Firman Muntaco

Riwayat Singkat
Firman Muntaco adalah salah seorang dari segelintir tokoh Betawi yang tidak hanya berkarya melalui ribuan puisi dan cerpen, tetapi juga penulisan skenario film dan syair-syair lagu. Sebagai seorang sastrawan, hampir seluruh hidup Firman Muntaco didedikasikan untuk memajukan etnisnya dengan cara membuat cerpen berdialek Betawi sejak tahun 1960-an. Menurut majalahbetawi.com, karya sastra Firman mencapai sekitar 5.000 buah. Namun yang sempat tercatat di pusat dokumentasi HB Jassin hanya sekitar 499 buah.

Firman Muntaco lahir di Petojo Sabangan, Jakarta, pada tanggal 5 Mei 1935. Dia adalah sulung dari lima bersaudara, tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Sang Ayah (Haji Muntaco) berprofesi sebagai eksportir tembakau dan pemilik pabrik susu yang berlokasi di bilangan Slipi, Jakarta Barat (esosastra.wordpress.com). Apabila melihat dari profesi H. Muntaco, maka kehidupan keluarganya termasuk dalam golongan masyarakat Betawi kelas menengah atas. Oleh karena itu Firman dan saudara-saudaranya relatif mudah mendapatkan akses, terutama dalam hal pendidikan yang waktu itu masih jarang dinikmati orang kebanyakan.

Firman kecil mulai menempuh pendidikan formalnya di Hollandsch Inlandsche School (HIS). Kemudian melanjutkan ke Sekolah Rakyat PUSO, SMA Bagian B, Akademi Pendidikan Kejuruan (APK) jurusan Publisistik dari tahun 1955 hingga 1957 (tidak selesai), dan Pendidikan Penulisan Skenario Kino Film di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta dari tahun 1977 hingga 1978 (juga tidak selesai). Sementara pendidikan non-formal yang diikuti diantaranya adalah: kursus bermain piano pada B.A Soekirno, kursus bermain biola pada Thio Bun Siat, dan belajar mengaji pada Guru Zakaria di Tanah Abang (Nurhazizah, 2015).

Ketertarikan Firman pada kesusastraan bermula ketika dia sering membaca buku-buku sastra terbitan Balai Pustaka. Salah satu buku di antaranya adalah novel Si Doel Anak Betawi yang ditulis oleh Aman Dato Madjoindo. Menurut Nurhazizah (2015), novel inilah yang memberi pengaruh besar pada diri Firman Muntaco untuk menulis sastra terutama yang berkaitan dengan etnisnya sendiri, yaitu Betawi.

Firman Muntaco memulai karya dalam bidang sastra ketika masih di bangku SMA dengan menulis puisi yang dikirimkan ke beberapa surat kabar. Selanjutnya, mengikuti maraknya surat kabar yang memuat cerita pendek (cerpen), Firman pun mencoba ikut menulis cerpen. Adapun cerpen pertamanya yang berhasil dimuat di surat kabar diberi judul Seikat Bunga Anyelir. Cerpen ini dimuat di Star Weekly pada bulan September 1955. Tahun berikutnya, cerpennya yang berjudul Lagu Malam dimuat di Aneka Juni 1956 (Suryana, 2013).

Eksistensi Firman dalam dunia kepenyairan mulai terlihat setelah bekerja di Berita Minggu, mulai sebagai penulis reportasi, pengasuh rubrik, hingga menjabat pemimpin redaksi Berita Minggu Muda (Suryana, 2013). Salah satu rubrik yang diasuhnya bertajuk Tjermin Djakarte dari tahun 1956-1964 merupakan titik pangkal inovasinya dalam penulisan cerita berbahasa Melayu Betawi. Di rubrik yang kemudian beralih nama menjadi Gambang Djakarte ini, secara tetap tulisan Firman Muntaco muncul setiap minggunya (ensiklopedia.kemdikbud.go.id). Menurut sanggarbetawifm.blogspot.co.id, dalam tulisan-tulisan tersebut Firman menggunakan dialek Melayu Betawi dengan gaya yang sangat bebas sehingga banyak dibaca orang dan sanggup menaikkan tiras hingga mencapai 40.000-an eksemplar. Adapun isi tulisan-tulisannya berupa cerita pendek yang diangkat dari kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi dalam bentuk humor berdialek Betawi yang ditulis tidak hanya sebagai bahasa cakapan para tokohnya, tetapi hampir pada seluruh bagian ceritanya.

Gaya bahasa Firman ini tetap dipertahankan walau surat kabar Berita Minggu dibredel pemerintah pada pertengahan tahun 1965 karena dianggap dekat dengan kaum nasionalis pendukung Soekarno. Dia tetap menulis dan mempublikasikan cerpen pada sejumlah media cetak, seperti: Buana Minggu, tabloid Mutiara, dan majalah Humor. Bahkan, pada tahun 1969 dia sempat mengikuti sayembara dan memperoleh penghargaan dari Pemerintah Daerah DKI Jakarta sebagai pemenang pertama lomba penulisan cerpen mengenai Betawi (Suryana, 2013).

Sebagai catatan, selain cerpen Firman Muntaco juga menulis cerita silat bersambung gaya Betawi, dengan judul antara lain: Si Buntung Ditantang, Ngamuknya Seorang Algojo, Si Botak Jagoan Nyentrik, Bubarnya Garong-garong Jelambar, dan Juragan Lenong dari Pasar Ikan. Seluruh cerita silat tadi dikemas dalam dialek Melayu Betawi sebagai media ekspresinya. Menurut id.wikipedia,org, dialek Betawi yang digunakan Firman memiliki keunggulan dan kekuatan untuk menyampaikan ide-ide sastra dengan cara yang luar biasa, mengagetkan, dan ada kalanya berkilauan.

Berkat kepiawaiannya dalam menulis gaya Betawi yang memikat banyak orang, beberapa karya Firman pun sempat diubah menjadi naskah sandiwara dan film, yaitu Satu Kali Satu dan Ratu Amplop. Satu Kali Satu dikembangkan menjadi film berjudul Musuh Bebuyutan (1974) yang dibintangi oleh Benyamin S (Suryana, 2013). Sementara Ratu Amplop (berbentuk naskah sandiwara), difilmkan dengan judul sama yang disutradarai oleh Nawi Ismail dan diperankan oleh Benyamin S dan Ratmi B-29 (ensiklopedia.kemdikbud.go.id). Sedangkan cerpen-cerpen lainnya (yang terdokumentasi) dibukukan menjadi Gambang Djakarte 1 (1960) dan Gambang Djakarte 2 (1963) (keduanya diterbitkan ulang tahun 2006) (id.wikipedia.org).

