Kramat Tunggak

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Ada dua orang adik-beradik bernama Aria Wiratanudatar dan Aria Prabangsa. Semenjak kecil hidup sebagai yatim piatu. Orang tua mereka tidak memberi warisan berupa harta benda sebagai bekal hidup. Adapun yang "diwarsikan" hanya sebuah pesan agar selalu tabah, jujur, dan berusaha keras dalam menjalani kehidupan.

Untuk memenuhi kebutuhan Aria Wiratanudatar dan Aria Prabangsa menjadi pekerja kasar. Setiap hari rutinitasnya hanyalah mencari kayu bakar, menjualnya di pasar, dan hasilnya digunakan membeli beras serta lauk-pauk untuk kebutuhan selama satu hingga dua hari. Setelah habis, mereka kembali lagi ke hutan mencari kayu atau benda apa pun yang dapat diperdagangkan atau dibarterkan di pasar.

Suatu hari, selesai menata kayu bakar di belakang rumah, mereka beristirahat di beranda yang relatif lebih bersemilir ketimbang di dalam. Tidak lama kemudian mereka tertidur. Di dalam tidur Aria Prabangsa didatangi seorang kakek berjenggot lebat dan berjubah putih. Sang Kakek berkata bahwa Aria Prabangsa akan menjadi raja, namun rakyatnya hanya satu orang yaitu Aria Wirayanudatar. Dia harus tabah dan sabar, sebab jika tidak demikian maka akan dikutuk menjadi lebih miskin dari sekarang.

Selain masuk dalam mimpi Aria Prabangsa, Kakek berjenggot juga menyambangi mimpi Aria Wiratanudatar. Pada Wirataudatar Sang Kakek berkata sebaliknya, yaitu Wiratanudatar diperintahkan menjadi rakyat yang mengabdi pada kerajaan yang "dipimpin" oleh adiknya sendiri. Dia harus melaksanakan seluruh tugas kerajaan. Apabila tidak tabah dan sabar dalam menjalankan peran, maka akan dikutuk menjadi miskin selamanya.

Setelah mendapat "wangsit", keduanya lantas terbangun hampir berbarengan. Sang adik mendahului menceritakan mimpi yang baru saja dialami. Selesai bercerita, Sang kakak menimpali bahwa dia juga didatangi Sang Kakek berjenggot dan berjubah putih. Dan, mereka berkesimpulan bahwa mimpi-mimpi tadi bukanlah "kembang tidur" biasa. Mereka lantas bersepakat menaati "perintah"nya agar dapat merubah nasib.

Malam harinya mereka disambangi Sang Kakek lagi. Tetapi mimpi kali ini sama. Dia memerintahkan agar mereka seolah-olah tidak saling kenal. Sebelum menghilang dari mimpi, Sang Kakek memperingatkan agar apabila salah seorang ada yang jatuh miskin, saudaranya tidak diperkenankan memberi bantuan.

Pagi hari, ketika bangun Aria Prabangsa mendapati diri berada di mahligai kerajaan. Dia telah mengenakan pakaian mewah nan indah laksana seorang raja. Di hadapan berdiri seorang kawula dengan air mawar dalam nampan di tangan. Kawula itu tidak lain adalah kakaknya sendiri, Aria Wiratanudatar. Dia tidak hanya bertugas membawakan air guna mencuci muka, mekainkan juga seluruh urusan rumah tangga kerajaan.

Di dalam hati Aria Prabangsa sebenarnya khasihan dan sedih melihat Sang kakak harus menjadi pelayan. Namun perasaan tadi dipendam karena "wangsit" Sang kakek berjenggot mengendaki agar dia tidak boleh mengakuinya sebagai kakak dan memberikan bantuan apapun pada Aria Wiratanudatar.

Demikian pula dengan Aria Wiratanudatar yang ingin memberontak karena setiap hari hanya melayani adiknya mulai dari bangun hingga beranjak ke peraduan. Hidupnya terasa getir, terhina, dan sengsara. Namun seperti Sang adik, dia hanya dapat memendam perasaan karena pesan "wangsit" dari Sang Kakek berjenggot.

Begitu seterusnya selama bertahun-tahun hingga suatu saat Aria Wiratanudatar tidak tahan lagi dan memohon pada raja agar diperkenankan meninggalkan kerajaan untuk mencari penghidupan baru. Alasannya, dia sudah tidak tahan lagi menjadi hamba sahaya yang harus mengurusi masalah kerajaan seorang diri.

Mendengar permintaan tersebut Aria Prabangsa kaget bukan kepalang. Dia tidak menyangka kalau kakaknya menyerah dalam menjalankan perintah "wangsit" Sang Kakek berjenggot. Namun, karena sudah diamanatkan agar tidak boleh saling mengenal dan membantu yang sedang berkesusahan, dia terpaksa merelakan kepergian Aria Wiratanudatar.

Keesokan hari Aria Wiratanudatar memulai perjalanan mencari penghidupan baru. Dia pergi berkelana selama berbulan-bulan keluar masuk hutan, menyusuri pantai, lembah, gunung, dan sungai menuju satu tempat ke tempat lain. Tetapi tidak ada satu lokasi pun yang dirasa cocok. Walhasil, Aria Wiratanudatar menjadi benar-benar miskin. Badannya kurus kering, kulit mulai berkeriput, dan kuit hitam legam terbakar matahari.

Di lain tempat, sepeninggal Sang Kakak Aria Prabangsa merasa kesepian tinggal seorang diri di kerajaan. Dalam benak sempat terpikir untuk mencari dan menolong Aria Wiratanudatar. Lagi-lagi, ketika akan menjalankan niat, di telinga terngiang wejangan Sang Kakek berjenggot sehingga dia ragu melaksanakannya. Tetapi setelah merenung beberapa lama akhirnya dia bertekat mencari Sang Kakak. Dia hanya ingin melihat kondisi Aria Wiratanudatar dan tidak untuk menolong.

Berbulan-bulan kemudian Aria Wiratanudatar tiba di sebuah daerah yang subur dengan ditumbuhi oleh bermacam-macam pepohonan yang berbuah lebat. Merasa cocok dengan tempat tersebut, dia segera mengeluarkan kapak, menebang beberapa buah pohon tua guna membangun rumah. Dalam benak, Aria Wiratanudatar yakin jika rumah selesai akan ada orang yang tertarik dan ikut membangun pula sehingga lambat laun akan menjadi ramai. Dan, sebagai orang yang pertama kali datang di tempat itu kemungkinan besar dia akan diangkat menjadi penguaasa atau bahkan raja.

Selesai membangun dan rumah akan ditempati, tiba-tiba datang Aria Prabangsa. Dia menegur Aria Wiratanudatar karena telah membangun di wilayah kerajaan tanpa izin. Dengan nada marah Aria Perbangsa lantas mengusir Sang Kakak keluar dari wilayah kerajaan. Padahal, sebenarnya dia tidak menghendaki Aria Wiratanudatar keluar dari rumah itu. Tetapi apabila dibiarkan dia takut Sang Kakek berjenggot mengganggap hal tersebut sebagai memberi bantuan pada Aria Wiratanudatar. Mereka bisa kena kutuk menjadi miskin.

Menyadari bahwa tanah tempat mendirikan rumah merupakan bagian dari wilayah kerajaan Aria Prabangsa, Aria Tanudatar tidak membantah. Dia segera mengemasi barang bawaannya dan siap berkelana lagi. Sebelum berangkat dia meminta izin pada Aria Prabangsa untuk menancapkan tunggak di depan rumah yang tidak jadi ditempati. Alasannya sebagai bukti bahwa dia pernah ke tempat ini sekaligus bertemu dengan Raja Aria Perbangsa.

