dalam mewadahi, menghimpun, dan mengelola potensi seni dan budaya Sunda berujung manis. Dua tahun setelah dibuka, tepatnya pada 29 Agustus 2007 Kampung Seni dan Wisata Manglayang diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat kala itu, Danny Setiawan (tempointeraktif.com). Dan, karena diorganisir secara baik, tiga tahun setelah diresmikan langsung mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Barat sebagai kampung seni terbaik, sehingga ditetapkan sebagai Dewa Wisata Kabupaten Bandung pada 9 Februari 2011 (citizenmagz.com). Selain itu, mendapat penghargaan pula dari Museum Rekor Indonesia karena memiliki sekitar 500 buah permainan khas Indonesia (hellobandungku.com).

Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila setelah mendapat predikat sebagai kampung seni terbaik, Kampung Seni dan Wisata Manglayang banyak dikunjungi orang. Mereka tidak hanya berasal dari warga masyarakat sekitar, tetapi juga dari daerah lain di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera, Kalimantan, dan bahkan mancanegara (Afrika, Jepang, Amerika, Cina, Singapura, dan Malaysia) (pikiran-rakyat.com).

Fasilitas Kampung Seni dan Wisata Manglayang
Sebagai sebuah obyek wisata budaya yang berhasil mendapat sejumlah penghargaan, tentu saja memiliki beragam fasilitas yang cukup memadai. Fasilitas-fasilitas tersebut dibagi dalam empat bagian, yaitu religi dan agraris pada bagian atas, tempat berlatih kesenian pada bagian tengah, alam pada bagian samping, dan anak-anak pada bagian depan bawah (jalanjalanyuk.com). Seluruh fasilitas berupa balong atau kolam pemancingan, bangunan khusus untuk memelihara burung, kandang domba, sawah, tajug (mushola), leleson (tempat istirahat), leuit (lumbung padi), kamar kecil, panggung terbuka, dan saung berada dalam areal seluas 1,8 hektar yang dipenuhi oleh beragam tumbuhan (tangkil, lengkeng, bambu tali, asam, peuteuy, dan lain sebagainya) sehingga terlihat asri.

Khusus untuk bangunan saung, Kampung Seni dan Wisata Manglayang memiliki beberapa buah saung yang diberi nama sesuai dengan fungsinya. Saung-saung tersebut adalah: (1) Saung Binangkit, digunakan untuk menikmati hamparan padi di sawah; (2) Saung Wreti, berfungsi sebagai tempat penyimpan peralatan rumah tangga (gentong, kentongan, caping, boboko); (3) Saung Lisung, berfungsi sebagai tempat penyimpanan lisung atau alat penumbuk padi menjadi beras; (4) Saung Kamonesan, berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda budaya (topeng, wayang golek, lukisan); (5) Saung Riung, berfungsi sebagai tempat berkumpul para pengunjung; (6) Saung Lodang, berfungsi sebagai tempat penyimpanan peralatan kesenian; dan (7) Saung Tamba Hanaang, berfungsi sebagai tempat beristirahat yang menyediakan beragam makanan dan minuman seperti keripik singkong, ranginang, peuyeum, bengkerok hingga mie instan.

Sebagian fasilitas diperuntukkan bagi pertunjukan dan pelatihan kesenian serta arena permainan bagi pengunjung. Jadi, apabila ada pengunjung yang ingin melihat pertunjukan seni, tinggal menuju panggung terbuka di bagian tengah kampung wisata. Apabila ada yang ingin berlatih seni, juga dapat menuju ke bagian tengah atau ke saung-saung yang sedang mengadakan pelatihan benjang, pencak silat, gamelan, tari-tarian, dan karawitan. Begitu juga bila membawa anak untuk bermain, dapat menuju ke bagian tengah atau saung-saung yang menyimpan peralatan permainan. Adapun permainan yang ada di Kampung Seni dan Wisata Manglayang di antaranya adalah: egrang (berjalan menaiki potongan bambu), congklak, bebedilan, gasing kayu, lompat karet, sorodot gaplok, bebelotakan, dan lain sebagainya (destinasibandung.co.id).