Pada perkembangan selanjutnya Firman Muntaco tidak hanya berkiprah di ranah kesusastraaan dalam melestarikan kebudayaan Betawi. Dia juga menunjukkan kepedulian dengan mendirikan "Surilang Group", sebuah Sanggar Seni dan Sandiwara guna melestarikan kesenian Betawi yang mulai berkurang intensitasnya, seperti samrah, rebana, gambang kromong, lenong, dan lain sebagainya (Nurhazizah, 2015).

Selain itu, dia juga terlibat dalam kepengurusan Lembaga Kebudayaan Betawi dengan posisi sebagai Ketua Harian. Posisi ini (Ketua Harian Lembaga Kebudayaan Betawi dan pendiri Surilang Group) membuat Firman acap berhubungan dengan TVRI Stasiun Pusat Jakarta yang waktu itu sedang gencar mengangkat masalah budaya. Selanjutnya, agar lebih memudahkan dalam bekerja sama dia diberi posisi sebagai Koordinator Paket Siaran Budaya Betawi yang akan disalurkan melalui acara Cakrawala Budaya Nusantara, Taman Bhinneka Tunggal Ika, Sandiwara (tradisional), Nusantara Menyanyi, dan Nusantara Menari sejak tahun 1977 (sanggarbetawifm.blogspot.co.id).

Berkat kerja sama dengan TVRI pula sanggar seni Surilang Group hingga tahun 1991 telah tampil setidaknya hingga 50 kali. Ketika sedang tidak on air di TVRI, mereka kerap tampil di Taman Mini Indonesia Indah, Pasar Seni Ancol, Taman Ismail Marzuki, dan sejumlah hotel di Jakarta. Di sela-sela aktivitas tersebut Firman Muntaco masih menyempatkan diri mengisi sejumlah seminar hingga menjadi pemimpin musik pengiring Teater Mama. Dan, oleh karena kepedulian dalam melestarikan seni budaya Betawi tersebut Firman kemudian diberi penghargaan oleh Universitas Jakarta tahun 1991 (Nurhazizah, 2015).

Saat meraih penghargaan dari Universitas Jakarta sebenarnya aktivitas Firman Muntaco mulai menurun karena terserang stroke pada sekitar tahun 1990. Tiga tahun kemudian dia meninggal di Rumah Sakit Harapan Bunda tanggal 10 Januari 1993 dan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Dia meninggalkan sepuluh orang anak (tujuh laki-laki dan 3 perempuan), serta seorang cucu. Salah seorang anaknya, Fifi, sekarang meneruskan perjuangannya menjadi pegiat budaya Betawi sekaligus pemimpin Sanggar Firman Muntaco. (ali gufron)

Foto: http://www.jakarta.go.id/v2/dbbetawi/detail/152/Firman-Muntaco
Sumber:
Nurhazizah, Ulfah. 2015. "Firmansyah Muntaco", diakses dari https://m2indonesia.com/ tokoh/sastrawan/77064.htm, tanggal 2 September 2017.

"Firman Muntaco (1935-1993)", diakses dari http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/ artikel/Firman_Muntaco, tanggal 3 September 2017.

"Gambang Djakarte: Firman Muntaco", diakses dari https://esosastra.wordpress.com/2008/ 12/09/gambang-djakarte-firman-muntaco/, tanggal 3 September 2017.

Suryana, Dede. 2013. "Firman Muntaco, Maestro Sastra Betawi", diakses dari https://news. okezone.com/read/2013/09/19/502/868481/firman-muntaco-maestro-sastra-betawi, tanggal 4 September 2017.

"Firman Muntaco (Seniman, Penulis, Pendiri SBFM)", diakses dari http://sanggarbetawifm. blogspot.co.id/2011/10/firman-muntaco-seniman-penulis-pendiri.html, tanggal 4 September 2017.

"Firman Muntaco (Sastrawan)", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Firman_Muntaco_ (sastrawan), tanggal 5 September 2017.

"Gelar Tiker Ala Betawi Episode 1: Firman Muntaco Pejuang Budaya Betawi", diakses dari http://www.majalahbetawi.com/2015/03/gelar-tiker-ala-betawi-episode-1.html, tanggal 10 Agustus 2017.

Fifi Firman Muntaco

Bila mendengar nama Firman Muntaco yang ada di belakang nama Fifi, maka terbayang di benak sebagian kita seorang sastrawan handal yang telah menelurkan ribuan karya sastra. Sebagai seorang sastrawan asli Betawi, hampir seluruh hidup Firman Muntaco didedikasikan untuk memajukan etnisnya dengan cara membuat cerpen berdialek Betawi. Menurut majalahbetawi.com, karya sastra Firman mencapai sekitar 5.000 buah. Namun yang sempat tercatat di pusat dokumentasi HB Jassin hanya sekitar 499 buah.

Fifi adalah salah seorang anak Firman Muntaco yang secara permanen menggunakan nama sang Ayah dibelakang namanya sendiri. Namun Fifi tidak hanya sekadar menyandang nama besar tersebut. Perempuan yang lahir di Jakarta pada tanggal 19 Agustus tahun 1966 ini ternyata juga mewarisi bakat seni sang Ayah. Dia sekarang menjadi pegiat budaya Betawi sekaligus sebagai pimpinan Sanggar Firman Muntaco.

Masa kecil perempuan yang kini tinggal di Gang Kayu Manis, Bale Kambang, Kramat Jati, dihabiskan di wilayah Jakarta Barat. Fifi mengawali pendidikan formalnya di Sekolah Dasar Pembangunan, Slipi. Lulus dari SD Pembangunan dia melanjutkan ke SMPN 61 Jakarta Barat dan SMA 65. Setelah menamatkan SMA dia melanjutkan pendidikan ke Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (jakarta.go.id).