Oleh karena yang diminta hanyalah menancapkan sebuah tunggak, tanpa banyak bicara Aria Perbangsa mengizinkan. Begitu tunggak ditancap, seketika itu juga Aria Wiratanudatar hilang dari pandangan. Di suatu tempat dia tiba-tiba saja duduk di singgasana dikelilingi oleh banyak kawula. Dia telah menjadi raja seperti Aria Perbangsa. Kedua adik-beradik ini telah menepati janji pada Sang Kakek berjenggot dan hidup sejahtera sampai akhir hayat. Dan, tempat ditancapnya tunggak Aria Wiratanudatar itu oleh masyarakat sekitar kemudian dinamakan sebagai Kramat Tunggak.

Diceritakan kembali oleh Ali Gufron

Ariah

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, sekitar medio tahun 1800-an di Kampung Sawah, Kramat Setiong, hidup sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ibu dan dua anak perempuannya. Sang ibu bernama Mak Emper sedangkan anak bungsunya bernama Ariah atau biasa disapa Arie. Suami Mak Emper telah lama meninggal dunia.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup Mak Emper dan anak pertamanya (kakak Ariah) bekerja sebagai penumbuk padi pada seorang saudagar. Sementara Ariah sendiri ditugasnya oleh Mak Emper mencari kayu bakar, sayur-mayur, dan telur ayam di hutan Ancol. Oleh karena bekerja pada sang saudagar, ketiga anak-beranak ini diperbolehkan tinggal di emperan rumahnya dalam bentuk bangunan kecil yang menempel di bagian belakang rumah.

Begitu seterusnya hingga bulan demi bulan dan tahun demi tahun berlalu. Ariah pun tumbuh besar dan menjadi seorang gadis cantik jelita. Kecantikannya membuat mata setiap lelaki tidak berkedip jika melihatnya. Begitu pula dengan mata Saudagar yang mempekerjakannya. Bahkan, merasa telah memberi budi, Sang Saudagar datang pada Mak Emper meminang Ariah.

Lamaran Sang Saudagar tentu saja membuat bingung Mak Emper. Apabila ditolak, kemungkinan besar dia dan anak-anak akan terusir dari rumah sekaligus menjadi pengangguran. Tetapi apabila diterima, dia kasihan terhadap Airah karena hanya akan dijadikan sebagai isteri muda. Hidup sebagai isteri muda tidak akan leluasa, apalagi jika tinggal berdekatan dengan isteri tua.

Mak Emper tidak langsung menjawab lamaran Sang Saudagar. Dia meminta izin menanyakan terlebih dahulu pada Ariah. Alasannya, Ariah masih terlalu kecil. Jangankan berumah tangga, menjalin hubungan dengan laki-laki pun belum terlintas di benaknya. Perlu waktu bagi Mak Emper untuk memberi penjelasan yang sangat detil agar Ariah mau menerimanya.

Setelah Sang Saudagar pulang, tidak berapa lama kemudian Ariah datang dari mencari kayu bakar di hutan. Mak Emper langsung mengikutinya ke dapur membantu menaruh kayu bakar. Selesai menata kayu bakar, tanpa berbasa basi Mak Emper mengutarakan niat Sang Saudagar. Dia bingung apa yang harus diperbuat karena merasa bergantung hidup pada Sang Saudagar. Oleh karena itu, Mak Emper menyarankan Ariah menerima pinangannya agar mereka tidak terusir dari rumah yang selama ini ditempati.

Di luar dugaan Ariah langsung mengambil sikap berkenaan dengan pinangan Sang Saudagar. Dia menolak kawin sebab kakaknya masih belum menemukan jodoh. Sang kakak yang kebetulan mendengar percakapan tersebut lalu mendatangi Ariah dan menyatakan bahwa dirinya ikhlas apabila dilangkahi. Kakak Ariah juga merasa berhutang budi pada Sang Saudagar dan memilih mementingkan kelangsungan hidup keluarga ketimbang harus terusir dari rumah menjadi gelandangan.

Tetapi, sambil menangis tersedu, Ariah berargumen bahwa hal itu oleh masyarakat dianggap tidak baik. Seandainya Sang Kakak bersedia dilangkahi, di dalam perjalanannya nanti pasti hati akan terluka bila melihat Ariah diarak dalam baju pengantin, dikerumuni banyak tamu undangan, diberi mas kawin yang berharga mahal, dan dihibur oleh berbagai macam kesenian yang salah satunya adalah orkes hermunium.

Usai berkata demikian, Ariah bergegas meninggalkan ibu dan kakaknya menuju pangkek untuk menenangkan diri. Tidak lama berselang, Mak Emper datang menghampiri lalu duduk di samping Airah. Tanpa berkata apa-apa Mak Emper mengusap ramput Airah hingga dia tertidur di pangkuannya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ariah pergi mencari kayu bakar, sayur-sayuran, dan telur ayam hutan. Namun tidak seperti biasanya, sebelum berangkat dia mencium dengan hikmat tangan Mak Emper dan kakak perempuannya. Selanjutnya, dia memandang lama wajah mereka dan tanpa berkata-kata berlalu meninggalkan emperan rumah menuju arah utara.

Dalam perjalanan menuju hutan Ancol dia sempat lama mengamati para pekerja yang sedang membuat jalan kereta api. Sesampai di daerah Bendungan Melayu yang dekat dengan pantai Ariah menghentikan langkah. Dia beristirahat sambil menikmati bekal berupa nasi timbel buatan Mak Emper. Selesai makan, dia kembali melanjutkan perjalanan menuju hutan Ancol.

Menjelang senja dia tiba di Ancol. Tetapi ketika akan mulai mencari kayu bakar, dari balik pepohonan muncul dua sosok laki-laki berpakaian hitam-hitam. Mereka bernama Pi'un dan Sura, antek dari pemuda ganteng kaya raya namun bertabiat buruk bernama Tambahsia atau Oei Tambah Sia. Dia memiliki hobi aneh yaitu menculik dan memperkosa perempuan di bungalow miliknya yang diberi nama Bintang Mas. Pi'un dan Sura adalah orang kepercayaan Tambahsia yang ditugasi menculik anak gadis, janda, atau bahkan isteri orang untuk dibawa ke Bintang Mas.

Saat akan dibawa paksa, Ariah meronta-ronta tak terkendali hingga kedua centeng itu terkena tendangannya. Mereka marah dan menghempaskan tubuh Ariah ke tanah. Namun Ariah tetap saja melawan dan membuat Pi'un serta Sura habis kesabaran. Golok mereka akhirnya "berbicara" dan mengakhiri hidup Ariah. Mayatnya kemudian dilemparkan ke laut Ancol.

Di lain tempat, Mak Emper menunggu gelisah. Biasanya sebelum senja Ariah telah sampai ke rumah. Tetapi ditunggu hingga malam, sosoknya tidak juga muncul. Begitu seterusnya, hari-hari berlalu berganti bulan dan tahun. Ariah tidak pernah lagi pulang ke rumah. Mak Emper hanya bisa pasrah karena tidak tahu harus berbuat apa.

Suatu hari giliran kakak Ariah yang dilamar orang. Tidak seperti Ariah, Sang kakak dilamar oleh pemuda dari keluarga orang kebanyakan. Walau si pemuda sudah menyanggupi akan menanggung seluruh biaya perkawinan, hati Mak Emper tetap merasa resah. Sebab, dia berkewajiban menyediakan makanan, terutama saat menyambut calon besan yang akan datang mengajukan lamaran secara resmi.