Sebagai catatan, untuk dapat menikmati berbagai fasilitas tersebut pihak pengelola tidak mematok biaya apa pun alias gratis bagi pengunjung yang datang secara perorangan. Namun, bagi pengunjung yang datang dalam bentuk rombongan akan dikenakan sejumlah biaya berkenaan dengan materi yang akan ditampilkan, bergantung permintaan atau paket yang sudah ditetapkan pihak pengelola.

Kondisi Sekarang
Deskripsi di atas merupakan potret Kampung Seni dan Wisata Manglayang saat mencapai puncak "kejayaannya". Kondisinya sekarang cukup memprihatinkan (tidak terawat, kotor, dan beberapa saung telah dibongkar). Kampung seni ini hanya beroperasi selama lima tahun (sejak diresmikan oleh Danny Setiawan) sebelum ditutup oleh pemilik lahan pada akhir 2012 (jabar.tribunnews.com). Adapun penyebabnya, menurut citizenmagz.com dan jabar.tribunnews.com adalah karena kesibukan sang pemilik dalam bidang pendidikan seni tari serta melanjutkan pendidikan Strata 3 di Yogyakarta. Sementara menurut pesona-bandung.blogspot.co.id, disebabkan oleh tidak adanya agenda rutin pertunjukan. Hal inilah yang menyebabkan pengunjung rombongan harus melakukan reservasi terlebih dahulu agar pengelola dapat mempersiapkan jenis kesenian yang diminta. (ali gufron)


Foto: Pepeng
Sumber:
"Kampung Seni Wisata Manglayang Hadirkan Beragam Pertunjukan" diakses dari http://www. destinasibandung.co.id/kampung-seni-wisata-manglayang-hadirkan-beragam-pertunjukan.html, tanggal 27 Juni 2017.

"Kampung Seni Dan Wisata Manglayang Untuk Kesundaan", diakses dari http://www. antarajabar.com/berita/23159/kampung-seni-dan-wisata-manglayang-untuk-kesundaan, tanggal 27 Juni 2017.

"Kampung Seni Manglayang, Objek Wisata Seni yang Mulai Terabaikan", diakses dari http://citizenmagz. com/?p=4926, tanggal 27 Juni 2017.

"Wisata Masa Silam di Manglayang" diakses dari http://www.tempointeraktif.com/hg/per jalanan/2008/11/24/brk,20081124-147685,id.html, tanggal 28 Juni 2017.

"Desa Wisata Manglayang Cinunuk, Harta Karun Di Sudut Bandung", diakses dari http://hellobandungku.com/desa-wisata-manglayang-cinunuk-harta-karun-di-sudut-bandung/, tanggal 28 Juni 2017.

"Kampung Seni Dan Wisata Manglayang", diakses dari http://www.jalanjalanyuk.com/ kampung-seni-dan-wisata-manglayang/, tanggal 28 Juni 2017.

"Kampung Seni Manglayang Menarik Wisatawan Asing", diakses dari http://www.pikiran-rakyat.com/wisata/2012/02/29/178815/kampung-seni-manglayang-menarik-wisatawan-asing, tanggal 28 Juni 2017.

"Kampung Seni Manglayang", diakses dari http://pesona-bandung.blogspot.co.id/2012/04/ kampung-seni-manglayang.html, tanggal 29 Juni 2017.

"Kampung Seni dan Wisata Manglayang Sudah Lama Ditutup", diakses dari http://jabar. tribunnews.com/2015/02/27/kampung-seni-dan-wisata-manglayang-sudah-lama-ditutup, tanggal 1 Juli 2017.

Pudak Bebai

Pudak Bebai adalah satu dari 12 tupping Keratuan Darah Putih di Kabupaten Lampung Selatan. Sebelum menjadi bagian dari kesenian, Pudak Bebai dan sebelas tupping lainnya (yang masih asli) hanya boleh dikenakan oleh keturunan dari duabelas punggawa Keratuan Darah Putih karena dianggap sakral dan mempunyai kekuatan gaib tertentu. Adapun bentuk Pudak Bebai sendiri menyerupai muka seorang perempuan yang bertugas di Tanjung Selaki dan dikenakan oleh Kakhya Bangsa Saka (Desa Ruang Tengah).