Bakat seni Fifi mulai muncul ketika sering diajak Firman Muntaco mengikuti gelaran seni Betawi di seantero Jakarta. Selain itu, semasa masih remaja (sekitar tahun 1960-an) di rumahnya sendiri juga membuka Sanggar yang melatih bermacam kesenian khas Betawi, seperti lenong, tanjidor, ondel-ondel, dan lain sebagainya. Kebersinggungan dengan dunia seni khususnya seni budaya Betawi inilah yang membuatnya memilih jalur seni sebagai jalan hidup sekaligus untuk memajukan etnisnya.

Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila setelah menikah (dengan Ruseno) dan dikaruniai dua orang anak Fifi tetap aktif di berbagai organisasi kebetawian, seperti: pengurus DPP Forkabi tahun 2006-2011; aktif dalam Persatuan Wanita Betawi pimpinan Hj. Ema Agus Bisrie; pengurus budang kebudayaan di Badan Musyawarah Masyarakat Betawi (Bamus Betawi) tahun 2008-2013; penasihat Rumpun Masyarakat Betawi tahun 2008-2013; dan mesuk dalam kepengurusan Laskar Merah Putih bidang peranan wanita tahun 2009 (jakarta.go.id).

Sementara di rumah pun dia tetap meneruskan sanggar yang didirikan oleh ayahnya yang diberi nama Sanggar Betawi Firman Muntaco. Menurut kicaunews.com, kesanggupan Fifi mempertahankan keberadaan sanggar hingga sekarang tidak lepas dari dukungan keluarga serta ingin mewujudkan impian Sang Ayah melestarian kesenian betawi. Selepas wafatnya Firman Muntaco Januari 1993, melalui bantuan sang adik (Ahmad Fanfani), Fifi berusaha mengembangkan sanggar. Ahmad Fanfani mengajarkan kesenian Betawi, sementara Fifi sebagai manager yang bertugas dari mulai mencari order hingga mengatur keuangan dan kebutuhan sanggar.

Berkat kerja sama dua bersaudara tersebut Sanggar Betawi Firman Muntaco berkembang pesat. Sejumlah kegiatan dan penghargaan berhasil mereka raih, diantaranya: (1) Penghargaan Hut Orari DKI (2006); (2) pengiring acara Gubernur Kita Jak TV Live setiap minggu selama 6 bulan (2007); (3) narasumber pada acara OASIS (2011); (4) juara harapan I Lomba Perkusi Tingkat DKI Jakarta (2011); (5) pimpinan sanggar meraih juara pertama pada Lomba Penulis Cerpen Betawi Tingkat DKI Jakarta dengan judul "Penyanyi Samrah" (2011); (6) pengisi panggung rutin di Pekan Raya Jakarta; dan (7) partner dalam acara "Sehari Bersama Band Cokelat" (2012) (sanggarbetawifm.blogspot.co.id).

Dalam aktivitasnya sanggar ini juga melatih orang-orang yang berminat mendalami kesenian betawi, seperti: (1) musik samrah. Samrah adalah kelompok pemusik yang memainkan musik Melayu Betawi menggunakan alat musik berupa harmonium, biola, gitar, tamborin, rebana, dan gendang untuk mengiringi nyanyian dan tarian. Para pemainnya mengenakan dua macam kostum. Kostum pertama terdiri atas peci, jas, dan kain pelekat, sedangkan kostum kedua terdiri atas peci, baju sadariah, dan celana batik (jakarta.go.id). Adapun lagu-lagu yang dimainkan diantaranya adalah Burung Putih, Pulau Angsa Dua, Cik Minah Sayang, Sirih Kuning, Masmura, Kicir-kicir, Jali-jali, Lenggang-lenggang Kangkung, dan sebagainya (id.wikipedia.org); (2) lenong (dewasa dan bocah). Lenong adalah teater tradisional berdialek Melayu Betawi yang pementasannya diiringi musik gambang kromong. Konon lenong mulai berkembang sejak akhir abad ke-19, hasil adaptasi dari komedi bangsawan dan teater stambul (id.wikipedia.org). Berdasarkan tema cerita yang dipentaskan, lenong dibagi menjadi dua jenis yaitu lenong preman dan denes. Lenong preman umumnya mengangkat tema keseharian masyarakat dengan pemain mengenakan busana sehari-hari. Sedangkan lenong denes (berasal dari kata dinas atau formal) mengangkat tema kerajaan atau bangsawan sehingga para pemainnya menggunakan busana resmi sesuai tema (negerikuindonesia.com); (3) tari betawi; (4) palang pintu. Palang pintu merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat Betawi, seperti pernikahan, khitanan, atau penyambutan tamu kehormatan. Sesuai dengan namanya, prosesi ini berbentuk penghadangan seseorang atau rombongan yang ingin masuk sebelum memenuhi persyaratan yang diminta tuan rumah (bermain silat, mengaji, dan berpantun); dan (5) Marawis. Marawis adalah kelompok pemusik yang memainkan musik Melayu Betawi menggunakan alat musik tabuh berupa marawis, hajir (gendang besar), dumbuk (jimbe) pinggang, dumbuk batu, darbuka (cantiq), tamborin, dan kecrek. Marawis merupakan jenis kolaborasi antara kesenian Timur Tengah dan Betawi yang kental unsur keagamaan. Ia dimainkan oleh minimal sembilan atau sepuluh orang yang masing-masing memegang sebuah alat musik sambil bernyanyi.

Keseriusan perempuan yang juga aktif menulis cerpen ini menjadi pegiat dalam melestarikan budaya Betawi menurut jakarta.go.id adalah karena kekhawatiran akan kondisi kesenian Betawi yang kian terpuruk di daerahnya sendiri. Banyak di antara kesenian tersebut mulai ditinggalkan orang karena dianggap tidak sesuai lagi dengan zamannya. Baginya hal ini tak ubahnya buah simalakama. Jika dirombak akan kehilangan unsur keasliannya, tetapi bila tetap mempertahankan pakem yang telah ada akan kurang menarik bagi penonton masa kini. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian khusus agar generasi muda mau mengenalnya. (ali gufron)

Foto: http://www.majalahbetawi.com/2015/03/gelar-tiker-ala-betawi-episode-1.html
Sumber:
"Gelar Tiker Ala Betawi Episode 1: Firman Muntaco Pejuang Budaya Betawi", diakses dari http://www.majalahbetawi.com/2015/03/gelar-tiker-ala-betawi-episode-1.html, tanggal 10 Agustus 2017.