Lelah memikirkan bagaimana cara mengatasi masalah tersebut (menyambut besan), Mak Emper mencoba tidur. Di dalam tidurnya, Mak Emper mimpi didatangi Ariah yang terlihat sangat cantik, berseri, dan sehat walafiat. Ketika ditanya kemana saja selama ini, dia tidak menjawab. Ariah hanya berkata bahwa Mak Emper tidak perlu resah memikirkan hidangan apa yang akan disajikan dalam acara penyambutan calon besannya nanti.

Kaget didatangi anak yang telah lama menghilang, Mak Emper langsung terbangun. Antara sadar dan tidak dia bergegas mencari ke seluruh penjuru gubuknya. Ketika berada di dapur Mak Emper kaget bukan kepalang. Entah dari mana datangnya, di area dapur telah penuh dengan berpikul-pikul ikan laut serta sayur mayur yang sangat cukup bila dijadikan sebagai suguhan bagi calon besan. Walau hanya bertemu di dalam mimpi, tetapi Ariah telah menepati janjinya untuk tidak membuat Mak Emper resah menghadapi kedatangan calon besannya.

Sebagai catatan, kisah Ariah ini telah menjadi sebuah folklor di kalangan masyarakat Betawi pesisir. Orang tidak hanya menyebut namanya sebagai Ariah, melainkan juga Maria, Mariah, atau Mariam. Adapun arwahnya, oleh sebagian orang dianggap beralih ujud menjadi setan Ancol. Sementara sebagian lainnya meyakini kalau Ariah menjadi makhluk gaib penguasa laut utara. Dia tidak disebut dengan nama aslinya, melainkan "Si Manis". Konon Si Manis mempunyai pengawal gaib yang bernama Si Kondor (siluman monyet), Si Gempor, Si Gagu, dan Tuan Item.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Alya Rohali

Alya Rohali merupakan salah seorang perempuan Betawi yang namanya malang melintang di jagad hiburan tanar air. Dia dikenal sebagai bintang film, iklan, dan sinetron Sekaligus pembawa acara televisi. Bersama Helmi Yahya, Alya sukses memandu acara secara live kuis "Siapa Berani?" yang pernah tayang setiap pagi di stasiun televisi Indosiar (jakarta.go.id).

Putri dari pasangan Rohali Sani dan Atit Tresnawati ini lahir di Jakarta pada tanggal 1 Desember 1976 (wowkeren.com). Dia mengawali karir melalui kontes kecantikan sebagai none Jakarta Barat tahun 1994. Kemudian mengikuti kontes None Jakarta 1994 dan terpilih sebagai juara Harapan I. Dua tahun berselang dia ikut kontes Puteri Indonesia 1996 dan dinobatkan sebagai pemenang. Konsekuensinya, dia menjadi wakil Indonesia pada ajang Miss Universe 1996 yang diselenggarakan di Amerika Serikat (kapanlagi.com).

Menurut kapanlagi.com, setelah tugas sebagai Puteri Indonesia usai, Alya mencoba peruntungan di dunia hiburan Indonesia. Dia mendapat tawaran untuk bermain dalam beberapa sinema elektronik. Selain itu, bersama Helmi Yaya dia juga didaulat memandu acara kuis "Siapa Berani?" yang ditayangkan Indosiar. Di acara inilah namanya mulai melejit dan sempat mendapat penghargaan sebagai Presenter Kuis Terfavorit dalam Panasonic Award 2002 (wowkeren.com).

Beberapa tahun sebelumnya, tepatnya tanggal 4 Maret 1999 Alya melepas masa lajang dan menikah dengan Eri Surya Kelana. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai seorang anak perempuan bernama Namira Andjani Ramadina yang lahir pada bulan Desember 1999. Namun, pernikahan itu tidak berlangsung lama. Mereka resmi bercerai pada 13 Agustus 2003 (id.wikipedia.org).

Keretakan hubungan rumah tangga tidak mempengaruhi pekerjaan Alya dalam dunia entertainment. Hal ini terbukti dengan adanya tawaran membawakan membawakan program religi "Catatan Sergap" dalam Hikmah Fajar di stasiun televisi RCTI. Bahkan, dia juga sempat bermain dalam sitkom Kejar Kusnadi yang ditayangkan di RCTI tahun 2005 (id.wikipedia.org).

Beberapa tahun setelah menjanda, Alya kembali menambatkan hati pada seorang pengusaha asal Madura bernama Faiz Ramzy Rachbini. Mereka menikah pada 23 Juli 2006 (kapanlagi.com). Hampir satu tahun kemudian, tepatnya tanggal 29 Agustus 2007 buah perkawinan mereka melahirkan seorang anak melalui proses caesar di RS Pondok Indah. Ia dinamai Diarra Annisa Rachbini. Selanjutnya, anak ketiga pun menyusul pada 10 Oktober 2010 berjenis kelamin perempuan dan diberi nama Savannah Nadja Rachbini (jakarta.go.id).

Selepas menikah untuk yang kedua kali, kesibukan Alya semakin bertambah. Menurut jakarta.go.id, tahun 2006 dia mulai merambah dunia musik dengan memproduseri album berjudul Alika, sebuah album yang dinyanyikan oleh keponakannya sendiri bernama Alika. Album Alika terdiri dari 12 buah lagu berbuansa musik R&B, salah satu di antaranya berbahasa Inggris.

Sebagai catatan, selama meniti karir di dunia hiburan Alya telah memerankan berbagai macam karakter dalam sinetron dan film. Adapun judulnya antara lain: Meniti Cinta, Istri Impian, Kejar Kusnadi, Buah Hati Mama, Jalan Lain ke Sana, Emak, Dunia Tanpa Koma, Andini, Malin Kundang, Suami Istri dan Dia, Serpihan Mutiara Retak, Moga Bunda Disayang Allah, dan Di Balik 98. Sedangkan tayangan komersial (iklan) yang pernah dibintangi, di antaranya: Sunsilk, Neril, Oxone, dan Sajiku (profilseleb.blogspot.co.id). Khusus untuk film berjudul Di Balik 98, Alya mendapat nominasi dalam kategori pemeran pendukung wanita terbaik dari Indonesia Box Office Movie Awward 2016 (id.wikipedia.org).

Segala aktivitas dalam berakting tersebut ternyata tidak mengurungkan niat Ayla melanjutkan pendidikan formalnya. Setelah memperoleh gelar Sajana Hukum dari Universitas Trisakti misalnya, Alya mengambil program S2 Magister Hukum dan S2 Magister Kenotariatan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ilmu-ilmu tersebut merupakan bekal untuk mencari nafkah sebagai notaris.

Foto: http://www.tribunnews.com/seleb/2015/01/10/cara-alya-rohali-rawat-rambutnya-saat-berhijab
Sumber:
"Alya Rohali" diakses dari http://www.jakarta.go.id/v2/dbbetawi/detail/74/Alya-Rohali, tanggal 7 Agustus 2017.

"Alya Rohali" diakses dari https://www.kapanlagi.com/alya-rohali/profil/, tanggal 7 Agustus 2017.

"Alya Rohali" diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Alya_Rohali, tanggal 8 Agustus 2017.

"Profil Alya Rohali", diakses dari http://www.wowkeren.com/seleb/alya_rohali/bio.html, tanggal 8 Agustus 2017.