Sedangkan ke-sebelas tupping lainnya, adalah: (1) Ikhung Cungak atau berhidung mendongak yang bertugas di Tanjung Tua (Tupai Tanoh) dan dikenakan oleh Kakhya Khadin Patih (Desa Kuripan); (2) Ikhung Tebak atau berhidung melintang yang bertugas di Gunung Rajabasa (Buai Tambal) dan dikenakan oleh Kakhya Jaksa (Desa Kuripan); (3) Luakh Takhing bertugas di Anjak Kekhatuan Mit Matakhani dan dikenakan oleh Kakhya Menanti Khatu (Desa Kuripan); (4) Jangguk Khawing atau berjanggut pankang, bertugas di Seragi sampai Way Sekampung dan dikenakan oleh Kakhya Jaga Pati (Desa Kekiling); (5) banguk Khabit atau bermulut sompel, bertugas di Gunung Cukkih Selat Sunda dan dikenakan oleh Kakhya Yuda Negara (Desa Kekiling); (6) Bekhak Banguk atau bermulut lebar, bertugas di Kekiling Gunung dan dikenakan oleh Kakhya Jaga Pamuk (Desa Ruang Tengah); (7) Mata Sipit, bertugas di Batu Payung dan dikenakan oleh Temunggung Agung Khaja (Desa Ruang Tengah); (8) Banguk Kicut atau bermulut mengot, dipakai oleh Ngabihi Paksi (Desa Ruang Tengah); (9) Mata Kadugok atau mata mengantuk, bertugas di Anjak Kekhautan Tugok Matahani Minjak dan dikenakan oleh Kakhya Sangunda (Desa Tetaan); (10) Matta Kiccong, betugas di Tuku Tiga dan dikenakan oleh Kakhya Kiyai Sebuah (Desa Tetaan); dan Ikhung Pisek atau hidung pesek, bertugas di Sumokh Kucing dan dikenakan oleh Khaja Temunggung (Desa Tetaan).

Berikut adalah rupa tupping Pudak Bebai dalam bentuk tugu atau monumen yang di buat dalam rangka ikut memeriahkan Festival Krakatau 2016. Dalam rangkaian festival tersebut Kabupaten Lampung Selatan mengusung 12 tupping Keratuan Darah Putih pada parade budaya adat.






Nayuh

Nayuh adalah acara adat yang umumnya dilakukan oleh suatu keluarga besar ulun Lampung Saibatin ketika akan mengadakan khitanan, mendirikan rumah, pernikahan, dan lain sebagainya. Tujuan nayuh adalah untuk merundingkan dan mempersiapkan segala keperluan guna melangsungkan suatu upacara secara bersama-sama dalam sebuah keluarga besar. Jadi, sebelum upacara dilangsungkan seperti khitanan atau pernikahan, pihak keluarga besar akan bermusyawarah menyiapkan berbagai peralatan dan perlengkapannya, seperti: tandang bulung, kecambi, nyami buek, nyekhallai siwok, khambah babukha sappai di begalai, setukhuk (bahan-bahan mentah untuk dibuat penganan dan makanan), ngejappang (makanan yang sudah dimasak dan siap untuk dihidangkan), dan lain sebagainya.

Khusus untuk upacara pernikahan, selain barang-barang tersebut di atas, pihak keluarga besar juga akan memusyawarahkan barang-barang yang harus disediakan oleh calon mempelai laki-laki yang oleh orang Lampung Saibatin disebut himpun. Himpun ini nantinya akan dipertunjukan bersama dengan perangkat adat lain seperti pakaian adat di lamban dan di bah (arak-arakan) yang disesuaikan dengan adok atau status sosialnya dalam masyarakat.