"Fifi Firman Muntaco", diakses dari http://www.jakarta.go.id/v2/dbbetawi/detail/148/Fifi-Firman-Muntaco, tanggal 20 Agustus 2017.

"Pertahankan Sejarah, Fifi Firman Muntaco Menjaga Asa Sanggar Betawi", diakses dari https://kicaunews.com/2017/07/28/pertahankan-sejarah-fifi-firman-muntaco-menjaga-asa-sanggar-betawi/, tanggal 20 Agustus 2017.

"Our Port Folio" diakses dari http://sanggarbetawifm.blogspot.co.id/2013/06/our-port-folio.html, tanggal 20 Agustus 2017.

"Samarah, Musik", diakses dari http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/2656/ Samrah-Musik, tanggal 2 September 2017.

"Samrah", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Samrah, tanggal 2 September 2017.

"Lenong", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Lenong, tanggal 2 September 2017.

"Kesenian Nusantara - Lenong", diakses dari http://www.negerikuindonesia.com/2015/03/ kesenian-nusantara-lenong.html, tanggal 4 September 2017.

Nur Ali Akbar

Nur Ali Akbar adalah salah seorang pendekar Betawi yang mahir dalam berbagai macam seni bela diri. Pendekar silat yang akrab disapa Babe Nunung ini lahir di Rawabelong, Kelurahan Sukabumi Utara, Jakarta Barat, pada tanggal 15 Agustus 1948. Dia adalah bungsu dari 7 bersaudara (4 laki-laki dan 2 perempuan) anak pasangan H. Asnawi dan Hj. Julaiha (mjundi, 2011). H. Asnawi bekerja sebagai kusir delman sementara Hj. Julaiha hanya sebagai ibu rumah tangga.

Ketertarikan Nur Ali Akbar pada seni beladiri bermula ketika Sang Ayah sering bercerita tentang silat Cingkrik/cingkrig yang dimainkan oleh kakeknya di halaman rumah (belajarcerita.com). Ketertarikan ini membawanya belajar silat Cingkrik saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama sekitar tahun 1963. Guru pertamanya adalah murid Ki Ali, yaitu Ki Legok. Ki Ali sendiri adalah guru dari Kong Sinan dan Kong Goning (forumsilat.blogspot.co.id).

Merasa kurang hanya belajar dari satu guru saja, Nur Ali belajar lagi pada beberapa pendekar Cingkrik lain di kawasan Rawabelong, seperti Ki Ayat, Ki Umang, Ki Ajid, Bang Entong, Bang Hamdan, Ki Wahab (belajarcerita.com), dan Bang Pi'i. Menurut Pandrianto (2011), Bang Pi'i merupakan guru yang meninggalkan kesan paling mendalam pada diri Nur Ali Akbar. Oleh karenanya, dia rela berlatih tiga kali dalam sehari di rumah Bang Pi'i, mulai dari siang, sore, dan malam selepas mengaji.

Keantusiasan Nur Ali menekuni silat Cingkrik bukan ingin menjadi jawara, melainkan membela diri dan orang tua dari para jagoan yang waktu itu sering berlaku sewenang-wenang di daerah Rawabelong. Cingkrik merupakan salah satu ilmu beladiri yang dia anggap mampu mengatasi para jagoan tersebut. Ilmu beladiri cingkrik menurut forumsilat.blogspot.co.id diciptakan oleh seorang petani bernama Ki Maing pada sekitar tahun 1817-an. Waktu itu secara tidak sengaja dia melihat dan memperhatikan gerakan monyet yang cingkrak-cingkrik milik tetangganya Nyi Nasare. Si monyet dapat menghindar dari pukulan tongkat kayu dan bahkan dapat perebutnya dari tangan si pemukul.

Gerakan-gerakan sederhana si monyet tadi diolah sedemikian rupa dan diperkaya Ki Maing menjadi jurus-jurus silat yang kemudian diberi nama Cingkrik. Jurus-jurus Cingkrik diajarkan pada tiga orang yang akhirnya menjadi muridnya, yaitu Ki Ali, Ki Yazid, dan Ki Saarie. Mereka tidak hanya menerima, tetapi juga mengembangkan dan memperkaya jurus yang diperoleh dari Ki Maing. Bahkan, ketiganya juga menularkan pada generasi berikutnya. Ki Saarie misalnya, menularkan Cingkrik pada Ki Wahab. Ki Yazid mengajarkan pada Ki Ayat dan Ki Uming. Sementara Ki Ali misalnya, menularkan Cingkrik pada Ki Sinan, Ki Goning, dan Ki Legok.

Adapun jurus-jurus awal ciptaan Ki Maing, menurut Siddiq (2011) konon hanya berjumlah lima buah dengan urutan langkah satu hingga langkah lima. Pada perkembangan selanjutnya bertambah menjadi delapan dan akhirnya dua belas jurus. Jurus-jurus tersebut adalah: Langkah Beset, Cingkrik, Buka Satu, Satu Kurung, Saup, Langkah Tiga, Langkah Empat, Langkah Lima, Lok Be, Singa, Macan, dan Longok. Namun, untuk dapat mempelajari seluruh jurus tersebut, terlebih dahulu harus menguasai gerak dasar guna melatih kuda-kuda, kelincahan tangan, kaki serta kelenturan tubuh. Gerakan dasar itu diantaranya adalah: Beset Tarik, Beset Gedor, Pasang Pukul, Cingkrik, Sangkol, Rambet, Bacok Rimpes, Saup, Kodek, Seser, Kosrek/Gobrek, Tiktuk, Bendrong, Lokbe, Sikut Atas, Cakar Macan, dan Longok.

Sebagai catatan, selain mendalami silat Cingkrik, Nur Ali juga belajar seni beladiri lain, diantaranya: (1) Silat Sinding dari Kalimantan dengan guru Nurdin dan Abdul Rahman (murid dan anak Kong Niming); (2) Gerak Per dengan guru Rais Barais; (3) Beksi Betawi dengan guru Bang Kibok; (4) Kungfu dengan guru Ko Ahim dari Palmerah; (5) Silat Sabeni dengan guru Bang Juned; (6) Gerak Rasa Kari Madi aliran Cialong dengan guru Bang Usman bin Entang, Bang Marga, Bang Sain, Wijaya, dan Bang Mahmud; dan (7) Gerak Saka dengan guru Bang Pi'i dan Raden Widarma (forumsilat.blogspot.co.id).