"Alya Rohali Profil", diakses dari http://profilseleb.blogspot.co.id/2009/02/alya-rohali-profil.html, tanggal 9 Agustus 2017.

Erlina

Dalam sistem kekerabatan masyarakat Lampung Saibatin di Pesisir Barat yang bersifat parilineal, peran laki-laki sangatlah dominan. Kaum laki-laki selalu memiliki peran lebih dibanding perempuan, seperti: pemimpin keluarga, penerus garis keturunan, pewaris harta warisan, dan pengambil keputusan di sektor publik (dalam kegiatan sosial, politik, maupun budaya). Sementara kaum perempuan ditempatkan dalam sektor domestik. Adapun perannya hanya sebagai konco wingking (Jawa) yang selalu berkutat dengan urusan seputar dapur, sumur, dan kasur.

Konstruksi sosial demikian membuat ruang gerak kaum perempuan Saibatin sangat terbatas. Semenjak kecil mereka telah dikondisikan oleh keluarga dan lingkungan sekitar untuk menaati segala aturan adat yang dibuat oleh laki-laki untuk mengekalkan kekuasaan mereka. Dan, karena telah berlangsung sejak lama, maka dianggap sebagai suatu kebiasaan turun-temurun dan tidak dipersoalkan lagi sebagai tindakan ketidakadilan dan subordinasi gender. Atau dengan kata lain, posisi subordiasi ini diterima sebagai ketentuan adat yang harus ditaati.

Namun tidak semua laki-laki Saibatin Pesisir Barat menerapkan aturan adat pada perempuan. Azharuddin misalnya, walau hanya bekerja sebagai seorang petani tetapi tidak serta merta menerapkan hak dan kewajiban pada anak-anaknya berdasarkan gender yang ditetapkan oleh adat. Buktinya, salah satu dari enam orang anaknya, bernama Erlina (berjenis kelamin perempuan) saat ini berhasil menembus "barikade patriarki" dengan menjadi Wakil Bupati Pesisir Barat periode 2016-2021. Dia adalah perempuan pertama yang menduduki pos jabatan tersebut setelah bersama pasanganya (Agus Istiqlal) memenangi Pemilihan Umum Kepala Daerah Pesisir Barat pada 9 Desember 2015 (wikiwand.com).

Erlina lahir di Penengahan Krui 18 Agustus 1975. Masa kecilnya dihabiskan di Krui dengan bersekolah di SD Negeri 1 Panengahan Krui (1982-1988) dan SMP Negeri 2 Krui (1989-1992). Ketika menginjak masa remaja Erlina hijrah ke Bandarlampung dan bersekolah di SMA Negeri 3 Tanjungkarang (1992-1994). Lulus SMA meneruskan pendidikan di Universitas Lampung mengambil jenjang D3 Penyuluh Pertanian (1994-1997). Selanjutnya, menempuh jenjang Strata 1 di universitas yang sama dengan mengambil jurusan Sosial Ekonomi Pertanian (1997-2001). Terakhir, dia berhasil menamatkan jenjang S-2 di Magister Hukum Universitas Bandar Lampung (2012).

Keberhasilan Erlina hingga menjabat sebagai Wakil Bupati tentu tidak terlepas dari sepak terjangnya selama bersekolah. Berdasarkan data yang diperoleh dari kpud-lampungbaratkab.go.id, riwayat keorganisasian yang digeluti Erlina cukup beragam, yaitu: (1) Ketua Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Komisariat Brojonegoro Universitas Lampung (1998-1999); (2) Ketua Korp Pergerakan Mahasiswa Islan Putir (KOPRI) Cabang Lampung (1999-2000); (3) Pembina Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Kota Bandarlampung (2008-2010); (4) Sekretaris Fatayat Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung (2000-2009); Wakil Ketua DPD KNPI Provinsi Lampung (2010-2013); (5) Pengurus Karang Taruna Provinsi Lampung (2013-sekarang); (6) Pimpinan Wilayah Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung (2010-2012); (7) Ketua Pemberdayaan Perempuan KNPI Provinsi Lampung (2014-2017); dan (8) Pimpinan Wilayah Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung (2013-2017).

Sedangkan data pengalaman pekerjaan yang pernah dilakukannya adalah: (1) Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Kabupaten Lampung Barat (2004); (2) Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Provinsi Lampung (2005-2008); (3) Anggota KPU Kota Bandarlampung (2008); (4) Ketua KPU Kota Bandarlampung (2010); (5) Ketua Pokja Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih KPU Kota Bandarlampung dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (2009); (6) Ketua Pokja Sosialisasi KPU Kota Bandarlampung pada Pemilu DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota (2009); (7) Divisi Teknis dan Humas KPU Kota Bandarlampung (2011); (8) Ketua Pokja Sosialisasi KPU Kota Bandarlampung (2012); (9) Ketua Pokja Pemutakhiran Data dan Sosialisasi untuk Pemilu Kepala Daerah, Walikota dan Wakil Walikota Bandarlampung (2013-2014); (9) Ketua Pokja Sosialisasi KPU Kota Bandarlampung pada Pemilu DPR, DPD, DPRD, Presiden dan Wakil Presiden (2013-2014); dan (10) Ketua Pokja Pemutakhiran Data Pemilih untuk Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD, Presiden dan Wakil Presiden (2013-2014).

Segudang pengalaman tersebut tidak lantas membuat Erlina dapat melenggang dengan mudah menjadi orang nomor dua di Pesisir Barat. Bersama Agus Istiqlal, dia harus bahu-membahu menggalang massa agar memenangkan Pemilukada. Salah satunya adalah beradu visi dan misi melawan tiga pasang calon Bupati dan Wakil Bupati Pesisir Barat lainnya, yaitu Aria Lukita Budiwan-efan Tolani, Jamal Naser-Syahrial, dan Oking Ganda Miharja-Irawan Topani. Debat diselenggarakan oleh KPU Kabupaten Lampung Barat di GSG Selalaw dan disiarkan langsung melalui Radio Republik Indonesia (harianlampung.com).

Dalam debat yang dimoderatori Juwendra Adriyansyah tersebut Erlina dan Agus Istiqlal berjanji mewujudkan Pesisir Barat yang religius, menciptakan pemerintahan bersih, mengoptimalkan kekayaan potensi laut, pertanian, serta meningkatkan infrastruktur guna mendukung kemajuan pariwisata (harianlampung.com). Mereka mengusung visi "Terwujudnya Kabupaten Pesisir Barat yang Adil, Makmur, Sejahtera, Maju dan Modern". Dan untuk mewujudkannya mereka merumuskannya ke dalam delapan misi, yaitu: (1) Mengembangkan, memanfaatkan dan menggali sumber daya alam yang ada sebagai modal dasar pembangunan di daerah Kabupaten Pesisir Barat; (2) Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, penguasaan iptek dan nilai-nilai ketaqwaan, mengembangkan kreativitas seni dan budaya serta meningkatkan prestasi olahraga; (3) Mengembangkan Kabupaten Pesisir Barat sebagai pusat budidaya flora dan fauna; (4) Meningkatkan pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat; (5) Meningkatkan daya dukung sarana prasarana yang berbasis penataan dan pengembangan pariwisata; (6) Meningkatkan pelayanan publik dan peningkatan kinerja birokrasi yang bersif, profesional, dan berorientasi kewirausahaan serta bertatakelola yang baik; (7) Penataan, pembenahan, pengaturan lembaga fisik kabupaten sejalan dengan "land use planning" yang ada pada RUTRKIRIK dan RBWK serta RDTRK; dan (8) Mewujudkan sarana dan prasarana pembangunan infrastruktur pemerintah Kabupaten Pesisir barat (kpud-lampungbaratkab.go.id).