Aksara Lampung

Bahasa Lampung termasuk dalam cabang Sundik dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia. Adapun penuturnya adalah Ulun Lampung yang mendiami Provinsi Lampung dan sebagian di selatan Palembang serta pantai Barat Provinsi Banten. Menurut adatistiadatlpg.blogspot.co.id, rumpun bahasa Lampung dibagi menjadi tiga, yaitu: bahasa Komering, bahasa Lampung dialek Belalau (Api), dan bahasa Lampung dialek abung (Nyo).

Dialek Belalau, Abung, maupun Komering sama-sama memiliki aksara yang ada hubungannya dengan aksara Palawa atau Dewdatt Deva Nagari dari India Selatan yang diperkirakan masuk ke Pulau Sumatera semasa kejayaan Kerajaan Sriwijaya (700-1300). Selain dengan aksara Palawa, bentuk aksara (had) Lampung juga mirip dengan aksara Reuncong (Aceh), Rejang (Bengkulu), dan aksara Bugis. Aksara ini terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda, gugusan konsonan, lambang, angka, dan tanda baca. Aksara Lampung disebut dengan istilah Ka-Ga-Nga serta ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan. Jumlahnya ada 20 buah, yaitu: ka–ga–nga–pa–ba–ma–ta–da–na–ca–ja–nya–ya–a –la–ra–sa–wa–ha–gha (http://indahlampungku.blogspot.co.id).

Menurut irfanmovick.blogspot.com, istilah kaganga diciptakan untuk mengelompokkan aksara Rejang, Lampung, dan Rencong (Kerinci). Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Mervyin A. Jaspan, antropolog dari University of Hull (Inggris) dalam buku Folk Literature of South Sumatra, Redjang Ka-Ga-Nga Texts. Sementara masyarakat Lampung sendiri menggunakan Surat Ulu atau Surat Ogan untuk mengistilahkan had Lampung.

Struktur fonetiknya (vokal dan diftong) merupakan huruf hidup seperti dalam aksara Arab, dengan menggunakan tanda-tanda fathah di baris atas dan tanda-tanda kasrah di baris bawah, tetapi tidak memakai tanda dammah di baris depan, melainkan menggunakan tanda di belakang (adatistiadatlpg.blogspot.co.id). Masing-masing tanda (anak huruf) mempunyai nama tersendiri yang jumlahnya ada 12 buah. Anak huruf yang terletak di bagian atas terdiri atas ulan, bicek, tekelubang (ang), rerenjung (ar), datas (an). Anak huruf di bagian bawah terdiri atas bitan dan tekelungau (au). Dan, anak huruf yang terletak di belakang huruf induk terdiri atas tekelingai (ai), keleniah (ah), dan nengen (tanda huruf mati).

Anak huruf yang terletak dibagian atas yaitu ulan berbentuk setengah lingkaran kecil yang terletak di atas huruf induk. Ulan terdiri dari dua macam: ulan yang menghadap ke atas melambangkan bunyi [i], sedangkan ulan yang menghadap ke bawah melambangkan bunyi [e]. Anak huruf bicek berbentuk garis tegak yang terletak di atas induh huruf. Bicek melambangkan bunyi [e]. Anak huruf terkelubang berbentuk garis mendatar (seperti tanda hubung dalam ejaan bahasa Indonesia) yang melambangkan bunyi [ng]. Anak huruf rejenjung berbentuk menyerupai angka empat dan melambangkan huruf [r]. Anak huruf datas berbentuk mirip seperti tanda hubung dalam ejaan bahasa Indonesia yang melambangkan bunyi [n] (www.kotametro.com).

Sementara anak huruf yang terletak di bawah huruf yaitu bintan yang berbentuk garis pendek mendatar melambangkan bunyi [u] dan garis tegak melambangkan bunyi [o]; serta tekelungau berbentuk setengah lingkaran kecil yang melambangkan bunyi [au]. Sedangkan anak huruf yang terletak di kanan induk huruf adalah anak huruf tekelingan yang berbentuk tegak lurus dan melambangkan bunyi [ai]; anak huruf keleniah yang berbentuk seperti huruf ha dan melambangkan bunyi [h]; serta anak huruf nengen berbentuk garis miring yang melambangkan sebagai huruf mati (www.kotametro.com).