Selama menimba ilmu pada para jawara beladiri, laki-laki lulusan SPG dan menjadi pengajar di Sekolah Dasar ini kerap dipertemukan dengan pesilat dari perguruan lain untuk adu kebolehan. Tujuannya bukanlah mencari siapa yang lebih hebat, melainkan agar mengetahui dan mempelajari jurus-jurus dari perguruan lain. Selain itu, juga untuk menjalin tali silaturrahim antarpesilat dan antarpeguruan.

Dalam pertandingan-pertandingan tersebut Nur Ali Akbar selalu dapat mengalahkan lawannya. Oleh karena itu, namanya pun menjadi tersohor di seantero Jakarta. Menurut Pandrianto (2011), karena kepiawaian Nur Ali dalam memperagakan jurus-jurus silat hingga membuat lawan bertekuk lutut, dia kemudian dijuluki sebagai Si Tangan Setan. Sebuah julukan yang dapat membuat orang gemetar bila mendengarnya.

Mendapat julukan sebagai Si Tangan Setan tidak lantas membuatnya besar kepala. Dia tetap bersahaja kepada siapa pun karena yakin bahwa ilmunya belumlah apa-apa dan di luar sana masih banyak yang lebih hebat darinya. Yang ada dalam benak ayah dari tujuh orang anak ini hanyalah bagaimana dia dapat mengembangkan silat Cingkrik. Hasilnya, dari gerakan dasar Cingkrik dia dapat menciptakan gerakan baru yang disebut sebagai Gerak Rasa Sanalisa.

Gerak rasa sanalika yang dikembangkan oleh Nur Ali Akbar merupakan "lanjutan" gerak saka dan gerak rasa Cikalong yang diajarkan oleh Bang Pi,i. Sementara Bang Pi,i sendiri belajar dari Om Wid (Raden Widarma) yang menguasai gerak gulung budi daya, sebuah gerak yang dahulu hanya diturunkan melalui garis keluarga bangsawan Sunda di daerah Bogor. Oleh Bang Pi,i gerak gulung budi daya dimodifikasi dengan gerak per menjadi gerak saka atau akronim dari sakadaekna (Sunda: semau-maunya) (archive.kaskus.co.id).

Gerak Rasa Sanalika mengandung filosofi "Akan dan Sudah", dengan pengertian begitu lawan "akan" melakukan serangan, pesilat "sudah" melakukan gerakan terlebih dahulu untuk melumpuhkannya. Sedikit berbeda dengan Cingkrik, Gerak Rasa Sanalika lebih menekankan pada gerakan-gerakan yang lembut tetapi tetap berdaya melumpuhkan (Pandrianto, 2011). Oleh karena tidak memerlukan energi yang terlalu banyak untuk melancarkan serangan, gerak rasa sanalika dapat dimainkan oleh siapa saja, tua maupun muda. Serangan mengguanakan gerak rasa sanalika muncul melalui rasa dan reflek sehingga dapat dilakukan tanpa melihat lawan. Pesilat tidak perlu menangkis serangan, tetapi bergerak mendekat lawan dan melakukan serangan balik sehingga tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan energi.

Masih mengikuti Bang Pi,i, Nur Ali Akbar lalu membuka perguruan sendiri yang diberi nama sesuai dengan jurus yang diciptakannya, yaitu Perguruan Silat Gerak Rasa Sanalika. Sayangnya, seni beladiri tradisional semakin hari kian sepi peminat. Bahkan Nur Ali pun tidak dapat mengarahkan seluruh anaknya untuk menggeluti silat. Hanya satu dari tujuh orang anaknya yang mau mengikuti jejak Nur Ali menekuni dan menjadi guru silat gerak rasa sanalika.

Agar seni beladiri tradisional Betawi tetap bertahan, sebagai salah seorang sesepuh silat Betawi Nur Ali Akbar mencetuskan "pertemuan" aliran silat dengan menghimpun, mengundang, dan mengadakan pagelaran antarperguruan. Adapun tujuannya agar terjalin tali silaturakhim antarpesilat dan sebagai ajang saling belajar antarperguruan. "Pertemuan" biasanya diadakan bersamaan dengan momen-momen tertentu yang diselenggarakan oleh pemerintah, seperti peringatan Maulid Nabi ataupun Ulang Tahun Kota Jakarta.

Harapan Nur Ali kegiatan temu pesilat ini dapat menjadi event rutin layaknya sejumlah festival di Jakarta, seperti Festival Kemang atau Festival Togoe. Selain itu, dia juga mengangankan pemerintah memperhatikan pegiat seni beladiri, terutama yang sudah lama berkecimpung untuk diberi status sebagai pelestari kebudayaan agar kesejahteraan mereka sedikit terangkat.

Foto: Ali Gufron
Sumber:
Pandrianto, Nigar. 2011. "Babe Nunung, Si Tangan Setan dari Rawabelong", diakses dari http://www.kompasiana.com/nigarpandrianto/babe-nunung-si-tangan-setan-dari-rawabelong_5500b89aa33311351950fa63, tanggal 25 Agustus 2017.

Mjundi. 2011. "Bang Nunung, Pendekar Silat Betawi Rawa Belong", diakses dari http://pkskebonjeruk.blogspot.co.id/2011/11/bang-nunung-pendekar-silat-betawi-rawa.html, tanggal 26 Agustus 2017.

Siddiq, Zain Ibnu. 2011. "Cingkrig Gerak Cipta - Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong", diakses dari http://www.silatindonesia.com/2011/05/cingkrig-gerak-cipta-maenpukulan-khas-betawi-rawa-belong/, tanggal 22 Agustus 2017.

"Gerak Rasa Sanalika", diakses dari https://archive.kaskus.co.id/thread/7090373/1, tanggal 22 Agustus 2017.

"H. Nunung Pendekar Betawi Rawa Belong", diakses dari http://forumsilat.blogspot.co.id/2012/08/tokoh-pencak-silat-betawi.html, tanggal 7 Juli 2017.