Visi dan misi Erlina-Agus Istiqlal ternyata sejalan dengan keinginan sebagian besar masyarakat Pesisir Barat sehingga mereka pun terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati. Mereka dilantik bersama tujuh pasang bupati/walikota se-Provinsi Lampung oleh Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo di kantor DPRD Lampung tanggal 17 Februari 2016 (nyokabar.com). Sedangkan serah terima jabatannya sendiri dilakukan sehari setelah pelantikan bertempat di ruang rapat Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat. Sertijab dihadiri oleh Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Kemasyarakatan, anggota Forkopimda Pesisir Barat dan Lampung Barat, ketua dan anggota DPRD Pesisir Barat, Sekda Pesisir Barat, Staf ahli bupati, SKPD, pimpinan tokoh politik, tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat Pesisir Barat (pesisirbaratkab.go.id).

Setelah menjabat sebagai wakil bupati, perempuan yang bersuamikan Muhidin dan ibu dari Syam Permana P. Gemilang serta Aleshia Samita ini langsung tancap gas memenuhi janji pada warga masyarakat yang memilihnya. Bersama Agus Istiqlal dia mulai bergerak menjalankan roda pemerintahan dengan membangun sarana dan prasarana guna kesejahteraan masyarakat. Agar dapat memberikan pelayanan yang maksimal, mereka melakukan restrukturisasi organisasi pemerintahan, revitalisasi birokrasi, refungsionalisasi seluruh lembaga pemerintahan, dan mereposisi seluruh pimpinan aparat pemerintahan.

Foto: "Erlina (Wakil Bupati)", diakses dari http://www.wikiwand.com/id/Erlina_(wakil_bupa ti), tanggal 27 Juni 2017.

Sumber:
"Erlina (Wakil Bupati)", diakses dari http://www.wikiwand.com/id/Erlina_(wakil_bupati), tanggal 27 Juni 2017.

"Data Pasangan Calon No Urut Pendaftaran 82", diakses dari http://www.kpud-lampungbarat kab.go.id/2015/08/data-pasangan-calon-no-urut-pendaftaran_82.html, tanggal 27 Juni 2017.

"Empat Paslon Pesisir Barat Adu Visi dan Misi", diakses dari http://www.harianlampung .com/m/index.php?ctn=1&k=politik&i=16628-Empat-Paslon-Pesisir-Barat-Adu-Visi-dan-Misi, tanggal 27 Juni 2017.

"Chusnunia & Erlina Bupati dan Wakil Bupati Wanita Pertama di Lampung" diakses dari http://www.nyokabar.com/berita-1873-chusnunia--erlina-bupati-dan-wakil-bupati-wanita-pertama-di-lampung.html, tanggal 28 Juni 2017.

"Serah Terima Jabatan Pj Bupati Dengan Bupati Dan Wakil Bupati Periode 2016-2021", diakses dari http://Www.Pesisirbaratkab.Go.Id/?P=16533, tanggal 29 Juni 2017.

Nasi Goreng Daun Mengkudu

Bila mendengar kata nasi goreng, maka yang terbayang di benak kita adalah sebuah masakan berupa nasi yang digoreng bersama telur, suwiran ayam, dan beberapa macam bumbu yang telah dicampur sedemikiran rupa dan ditambah dengan kecap serta minyak ketika proses penggorengan sedang berlangsung. Agar terlihat menarik dan bervariasi di dalamnya dicampur berbagai macam bahan makanan sesuai selera pembuatnya, seperti petai, teri, sosis, jagung, kunyit, daging kambing, cumi-cumi, udang rebon, dan lain sebagainya (cookpad.com).

Bagi sebagian masyarakat Betawi, selain dikenal bahan-bahan tambahan seperti di atas ada sebuah bahan lagi yang mungkin tidak pernah digunakan oleh etnis lain yang ada di Indonesia, yaitu daun mengkudu. Daun dari tanaman yang buahnya biasa digunakan sebagai obat-obatan karena mengandung vitamin A, Fosfor, kalsium, dan selenium ini ternyata tidak kalah lezat jika dijadikan sebagai bahan nasi goreng bila dicampur dengan bumbu-bumbu racikan tertentu ketika memasaknya (pesona.co.id).

Di Jakarta ada sebuah resto yang salah satu menunya menyajikan masakan nasi goreng daun mengkudu. Lokasinya di Eat & Eat Mall Kelapa Gading 5 Lantai 3 Jakarta Utara. Resto yang buka tiap hari dari pukul 10-00-22.00 WIB ini diberi Dapur Mak Haji. Namun, tidak seperti kebanyakan restoran atau rumah makan lain yang bila mencantumkan nama seseorang, maka dialah pemiliknya. Mak Haji bukanlah nama sang pemilik. Menurut janna.co.id, pemilik sebenarnya adalah orang Betawi asli bernama Hamdani Masil atau akrab disapa Dani.

Nasi goreng mengkudu yang ada di Dapur Mak Haji merupakan resep warisan orang tua Hamdani Masil. Nasi goreng tersebut dapat langsung dinikmati hanya dengan diberi irisan daun mengkudu saja atau tambahan lauk lain, seperti: krewedan (tumis daging atau tetelan) dan telur dadar yang dicampur dengan irisan daun nangka agar aromanya lebih membangkitkan selera dan tidak berbau amis (pesona.co.id).

Hamdani Masil sendiri bukanlah orang sembarangan. Dia merupakan salah seorang tokoh intelektual Betawi yang saat ini bekerja sebagai dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Dani lahir di Meruya, Jakarta Barat, pada tanggal 5 Februari 1965 (jakarta.go.id). Semenjak kecil, anak dari pasangan H. Masil dan Hj. Sobriyah telah menunjukkan keaktifan serta kecerdasan dalam menempuh pendidikan formal.

Oleh karena itu, tidak mengherankan ketika masih kuliah dia telah dipercaya menjadi asisten dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi UI. Dedikasinya untuk terus mentransfer ilmu kepada generasi penerus bangsa dibuktikan dengan keseriusannya meneruskan pendidikan hingga mencapai jenjang Strata 2 pada tahun 2007. Setelah lulus Hamdani mengajar lagi di almamaternya untuk mata kuliah: Teknik Penulisan Efektif, Pemasaran Program Televisi, dan Penjualan Program Televisi.

Menurut jakarta.go.id, untuk memperkaya wawasan serta pengetahuan tentang pertelevisian, penyiaran, media massa, dan pemasaran agar dapat dikembangkan dalam pengajaran, Dani aktif mengikuti kegiatan seminar, pertemuan, dan workshop, di antaranya: Study Visit TVB Hongkong (1994); Going Deep with Media Research for Effective Communication (2003); Markplus Conference (2008); Getting Out of the Price War: Is It Possible (2007); Mind Technology for Sales (2005); Marketing Conference (2008); Life Revolution by Tung Dasem Waringin (2008); Asia Pasific Media Forum (2008); Markplus Conference (2009); Reading the New Wave Marketing (2008); Study Visit to Astro, Malaysia (2011); IP7TV World Forum London (2012), dan lain sebagainya.

Berkat keahlian serta pengalaman dalam bidang pertelevisian tersebut Dani kemudian diangkat menjadi Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jakarta. KPID adalah sebuah lembaga independen yang didirikan di setiap provinsi dengan tujuan sebagai regulator penyelenggaraan penyiaran berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 32 tahun 2002 (id.wikipedia.org).