Mengenai huruf "r" [ra], ada perbedaan pendapat di antara orang Lampung sendiri. Perbedaan ini umumnya dikaitkan dengan masalah penulisan huruf 'r' menjadi 'kh' atau 'gh'. Udo Z. Karzi (2008), seorang penyair terkenal asal Liwa, menyatakan bahwa ada beberapa literatur yang memakai 'r' dan bukan 'ch', 'kh', atau 'gh' diantaranya: (1) H. N. van der Tuuk, “Het Lampongsch en Zijne Tongvallen”, TBG (Tijdschrift Bataviaasch Genootschap), deel 18, 1872, pp. 118-156; C. A. van Ophuijsen, “Lampongsche Dwerghert-Verhalen”, BKI (Bijdragen Koninklijk Instituut), deel 46, 1896, pp. 109-142; (2) Dale Franklin Walker, “A Grammar of the Lampung Language”, Ph.D. Thesis, Cornell University, 1973; (3) Junaiyah H.M. dkk dalam Pedahuluan untuk Kamus Bahasa Lampung-Indonesia(diterbitkan Balai Pustaka, Jakarta, 2001, hlm. 3) menulis: "... huruf gh dibaca seperti huruf ghain dalam bahasa Arab ditandai dengan penanda bunyi /R/. Hal ini dilakukan demi kemudahan penulisan, misalnya, ghedak /Reda'/."; (4) Aksara Lampung yang 19 huruf, dari ka-ga-nga sampai ra-sa-wa-ha, dibahas oleh Prof. Karel Frederik Holle, Tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten (Batavia, 1882), dan meskipun selintas disinggung juga oleh Prof. Johannes Gijsbertus de Casparis, Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia (Leiden, 1975); (5) William Marsden dalam buku Sejarah Sumatra terbitan Komunitas Bambu, 2008 hlm. 190, menyebutkan susunan alfabet Lampung, yaitu ka ga nga pa ba ma ta da na cha ja nya ya a la ra sa waha (19 huruf); dan (6) Moehamad Noeh dalam buku Pelajaran Membaca dan Menulis Huruf Lampung (Dinas Pendidikan danKebudayaan Lampung, 1971) hlm. 4 menyebutkan banyak huruf kuno Lampung—disebut huruf Basaja karena kalau huruf itu berdiri sendiri dia mengandung bunyi a—ada19 buah. Banyak huruf tulisan sekarang ada 19 buah ditambah dengan huruf gha jadi 20 buah. Urutan huruf Lampung adalah ka ga nga pa ba ma ta da na ca ja nyaya a la ra sa wa ha gha.

Pendapat Udo Z. Karzi mengenai pemakaian ejaan 'r' yang argumennya didasarkan oleh beberapa akademisi ini disanggah oleh Natakembahang (2014). Menurutnya, Udo justru terjebak pada klaim sepihak tentang pembenaran penggunaan huruf 'r' sebagai satu-satunya yang sah dalam penulisan huruf Lampung pada kosakata berlafal 'kh' dan 'gh'. Padahal, sejak era kolonial yang berarti sebelum EYD digunakan pada medio 1972, justru telah dikenal penggunaan 'ch' sebagai penulisan kosakata yang berlafal 'kh'.

Selanjutnya, Natakembahang (2014) juga mengemukakan beberapa alasan mengapa huruf 'r' tidak bisa menggantikan kosakatan Lampung yang berlafal 'kh' atau 'gh'. Pertama, huruf Lampung saat ini terdiri dari dua puluh buah (ka, ga, nga, pa, ba, ma, ta, da, na, ca, ja, nya, ya, a, la, ra, sa, wa, ha, gha/kha) sehingga jelas bahwa ra dan gha/kha adalah dua huruf yang berbeda dan peruntukannya disesuaikan dengan kosakata yang akan ditulis, karena jika tidak dibedakan maka pembaca khususnya yang bukan penutur bahasa Lampung akan mengalami kegalatan dalam membedakan huruf 'r' yang dibaca 'r' dengan huruf 'r' yang dibaca 'kh/gh'.