"Sang Guru Besar Silat Betawi dari Rawa Belong", diakses dari https://belajarcerita.com/2017/05/19/sang-guru-besar-silat-betawi-dari-rawa-belong/, tanggal 15 Mei 2017.

Ahmad Syaropi

Ahmad Syaropi adalah salah seorang Putra Betawi yang menjadi pejabat di lingkungan Kotamadya Jakarta Selatan. Pria yang tinggal di Jalan Meruya Ilir F1 No. 4 ini lahir di Kampung Meruya, Jakarta Barat, pada tanggal 24 September 1966. Dia adalah anak ketiga dari delapan bersaudara pasangan H. Tarmuzi, BA dan Hj. Turiah (jakarta.go.id).

Sebagaimana layaknya orang Betawi lain yang dekat dengan Islam, awalnya kedua orang tua menghendaki agar Ahmad Syaropi menjadi pendakwah. Oleh karena itu, setelah menamatkan sekolah dasar di SDN 01 Cengkareng Timur, Jakarta Barat, tahun 1977, dia dimasukkan ke Madrasah Tsanawiyah di Pondok Pesantren Daer-el-Qolam, Gitung Balaraja, Tangerang. Selanjutnya ke Madrasah Aliyah di Pondok Modern Daarussalam Gontor, Ponorogo.

Lulus dari Madrasah Aliyah tahun 1985, laki-laki yang akrab disapa Yopi ini tidak lantas menekuni bidang agama untuk menjadi pendakwah. Dia malah melanjutkan pendidikan ke jurusan Asia Barat, Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya), Universitas Indonesia (lulus tahun 1992). Tidak puas hanya mendapat gelar S1, Yopi melanjutkan kembali pendidikan jejang S2 ilmu ekonomi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, hingga lulus tahun 1996 (jakarta.go.id).

Dua tahun setelah mendapat gelar M.Si, Yopi memutuskan untuk mengabdikan diri pada negara menjadi Pegawai Negeri Sipil. Ketika telah menjadi Pegawai Negeri Sipil di Provinsi DKI Jakarta, berbagai jabatan pun mulai diembannya, di antaranya: (1) staf Museum Seni Rupa dan Keramik Dinas Museum dan Pemugaran Provinsi DKI Jakarta (1999-2001); (2) Plt. Kepala Sub Bagian Tata Usaha Museum Tekstil Dinas Museum dan Pemugaran Provinsi DKI Jakarta (2001); (3) Kepala Sub Bagian Tata Usaha Museum Tekstil Jakarta Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta (2001-2003); (4) Kepala Seksi Monumen Proklamasi UPT Monumen Nasional Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta (2003-2007); (5) Kepala Seksi Pengkajian dan Pengembangan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta (2007-2009); (6) Kepala Seksi Museum Moh. Husni Thamrin UPI, Museum Joang '45 Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta (2009-2010); dan (7) Kepala Suku Dinas Kebudayaan Kotamadya Jakarta Selatan.

Jabatan sebagai Kasudin Kebudayaan membuat Yopi kerap berhubungan dengan komunitas-komunitas seni Betawi di wilayahnya. Dia pun bertekad melakukan pembinaan secara optimal kepada para seniman dan sanggar atau organisasi kesenian. Adapun tujuannya adalah untuk memartabatkan seniman serta organisasi kesenian Betawi. Caranya antara lain dengan memberikan stimulan berupa penghargaan kebudayaan atas upaya yang telah dilakoni seniman secara konsisten dan berkesinambungan (jakarta.go.id).

Keseriusan memartabatkan organisasi kemasyarakatan dan seniman Betawi sebenarnya telah dilakukan Yopi jauh sebelum dia menjabat sebagai Kasudin Kebudayaan. Pada tahun 2003-2007 misalnya, dia telah menjadi anggota Dewan Pakar Bamus Betawi; anggota ICMI DKI Jakarta bidang sosial-budaya (2005-sekarang); pendiri Majelis Metropolitsn (MM) tahun 2001; penasihat PPS Beksi (2005-2009); dan Sekretaris umum Lembaga Kebudayaan Betawi sejak tahun 2004.

Pada periode 2015-2018 Yopi dilantik lagi dalam kepengurusan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB). Dalam pelantikan yang dilakukan di gedung Nyi Ageng Serang tersebut terpilih sebagai Ketua Umum LKB H. Tatang Hidayat SH; Sekretaris Umum H. Ahmad Syaropi, Msi; ketua bidang Informasi dan Dokumentasi Kombes Polisi M. Zarkasih, SH, MH, Msi; Ketua Bidang Pelestarian Drs. Andi Yahya Saputra; Ketua Bidang Pengembangan Asiantoro Msi; Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Pemberdayaan Firmansyah A. Wahid, Msi; dan Ketua Bidang Pagelaran Imron Hasbullah, S.Psi (majalahbetawi.com).

Lembaga Kebudayaan Betawi sendiri dibentuk berdasarkan usul dari kalangan masyarakat Betawi dalam Pralokarkarya Penggalian Seni Budaya Betawi yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta tanggal 16-18 Februari 1976. Usul tersebut kemudian ditetapkan dalam akta pembentukan LKB tanggal 22 Juni 1976 dengan para pendirinya; H. Abdullah Ali, dr. H. Atje Muljadi, H. Effendi Yusuf, SH, Drs. Alwi Mas'oed, H.M. Napis Tadjeri, H. Sa'ali, SH, Drs. H. Rusdi Saleh, H. Hamid Alwi, H. Salman Muchtar, H. Irwan Sjafi'ie, Hj. Emma A. Bisrie, Prof. Dr. Yasmine Z. Shahab, dan Husein Sani (lembagakebudayaanbetawi.com).

Dalam situs resminya LKB bertujuan membantu Pemerintah DKI Jakarta dalam penelitian, penggalian, pengembangan, dan pemeliharaan nilai-nilai budaya tradisional Betawi. Tujuan tersebut termaktub dalam visi dan misi organisasi. Adapun visinya adalah menjadi laboratorium dan lembaga ketahanan adat istiadat seni budaya tradisional Betawi. Sedangkan misinya: (1) memperkuat keberadaan organisasi agar memiliki power off bargaining; (2) melestarikan, membina, mengembangkan dan mengamankan budaya tradisional Betawi; (3) memberdayakan pelaku seni budaya Betawi secara profesional untuk peningkatan taraf hidup dan kesejahteraannya; (4) memperkuat jaringan kemitraan dalam lingkup nasional dan internasional; dan (5) menjadi kontributor budaya tradisional bagi kekayaan khazanah budaya bangsa.