Sementara di kalangan orang Betawi sendiri Dani tidak hanya dikenal sebagai pengajar, pebisnis, dan ketua KPID, tetapi juga budayawan yang berusaha mengangkat citra masyarakat Betawi. Hal itu dilakukannya ketika diberi kepercayaan menjabat sebagai Sekretaris Umum Lembaga Kebudayaan Betawi periode 1993-1995. Selanjutnya, dia juga aktif di Badan Musyawarah (Bamus) Betawi dari tahun 1995 hingga 2000.

Foto: http://bukan-kuliner.blogspot.co.id/2014/12/nasi-goreng-daun-mengkudu-khas-betawi.html
Sumber:
"Hamdani Masil, Drs. M.Si", diakses dari http://www.jakarta.go.id/v2/dbbetawi/detail/156/ Hamdani-Masil-DRS.-M.SI, tanggal 10 Juli 2017.

"Uniknya Nasi Goreng Daun Mengkudu", diakses dari http://www.pesona.co.id/article/ uniknya-nasi-goreng-daun-mengkudu?p=3, tanggal 10 Juli 2017.

"Khasnya Dapur Mak Haji", diakses dari http://janna.co.id/khasnya-dapur-mak-haji/, tanggal 11 Juli 2017.

"Resep Nasi Goreng 6.337", diakses dari https://cookpad.com/id/cari/nasi%20goreng?page =2, tanggal 12 Juli 2017.

"Komisi Penyiaran Indonesia Daerah", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Komisi _penyiaran_Indonesia_daerah, tanggal 12 Juli 2017.

Firman Muntaco

Riwayat Singkat
Firman Muntaco adalah salah seorang dari segelintir tokoh Betawi yang tidak hanya berkarya melalui ribuan puisi dan cerpen, tetapi juga penulisan skenario film dan syair-syair lagu. Sebagai seorang sastrawan, hampir seluruh hidup Firman Muntaco didedikasikan untuk memajukan etnisnya dengan cara membuat cerpen berdialek Betawi sejak tahun 1960-an. Menurut majalahbetawi.com, karya sastra Firman mencapai sekitar 5.000 buah. Namun yang sempat tercatat di pusat dokumentasi HB Jassin hanya sekitar 499 buah.

Firman Muntaco lahir di Petojo Sabangan, Jakarta, pada tanggal 5 Mei 1935. Dia adalah sulung dari lima bersaudara, tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Sang Ayah (Haji Muntaco) berprofesi sebagai eksportir tembakau dan pemilik pabrik susu yang berlokasi di bilangan Slipi, Jakarta Barat (esosastra.wordpress.com). Apabila melihat dari profesi H. Muntaco, maka kehidupan keluarganya termasuk dalam golongan masyarakat Betawi kelas menengah atas. Oleh karena itu Firman dan saudara-saudaranya relatif mudah mendapatkan akses, terutama dalam hal pendidikan yang waktu itu masih jarang dinikmati orang kebanyakan.

Firman kecil mulai menempuh pendidikan formalnya di Hollandsch Inlandsche School (HIS). Kemudian melanjutkan ke Sekolah Rakyat PUSO, SMA Bagian B, Akademi Pendidikan Kejuruan (APK) jurusan Publisistik dari tahun 1955 hingga 1957 (tidak selesai), dan Pendidikan Penulisan Skenario Kino Film di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta dari tahun 1977 hingga 1978 (juga tidak selesai). Sementara pendidikan non-formal yang diikuti diantaranya adalah: kursus bermain piano pada B.A Soekirno, kursus bermain biola pada Thio Bun Siat, dan belajar mengaji pada Guru Zakaria di Tanah Abang (Nurhazizah, 2015).

Ketertarikan Firman pada kesusastraan bermula ketika dia sering membaca buku-buku sastra terbitan Balai Pustaka. Salah satu buku di antaranya adalah novel Si Doel Anak Betawi yang ditulis oleh Aman Dato Madjoindo. Menurut Nurhazizah (2015), novel inilah yang memberi pengaruh besar pada diri Firman Muntaco untuk menulis sastra terutama yang berkaitan dengan etnisnya sendiri, yaitu Betawi.

Firman Muntaco memulai karya dalam bidang sastra ketika masih di bangku SMA dengan menulis puisi yang dikirimkan ke beberapa surat kabar. Selanjutnya, mengikuti maraknya surat kabar yang memuat cerita pendek (cerpen), Firman pun mencoba ikut menulis cerpen. Adapun cerpen pertamanya yang berhasil dimuat di surat kabar diberi judul Seikat Bunga Anyelir. Cerpen ini dimuat di Star Weekly pada bulan September 1955. Tahun berikutnya, cerpennya yang berjudul Lagu Malam dimuat di Aneka Juni 1956 (Suryana, 2013).

Eksistensi Firman dalam dunia kepenyairan mulai terlihat setelah bekerja di Berita Minggu, mulai sebagai penulis reportasi, pengasuh rubrik, hingga menjabat pemimpin redaksi Berita Minggu Muda (Suryana, 2013). Salah satu rubrik yang diasuhnya bertajuk Tjermin Djakarte dari tahun 1956-1964 merupakan titik pangkal inovasinya dalam penulisan cerita berbahasa Melayu Betawi. Di rubrik yang kemudian beralih nama menjadi Gambang Djakarte ini, secara tetap tulisan Firman Muntaco muncul setiap minggunya (ensiklopedia.kemdikbud.go.id). Menurut sanggarbetawifm.blogspot.co.id, dalam tulisan-tulisan tersebut Firman menggunakan dialek Melayu Betawi dengan gaya yang sangat bebas sehingga banyak dibaca orang dan sanggup menaikkan tiras hingga mencapai 40.000-an eksemplar. Adapun isi tulisan-tulisannya berupa cerita pendek yang diangkat dari kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi dalam bentuk humor berdialek Betawi yang ditulis tidak hanya sebagai bahasa cakapan para tokohnya, tetapi hampir pada seluruh bagian ceritanya.

Gaya bahasa Firman ini tetap dipertahankan walau surat kabar Berita Minggu dibredel pemerintah pada pertengahan tahun 1965 karena dianggap dekat dengan kaum nasionalis pendukung Soekarno. Dia tetap menulis dan mempublikasikan cerpen pada sejumlah media cetak, seperti: Buana Minggu, tabloid Mutiara, dan majalah Humor. Bahkan, pada tahun 1969 dia sempat mengikuti sayembara dan memperoleh penghargaan dari Pemerintah Daerah DKI Jakarta sebagai pemenang pertama lomba penulisan cerpen mengenai Betawi (Suryana, 2013).

Sebagai catatan, selain cerpen Firman Muntaco juga menulis cerita silat bersambung gaya Betawi, dengan judul antara lain: Si Buntung Ditantang, Ngamuknya Seorang Algojo, Si Botak Jagoan Nyentrik, Bubarnya Garong-garong Jelambar, dan Juragan Lenong dari Pasar Ikan. Seluruh cerita silat tadi dikemas dalam dialek Melayu Betawi sebagai media ekspresinya. Menurut id.wikipedia,org, dialek Betawi yang digunakan Firman memiliki keunggulan dan kekuatan untuk menyampaikan ide-ide sastra dengan cara yang luar biasa, mengagetkan, dan ada kalanya berkilauan.