Kedua, komparasi yang tepat dan ideal dalam menggambarkan penggunaan lafal kh dan gh adalah seperti kho dan ghin dalam huruf Arab. Dalam penulisan aksara Arab juga dalam penulisan latinnya, kosakata yang menggunakan huruf 'kho' atau 'ghin' tidak lantas ditulis atau diganti dengan huruf 'r' [ra] karena arti dan maknanya berbeda, hal yang tentunya berlaku juga dalam penulisan kosakata Lampung. Sebab, pelafalan 'kho' dalam huruf Arab sama persis seperti pelafalan 'kh' pada mayoritas penutur bahasa Lampung yang berdialek Belalau (api), sementara pelafalan 'ghin' persis sama seperti pelafalan 'gh' pada penutur bahasa Lampung berdialek Abung (nyo).

Ketiga, penulisan 'kh/gh' yang berlafal sama lebih lazim digunakan ketimbang digantikan atau ditulis dengan huruf 'r'. Berbagai media penulisan teks berbahasa Lampung menggunakan penulisan kh/gh, mulai dari kehidupan sehari-hari seperti saat menulis di sms dan media sosial hingga yang relatif formal dan baku seperti penulisan naskah pidato di pemerintah daerah, hingga buku-buku pelajaran bahasa Lampung dan kamus bahasa Lampung. Hal tersebut membuktikan bahwa secara empiris penulisan kh/gh jauh lebih lazim digunakan sehari-hari hingga untuk kebutuhan yang lebih formal oleh penutur bahasa Lampung secara de facto ketimbang ditulis dengan huruf 'r'.

Keempat, dalam bahasa Indonesia dikenal beberapa konsonan atau gabungn huruf, masing-masing adalah ng, ny, sy, dan hk. Hal ini jelas membuktikan bahwa penggunaan kh adalah sesuai dengan tata bahasa Indonesia. Bahkan, pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terdapat beberapa kosakata yang menggunakan konsonan kh. Ini menjelaskan bahwa KBBI juga mengakomodir penulisan kh dalam kosakata yang berlafal sama dan tidak menuliskannya dengan huruf r, h, k, atau g. Pelafalan kh seperti pada kosakata yang terdapat dalam KBBI adalah persis sama dengan pelafalan kh pada sebagian besar penutur dialek Belalau (Api).

Sumber:
"Bahasa Lampung", diakses dari http://indahlampungku.blogspot.co.id/p/bahasa_11.html, tanggal 9 Mei 2016.

"Bahasa Lampung dan Aksara Lampung", diakses dari http://adatistiadatlpg. blogspot.co.id/2015/05/bahasa-lampung-dan-aksara-lampung.html, tanggal 9 Mei 2016.

"Mengenal Huruf Sunda Kaganga", diakses dari http://irfanimovick.blogspot.com/2009 /10/mengenal-huruf-sunda-kaganga.html, tanggal 20 Mei 2016.

"Aksara Lampung dan Tanda Bacanya (Huruf Induk dan Anak Huruf)", diakses dari http://www.kotametro.com/aksara-lampung-dan-tanda-bacanya-huruf-induk-dan-anak-huruf.html, tanggal 21 Mei 2016.

Karzi, Udo. Z. 2008. "Bingkai: Peta Bahasa- Budaya Lampung. Lampung Post, Minggu 23 Maret 2008.

Natakembahang, Diandra. 2014. Perdebatan Penggunaan Kh dan Gh dalam Penulisan Kota Kata Lampung. Lampung Ekspres Plus 15 Januari 2014.

Gang PU, Sentra Produksi Keripik Lampung

Bagi warga Bandarlampung, apabila mendengar nama Gang PU tentu yang terlintas di benak adalah sebuah jalan dengan sisi kiri dan kanannya dipenuhi oleh toko-toko penjual penganan tradisional berupa aneka keripik terbuat dari pisang, ketela, salak, tales, nangka, dan sukun dengan berbagai macam variasi rasa, seperti: asin, manis, jagung bakar, balado, sapi panggang, stroberry, melon, cokelat, vanila, asam manis, keju, moka, dan cokelat kacang.