Sebagai catatan, suami dari Risa Arifiani (dinikahi tahun 1986) dan ayah dari Kamela Ezam Qiyani, Ashila Zahra Hanany, serta Muhammad Hakam Alkautsar ini juga aktif di dunia kampus sebagai dosen Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Maulana Yusuf, Serang, Banten. Sedangkan organisasi lain di luar masyarakat Betawi, di antaranya adalah narasumber tetap Pusbinroh DKI (1998-sekarang), Direktur PT. Alfa Berea Utama (1996-2009), dan Ketua Yayasan Al-Ittihad (1986-sekarang). (gufron)

Foto: http://www.beritajakarta.id/potret/album/2450/LKB-dan-Djarot-Bahas-Pelestarian-Budaya-Betawi
Sumber:
"Ahmad Syaropi, Drs. H. M.si", diakses dari http://www.jakarta.go.id/v2/dbbetawi/detail/ 63/Ahmad-Syaropi-Drs.-H.-M.si, tanggal 7 September 2017.

"Sejarah Berdirinya LKB", diakses dari http://lembagakebudayaanbetawi.com/about/sejarah-berdirinya-lkb, tanggal 8 September 2017.

"Pelantikan Pengurus LKB: Programkan Standar Etika yang Santun Berbudaya", diakses dari http://www.majalahbetawi.com/2015/03/normal-0-false-false-false-in-x-none-x_16.html, tanggal 8 September 2017.

Baitusen dan Mai Lamah

(Cerita Rakyat Daerah Kepulauan Riau)

Alkisah, di daerah Natuna, Kepulauan Riau, tinggal sepasang suami-isteri bernama Baitusen dan Mai Lamah. Semenjak menikah mereka hidup serba kekurangan. Suatu hari Baitusen memberi usul pada isterinya untuk pindah ke pulau lain agar memperoleh penghidupan lebih baik. Adapun tempat yang dituju adalah Bunguran, sebuah pulau yang terkenal dengan kekayaan lautnya.

Setelah menimbang beberapa waktu, Mai Lamah menyetujui usul suaminya. Tidak lama kemudian mereka berangkat menggunakan sampan menuju Pulau Bunguran. Sesampai di sana Baitusen mencari penghidupan sebagai nelayan penangkap ikan, kerang, siput laut, dan binatang laut lainnya. Sementara Mai Lamah menyusur pantai sembari mengumpulkan cangkang kerang dan siput untuk selanjutnya dibawa pulang ke rumah. Di rumah, dirangkainya cangkang kerang dan siput yang didapat menjadi barang perhiasan (gelang dan kalung). Begitu seterusnya hingga kehidupan mereka berangsur-angsur membaik.

Suatu hari, tanpa sengaja Baitusen menemukan sebuah lubuk yang berisi ribuan ekor teripang di perairan ganas yang jarang didatangi nelayan. Oleh karena harga teripang relatif mahal, dalam waktu singkat Baitusen menjadi orang kaya. Dia tidak lagi mencari kerang dan ikan-ikan kecil yang berharga murah. Sang isteri pun tidak lagi menyusur pantai mencari cangkang untuk dijadikan perhiasan, melainkan beralih pekerjaan membantu mengeringkan teripang-teripang hasil tangkapan Baitusen.

Tidak berapa lama berselang pasangan suami isteri ini menjadi sangat terkenal tidak hanya di seantero Bunguran, melainkan hingga ke mancanegara, dari Singapura hingga Tiongkok. Para saudagar dari negara-negara tersebut menyebut Baitusen sebagai "Saudagar Teripang", sementara Sang isteri disebut sebagai "Nyonya May Lam". Keduanya diperlakukan sangat istimewa oleh para saudagar yang hendak membeli teripang.

Akibat sering bergaul dengan orang-orang di luar budayanya sendiri, secara perlahan namun pasti membuat pola perilaku Mai Lamah mulai berubah. Dia tidak lagi mau berkumpul, ngerumpi, dan bercanda dengan para tetangga. Busana beserta aksesoris yang dia kenakan hampir menyerupai para isteri dari saudagar-saudagar yang datang hendak berbisnis teripang. Gincu merah menyala, minyak wangi berbau menyengat, bedak tebal, ditambah dengan kalung dan rencengan gelang emas selalu menemani kemana pun dia pergi.

Suatu ketika ada seorang tetangga mengadakan syukuran. Seluruh warga diundang. Hanya Mai Lamah seorang yang tidak datang. Sang empunya hajat kemudian menghantarkan nasi ke rumah agar Mai Lamah turut mendapat berkah dari acara syukuran yang dia adakan. Tetapi bukan sambutan hangat dan ucapan terima kasih yang diterima, Mai Lamah malah menghardik si pemberi hantaran sambil mencibir kalau yang dibawa hanya berupa nasi, ikan asin, sambal, dan sayur daun pepaya. Bagi Mai Lamah makanan itu sudah dianggap sebagai makanan nelayan miskin, sehingga dia menyuruh membawa hantarannya kembali.

Mendengar kata-kata pedas Mai Lamah, Sang tetangga hanya terdiam dan segera pamit pulang. Baitusen yang menyaksikan percakapan tadi berusaha menasihati sang isteri agar tidak berlaku tinggi hati. Dia mengingatkan bahwa dahulu kehidupan mereka tak ubahnya seperti si pemberi hantaran. Namun, nasihat Baitusen tidak diindahkan oleh Mai Lamah. Dia malah berkilah kalau sekarang mereka telah menjadi saudagar kaya raya. Sudah bukan masanya lagi bergaul dengan sembarang orang.