Berkat kepiawaiannya dalam menulis gaya Betawi yang memikat banyak orang, beberapa karya Firman pun sempat diubah menjadi naskah sandiwara dan film, yaitu Satu Kali Satu dan Ratu Amplop. Satu Kali Satu dikembangkan menjadi film berjudul Musuh Bebuyutan (1974) yang dibintangi oleh Benyamin S (Suryana, 2013). Sementara Ratu Amplop (berbentuk naskah sandiwara), difilmkan dengan judul sama yang disutradarai oleh Nawi Ismail dan diperankan oleh Benyamin S dan Ratmi B-29 (ensiklopedia.kemdikbud.go.id). Sedangkan cerpen-cerpen lainnya (yang terdokumentasi) dibukukan menjadi Gambang Djakarte 1 (1960) dan Gambang Djakarte 2 (1963) (keduanya diterbitkan ulang tahun 2006) (id.wikipedia.org).

Pada perkembangan selanjutnya Firman Muntaco tidak hanya berkiprah di ranah kesusastraaan dalam melestarikan kebudayaan Betawi. Dia juga menunjukkan kepedulian dengan mendirikan "Surilang Group", sebuah Sanggar Seni dan Sandiwara guna melestarikan kesenian Betawi yang mulai berkurang intensitasnya, seperti samrah, rebana, gambang kromong, lenong, dan lain sebagainya (Nurhazizah, 2015).

Selain itu, dia juga terlibat dalam kepengurusan Lembaga Kebudayaan Betawi dengan posisi sebagai Ketua Harian. Posisi ini (Ketua Harian Lembaga Kebudayaan Betawi dan pendiri Surilang Group) membuat Firman acap berhubungan dengan TVRI Stasiun Pusat Jakarta yang waktu itu sedang gencar mengangkat masalah budaya. Selanjutnya, agar lebih memudahkan dalam bekerja sama dia diberi posisi sebagai Koordinator Paket Siaran Budaya Betawi yang akan disalurkan melalui acara Cakrawala Budaya Nusantara, Taman Bhinneka Tunggal Ika, Sandiwara (tradisional), Nusantara Menyanyi, dan Nusantara Menari sejak tahun 1977 (sanggarbetawifm.blogspot.co.id).

Berkat kerja sama dengan TVRI pula sanggar seni Surilang Group hingga tahun 1991 telah tampil setidaknya hingga 50 kali. Ketika sedang tidak on air di TVRI, mereka kerap tampil di Taman Mini Indonesia Indah, Pasar Seni Ancol, Taman Ismail Marzuki, dan sejumlah hotel di Jakarta. Di sela-sela aktivitas tersebut Firman Muntaco masih menyempatkan diri mengisi sejumlah seminar hingga menjadi pemimpin musik pengiring Teater Mama. Dan, oleh karena kepedulian dalam melestarikan seni budaya Betawi tersebut Firman kemudian diberi penghargaan oleh Universitas Jakarta tahun 1991 (Nurhazizah, 2015).

Saat meraih penghargaan dari Universitas Jakarta sebenarnya aktivitas Firman Muntaco mulai menurun karena terserang stroke pada sekitar tahun 1990. Tiga tahun kemudian dia meninggal di Rumah Sakit Harapan Bunda tanggal 10 Januari 1993 dan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Dia meninggalkan sepuluh orang anak (tujuh laki-laki dan 3 perempuan), serta seorang cucu. Salah seorang anaknya, Fifi, sekarang meneruskan perjuangannya menjadi pegiat budaya Betawi sekaligus pemimpin Sanggar Firman Muntaco. (ali gufron)

Foto: http://www.jakarta.go.id/v2/dbbetawi/detail/152/Firman-Muntaco
Sumber:
Nurhazizah, Ulfah. 2015. "Firmansyah Muntaco", diakses dari https://m2indonesia.com/ tokoh/sastrawan/77064.htm, tanggal 2 September 2017.

"Firman Muntaco (1935-1993)", diakses dari http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/ artikel/Firman_Muntaco, tanggal 3 September 2017.

"Gambang Djakarte: Firman Muntaco", diakses dari https://esosastra.wordpress.com/2008/ 12/09/gambang-djakarte-firman-muntaco/, tanggal 3 September 2017.

Suryana, Dede. 2013. "Firman Muntaco, Maestro Sastra Betawi", diakses dari https://news. okezone.com/read/2013/09/19/502/868481/firman-muntaco-maestro-sastra-betawi, tanggal 4 September 2017.

"Firman Muntaco (Seniman, Penulis, Pendiri SBFM)", diakses dari http://sanggarbetawifm. blogspot.co.id/2011/10/firman-muntaco-seniman-penulis-pendiri.html, tanggal 4 September 2017.

"Firman Muntaco (Sastrawan)", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Firman_Muntaco_ (sastrawan), tanggal 5 September 2017.

"Gelar Tiker Ala Betawi Episode 1: Firman Muntaco Pejuang Budaya Betawi", diakses dari http://www.majalahbetawi.com/2015/03/gelar-tiker-ala-betawi-episode-1.html, tanggal 10 Agustus 2017.

Fifi Firman Muntaco

Bila mendengar nama Firman Muntaco yang ada di belakang nama Fifi, maka terbayang di benak sebagian kita seorang sastrawan handal yang telah menelurkan ribuan karya sastra. Sebagai seorang sastrawan asli Betawi, hampir seluruh hidup Firman Muntaco didedikasikan untuk memajukan etnisnya dengan cara membuat cerpen berdialek Betawi. Menurut majalahbetawi.com, karya sastra Firman mencapai sekitar 5.000 buah. Namun yang sempat tercatat di pusat dokumentasi HB Jassin hanya sekitar 499 buah.

Fifi adalah salah seorang anak Firman Muntaco yang secara permanen menggunakan nama sang Ayah dibelakang namanya sendiri. Namun Fifi tidak hanya sekadar menyandang nama besar tersebut. Perempuan yang lahir di Jakarta pada tanggal 19 Agustus tahun 1966 ini ternyata juga mewarisi bakat seni sang Ayah. Dia sekarang menjadi pegiat budaya Betawi sekaligus sebagai pimpinan Sanggar Firman Muntaco.

Masa kecil perempuan yang kini tinggal di Gang Kayu Manis, Bale Kambang, Kramat Jati, dihabiskan di wilayah Jakarta Barat. Fifi mengawali pendidikan formalnya di Sekolah Dasar Pembangunan, Slipi. Lulus dari SD Pembangunan dia melanjutkan ke SMPN 61 Jakarta Barat dan SMA 65. Setelah menamatkan SMA dia melanjutkan pendidikan ke Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (jakarta.go.id).

Bakat seni Fifi mulai muncul ketika sering diajak Firman Muntaco mengikuti gelaran seni Betawi di seantero Jakarta. Selain itu, semasa masih remaja (sekitar tahun 1960-an) di rumahnya sendiri juga membuka Sanggar yang melatih bermacam kesenian khas Betawi, seperti lenong, tanjidor, ondel-ondel, dan lain sebagainya. Kebersinggungan dengan dunia seni khususnya seni budaya Betawi inilah yang membuatnya memilih jalur seni sebagai jalan hidup sekaligus untuk memajukan etnisnya.

Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila setelah menikah (dengan Ruseno) dan dikaruniai dua orang anak Fifi tetap aktif di berbagai organisasi kebetawian, seperti: pengurus DPP Forkabi tahun 2006-2011; aktif dalam Persatuan Wanita Betawi pimpinan Hj. Ema Agus Bisrie; pengurus budang kebudayaan di Badan Musyawarah Masyarakat Betawi (Bamus Betawi) tahun 2008-2013; penasihat Rumpun Masyarakat Betawi tahun 2008-2013; dan mesuk dalam kepengurusan Laskar Merah Putih bidang peranan wanita tahun 2009 (jakarta.go.id).