Gang PU adalah sebutan lain dari Jalan Pagar Alam yang terletak di Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Kedaton, Kota Bandarlampung (Putranto, 2014). Untuk mencapainya, bila dari Tanjungkarang melalui Jalan Teuku Umar hingga tiba di sebuah pertigaan Jalur dua Sultan Agung. Sebagai identitas "Gang PU", terdapat gapura besar bertuliskan "Selamat Datang Di Kawasan Sentra Industri Keripik Kota Bandar Lampung" berikut logo Kota Bandarlampung dan PT Perkebunan Nasional VII (PTPN VII).

Awalnya, Gang PU hanyalah sebuah jalan kecil yang relatif sepi dan gelap gulita bila hari berganti malam. Adalah seorang bernama Sucipto Adi yang kemudian membuat gang ini menjadi sentra produksi keripik sekaligus lokasi belanja bagi wisatawan. Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 25 Oktober 1966 ini dahulu hanyalah seorang buruh bangunan lepas dengan upah sebesar Rp.10.000,- per hari. Oleh karena desakan ekonomi, pada tahun 1996 dia berusaha mencari usaha lain agar dapat menghidupi keluarganya, yaitu dengan menjual keripik singkong (Oktavia, 2017).

Berbekal uang hasil tabungan sejumlah Rp.350.000,- Sucipto Adi membeli sebuah gerobak dorong serta bahan baku pembuat keripik. Dengan gerobak dorong tersebut dia berjualan di Pasar Bambu Kuning yang berjarak sekitar lima kilometer dari rumahnya. Apabila stok keripik masih tersisa, dalam perjalanan pulang dia juga menyusuri gang-gang kecil untuk mencari pembeli.

Dalam waktu tidak berapa lama, usaha Sucipto Adi berkembang pesat dengan memiliki sekitar 50 orang pelanggan. Agar dapat memenuhi kebutuhan para pelanggannya yang semakin hari bertambah banyak, dia lalu mengajak lima orang tetangganya mengembangkan usaha serupa. Bersama-sama mereka mengembangkan usaha keripik singkong tidak hanya untuk kebutuhan para pelanggan Sucipto Adi, melainkan juga dipasarkan ke sejumlah warung dan kantin terdekat.

Seiring waktu, timbullah inovasi dari para pedagang keripik Gang PU yaitu penggunaan bahan baku baru berupa pisang jenis kepok Manado. Menurut Prasetyo (2015), penggunaan pisang sebagai bahan baku berawal pada sekitar tahun 2003 ketika salah seorang penjaja bernama Harianto iseng-iseng membuat keripik pisang dengan rasa asin dan manis. Sementara menurut Oktavia (2017), Sucipto Adilah yang pertama kali memproduksinya sekitar tahun 2000. Walhasil, peminat pun semakin bertambah. Bahkan, mereka cenderung mencari keripik pisang ketimbang keripik singkong.

Pertambahan jumlah peminat diikuti pula oleh pertambahan jumlah produsen keripik. Oleh karena itu, atas prakarsa Sucipto Adi dibentuklah Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang diberi nama Telo Rejeki pada tahun 2006. Adapun tujuannya adalah agar kawasan Gang PU menjadi sentra keripik sehingga para produsen tidak perlu lagi berkeliling menjajakan dagangannya (Oktavia, 2017).

Satu tahun kemudian, atau tepatnya tanggal 2 Februari 2007 keberadaan KUB Telo Rezeki yang hanya berizin lurah dan camat, diakui dan diresmikan oleh Dinas Perindustrian Kota Bandarlampung dengan jumlah anggota 11 UMKM. Setelah mendapat legalitas formal tersebut, konsekuensi logisnya tentu saja anggota KUB Telo Rezeki mendapat pembinaan dari Dinas Perindustrian tentang pengelolaan usaha mikro, kecil, dan menengah, bagaimana cara produksi, pengemasan, bantuan permodalan, peralatan produksi, serta pelaksanaan sertifikasi produk.