Tabiat Mai Lamah yang tinggi hati semakin hari malah menjadi-jadi. Apalagi ketika diketahui tengah mengandung jabang bayi. Dia semakin gemar memamerkan perhiasan hadiah para saudagar mancanegara yang hendak membeli tangkapan teripangnya. Selain itu, dia juga lebih selektif dalam menjalin pertemanan. Hanya orang-orang kaya dan keturunan bangsawanlah yang akan dia dekati dan dijadikan sebagai kolega. Sementara orang-orang kebanyakan yang tinggal di kampungnya dipandang sebelah mata.

Oleh karena itu, ketika ada seorang dukun beranak bernama Mak Semah yang menawarkan diri memeriksa kondisi kandungannya yang mulai membesar, Mai Lamah dengan tegas menolaknya. Dengan nada menyindir, dia mengatakan bahwa lebih percaya pada tabib dari negeri Tiongkok yang memiliki kemampuan jauh di atas Mak Semah. Dia juga mengatakan kalau penampilan lusuh Mak Semah tidak layak untuk memegang apalagi memeriksa kandungannya.

Setelah "diceramahi" seperti itu Mak Semah pulang dengan perasaan dongkol. Maksud hati ingin menolong tanpa meminta imbalan, malah cemoohan dan hinaan yang diterima. Dalam hati, Mak Semah bersumpah tidak akan membantu persalinan sebelum Mai Lamah meminta maaf. Dia yakin Mai Lamah pasti akan meminta pertolongan, sebab dialah satu-satunya dukun beranak yang ada di kampung. Apabila hendak ke dukun beranak lain, maka Baitusen harus membawa isterinya menyeberang ke pulau lain. Sementara bila mengandalkan pertolongan tabib dari Tiongkok, belum tentu ada setiap saat karena Sang tabib ikut dalam perahu saudagar yang membeli teripang Baitusen.

Benar saja, beberapa bulan kemudian, tibalah masanya Mai Lamah melahirkan. Ketika perut mulai merasa mulas, dia meminta Baitusen mencari tabib yang biasa ikut bersama salah seorang saudagar dari daerah Tiongkok. Sayangnya, sang saudagar baru saja berlayar sehingga Baitusen terpaksa meminta pertolongan Mak Semah. Setelah didatangi ternyata Mak Semah menolak untuk menolong sebelum Mai Lamah meminta maaf padanya. Tetapi karena Mak Semah adalah seorang perempuan yang pernah mengalami hal serupa (melahirkan), di dalam hati dia juga merasa kasihan. Oleh karena itu, apabila Mai Lamah tetap menolak dia menyarankan agar Baitusen membawanya ke dukun bayi lain yang ada di pulau seberang.

Agar Mai Lamah lekas mendapat pertolongan, Baitusen langsung pamit setelah mendapat penjelasan dari Mak Semah. Sesampainya di rumah dia memberi penjelasan sekaligus membujuk agar isterinya meminta maaf kepada Mak Semah. Di luar dugaan, Mai Lamah menolak meminta maaf dan dia meminta agar Baitusen mengantarkan ke pulau seberang. Pikirnya, lebih baik meminta pertolongan dukun bayi di pulau seberang daripada harus menanggung malu dan mendapat cap sebagai orang yang "menelah ludah sendiri".

Singkat cerita Baitusen menyanggupi permintaan isterinya. Dengan bersusah payah dia membopong Mai Lamah menuju perahu. Tetapi saat Baitusen akan mendayung perahunya, tiba-tiba Mai Lamah teringat akan peti harta kekayaan yang masih tertinggal di rumah. Dia takut peti beristeri uang, emas dan barang berharga lain itu akan dijarah orang sehingga memerintah Baitusen mengambil dan membawanya serta.

Tanpa berpikir panjang Baitusen menuruti perintah isterinya membawa peti harta yang sangat berat. Walhasil, di tengah laut perahu yang mereka naiki oleng dan tenggelam diterjang gelombang akibat adanya badai besar yang disertai dengan sambaran petir. Sebelum tenggelam, tubuh Mai Lamah sempat terkena sambaran petir hingga berubah menjadi batu. Seiring waktu, batu yang mirip seorang perempuan sedang berbadan dua itu semakin membesar dan menjadi sebuah pulau. Oleh masyarakat setempat, pulau jelmaan Mai Lamah itu kemudian diberi nama Sanua yang berarti "satu tubuh berbadan dua".

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Batu Kisar

Batu kisar adalah sebutan orang Melayu di Malaysia bagi sebuah peralatan rumah tangga yang berfungsi sebagai penumbuk bahan makanan, seperti: beras, beras ketan, kacang hijau, dan lain sebagainya hingga menjadi tepung. Selain itu, batu kisar juga dapat difungsikan untuk menumbuk atau meramu bahan-bahan pembuat obat-obatan tradisional.

Sesuai dengan namanya, peralatan ini terbuat dari batu berjenis granit yang terdiri atas dua komponen, yaitu anak dan induk. Induk batu kisar pada bagian tengahnya memiliki lubang sebagai ruang penampung bahan yang akan ditumbuk. Disamping lubang, bagian induk juga memiliki alur untuk mengalirkan air sisa tumbukan. Sedangkan yang disebut anaknya adalah berupa sebatang kayu lonjong yang ujungnya dibuat bulat sedemikian rupa agar pas/cocok/muat dengan lubang induk.

Bahan yang akan dikisar umumnya akan direndam terlebih dahulu agar mudah dilembutkan. Kemudian sedikit-demi sedikit dimasukkan ke dalam lubang kisar serta diberi sejumlah air agar hasil tumbukan tidak menjadi kasar. Hasil kisaran atau tumbukan akan berbentuk menyerupai tepung basah. Dan, bila ingin digunakan harus ditiris terlebih dahulu untuk memisahkan air dan tepung hasil tumbukan.

Petikas

Petikas atau biasa disebut juga dengan bak adalah sebutan orang Lampung bagi tempat menyimpan butiran padi atau beras yang telah terkelupas kulitnya setelah ditumbuk. Petikas dibuat dari kayu papan teras dengan bagian atas memakai tutup yang mudah dibuka. Sebelum dibentuk sedemikian rupa menjadi petikas, papan teras akan diserut menggunakan benda tajam (mis. Golok) agar terlihat rapi. Dan, setelah terbentuk peralatan penyimpan ini biasanya diletakkan di dapur atau di tempat yang mudah dijangkau ketika isinya akan ditanak.

Popular Posts

-