Selain bekerja sama dengan Dinas Perindustrian, Sucipto Adi yang ditunjuk sebagai ketua KUB Telo Rezeki juga menjalin hubungan dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII, salah satu BUMN pembina program kemitraan dengan UMKM di Provinsi Lampung. Dari kerja sama ini KUB Telo Rezeki mendapat dukungan promosi berupa keikutsertaan dalam pameran-pameran baik di dalam maupun luar daerah Lampung. PTPN VII juga memberi pembinaan berupa peningkatan pengetahuan atau wawasan pengusaha terhadap pengelolaan manajerial, pengemasan yang baik, dan teknik produksi melalui pelatihan-pelatihan maupun seminar sehingga jumlah anggota KUB Telo Rezeki menjadi bertambah banyak.

Akhirnya, sebagai wujud dari berkembangnya Gang PU menjadi kawasan sentra industri keripik, Dinas Perindustrian dan PTPN VII membuat sebuah gapura dengan tujuan agar masyarakat mengenal gang ini (Jalan Pagar Alam) sebagai sentra penjualan sekaligus pusat pembuatan keripik di Kota Bandarlampung. Dan, semenjak berdirinya gapura jumlah produsen keripik kian bertambah. Tercatat, ada sekitar 200 orang yang bekerja sebagai karyawan di 48 kios anggota KUB Telo Rezeki. Sementara Sucipto Adi sendiri yang merupakan pelopor Telo Rezeki sempat mendapat beberapa penghargaan, di antaranya: Sidakarya dari Dinas Ketenagakerjaan Lampung tahun 2012 dan Ovop Bintang 3 dari Kementerian Perindustrian tahun 2013 dan 2015. (ali gufron)

Foto: http://tapisjakarta.blogspot.co.id/2015/12/sentra-panganan-keripik-kota-bandar.html
Sumber:
Oktavia, Vina. 2017. "Sucipto Adi Menyulap Gang Gelap menjadi Kampung Keripik", diakses dari http://regional.kompas.com/read/2017/01/18/11110051/sucipto.adi.menyulap. gang.gelap.menjadi.kampung.keripik, tanggal 28 April 2017.

Prasetyo, Heru. 2015. "Gang PU, Surganya Keripik Pisang Aneka Rasa Khas Lampung", diakses dari http://lampung.tribunnews.com/2015/06/16/gang-pu-surganya-keripik-pisang-aneka-rasa-khas-lampung?page=2, tanggal 28 April 2017.

Putranto, Angger. 2014. "Jangan Tersesat di Gang PU!", diakses dari http://travel.kompas. com/read/2014/08/01/101500227/Jangan.Tersesat.di.Gang.PU., tanggal 10 Mei 2017.

Kabing Enau dan Rotan Muda

Batang rotan tidak hanya digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan suatu kerajinan, seperti kursi, meja, keranjang, piring, nampan, tudung saji, penggebuk kasur, tas, mainan anak dan lain sebagainya. Di daerah Lampung Barat misalnya, batang rotan atau biasa disebut kabing rotan juga digunakan sebagai bahan pembuat sayuran. Bersama dengan kabin enau, kabin rotan yang masih muda diolah sedemikian rupa untuk disajikan sebagai makanan dalam berbagai upacara adat.

Adapun cara membuatnya, mula-mula dengan mencari kabing rotan yang masih muda serta kabing enau yang sudah tua. Selanjutnya, kabing rotan dan enau yang telah dipilih diiris tipis lalu direndam dalam air selama satu hingga dua jam. Tujuan perendaman adalah agar getah dari kedua kabing atau batang tersebut menjadi luntur dan larut dalam air.

Bila getah telah larut, irisan kabing dibilas hingga bersih kemudian dicampur dengan santan kelapa dan berbagai macam bumbu dapur untuk dijadikan sebagai masakan. Konon, masakan yang berupa sayuran ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan diyakini dapat mengobati berbagai macam penyakit. (gufron)

Popular Posts

-