Sementara di rumah pun dia tetap meneruskan sanggar yang didirikan oleh ayahnya yang diberi nama Sanggar Betawi Firman Muntaco. Menurut kicaunews.com, kesanggupan Fifi mempertahankan keberadaan sanggar hingga sekarang tidak lepas dari dukungan keluarga serta ingin mewujudkan impian Sang Ayah melestarian kesenian betawi. Selepas wafatnya Firman Muntaco Januari 1993, melalui bantuan sang adik (Ahmad Fanfani), Fifi berusaha mengembangkan sanggar. Ahmad Fanfani mengajarkan kesenian Betawi, sementara Fifi sebagai manager yang bertugas dari mulai mencari order hingga mengatur keuangan dan kebutuhan sanggar.

Berkat kerja sama dua bersaudara tersebut Sanggar Betawi Firman Muntaco berkembang pesat. Sejumlah kegiatan dan penghargaan berhasil mereka raih, diantaranya: (1) Penghargaan Hut Orari DKI (2006); (2) pengiring acara Gubernur Kita Jak TV Live setiap minggu selama 6 bulan (2007); (3) narasumber pada acara OASIS (2011); (4) juara harapan I Lomba Perkusi Tingkat DKI Jakarta (2011); (5) pimpinan sanggar meraih juara pertama pada Lomba Penulis Cerpen Betawi Tingkat DKI Jakarta dengan judul "Penyanyi Samrah" (2011); (6) pengisi panggung rutin di Pekan Raya Jakarta; dan (7) partner dalam acara "Sehari Bersama Band Cokelat" (2012) (sanggarbetawifm.blogspot.co.id).

Dalam aktivitasnya sanggar ini juga melatih orang-orang yang berminat mendalami kesenian betawi, seperti: (1) musik samrah. Samrah adalah kelompok pemusik yang memainkan musik Melayu Betawi menggunakan alat musik berupa harmonium, biola, gitar, tamborin, rebana, dan gendang untuk mengiringi nyanyian dan tarian. Para pemainnya mengenakan dua macam kostum. Kostum pertama terdiri atas peci, jas, dan kain pelekat, sedangkan kostum kedua terdiri atas peci, baju sadariah, dan celana batik (jakarta.go.id). Adapun lagu-lagu yang dimainkan diantaranya adalah Burung Putih, Pulau Angsa Dua, Cik Minah Sayang, Sirih Kuning, Masmura, Kicir-kicir, Jali-jali, Lenggang-lenggang Kangkung, dan sebagainya (id.wikipedia.org); (2) lenong (dewasa dan bocah). Lenong adalah teater tradisional berdialek Melayu Betawi yang pementasannya diiringi musik gambang kromong. Konon lenong mulai berkembang sejak akhir abad ke-19, hasil adaptasi dari komedi bangsawan dan teater stambul (id.wikipedia.org). Berdasarkan tema cerita yang dipentaskan, lenong dibagi menjadi dua jenis yaitu lenong preman dan denes. Lenong preman umumnya mengangkat tema keseharian masyarakat dengan pemain mengenakan busana sehari-hari. Sedangkan lenong denes (berasal dari kata dinas atau formal) mengangkat tema kerajaan atau bangsawan sehingga para pemainnya menggunakan busana resmi sesuai tema (negerikuindonesia.com); (3) tari betawi; (4) palang pintu. Palang pintu merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat Betawi, seperti pernikahan, khitanan, atau penyambutan tamu kehormatan. Sesuai dengan namanya, prosesi ini berbentuk penghadangan seseorang atau rombongan yang ingin masuk sebelum memenuhi persyaratan yang diminta tuan rumah (bermain silat, mengaji, dan berpantun); dan (5) Marawis. Marawis adalah kelompok pemusik yang memainkan musik Melayu Betawi menggunakan alat musik tabuh berupa marawis, hajir (gendang besar), dumbuk (jimbe) pinggang, dumbuk batu, darbuka (cantiq), tamborin, dan kecrek. Marawis merupakan jenis kolaborasi antara kesenian Timur Tengah dan Betawi yang kental unsur keagamaan. Ia dimainkan oleh minimal sembilan atau sepuluh orang yang masing-masing memegang sebuah alat musik sambil bernyanyi.

Keseriusan perempuan yang juga aktif menulis cerpen ini menjadi pegiat dalam melestarikan budaya Betawi menurut jakarta.go.id adalah karena kekhawatiran akan kondisi kesenian Betawi yang kian terpuruk di daerahnya sendiri. Banyak di antara kesenian tersebut mulai ditinggalkan orang karena dianggap tidak sesuai lagi dengan zamannya. Baginya hal ini tak ubahnya buah simalakama. Jika dirombak akan kehilangan unsur keasliannya, tetapi bila tetap mempertahankan pakem yang telah ada akan kurang menarik bagi penonton masa kini. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian khusus agar generasi muda mau mengenalnya. (ali gufron)

Foto: http://www.majalahbetawi.com/2015/03/gelar-tiker-ala-betawi-episode-1.html
Sumber:
"Gelar Tiker Ala Betawi Episode 1: Firman Muntaco Pejuang Budaya Betawi", diakses dari http://www.majalahbetawi.com/2015/03/gelar-tiker-ala-betawi-episode-1.html, tanggal 10 Agustus 2017.

"Fifi Firman Muntaco", diakses dari http://www.jakarta.go.id/v2/dbbetawi/detail/148/Fifi-Firman-Muntaco, tanggal 20 Agustus 2017.

"Pertahankan Sejarah, Fifi Firman Muntaco Menjaga Asa Sanggar Betawi", diakses dari https://kicaunews.com/2017/07/28/pertahankan-sejarah-fifi-firman-muntaco-menjaga-asa-sanggar-betawi/, tanggal 20 Agustus 2017.

"Our Port Folio" diakses dari http://sanggarbetawifm.blogspot.co.id/2013/06/our-port-folio.html, tanggal 20 Agustus 2017.

"Samarah, Musik", diakses dari http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/2656/ Samrah-Musik, tanggal 2 September 2017.

"Samrah", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Samrah, tanggal 2 September 2017.

"Lenong", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Lenong, tanggal 2 September 2017.

"Kesenian Nusantara - Lenong", diakses dari http://www.negerikuindonesia.com/2015/03/ kesenian-nusantara-lenong.html, tanggal 4 September 2017.

Nur Ali Akbar

Nur Ali Akbar adalah salah seorang pendekar Betawi yang mahir dalam berbagai macam seni bela diri. Pendekar silat yang akrab disapa Babe Nunung ini lahir di Rawabelong, Kelurahan Sukabumi Utara, Jakarta Barat, pada tanggal 15 Agustus 1948. Dia adalah bungsu dari 7 bersaudara (4 laki-laki dan 2 perempuan) anak pasangan H. Asnawi dan Hj. Julaiha (mjundi, 2011). H. Asnawi bekerja sebagai kusir delman sementara Hj. Julaiha hanya sebagai ibu rumah tangga.

Ketertarikan Nur Ali Akbar pada seni beladiri bermula ketika Sang Ayah sering bercerita tentang silat Cingkrik/cingkrig yang dimainkan oleh kakeknya di halaman rumah (belajarcerita.com). Ketertarikan ini membawanya belajar silat Cingkrik saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama sekitar tahun 1963. Guru pertamanya adalah murid Ki Ali, yaitu Ki Legok. Ki Ali sendiri adalah guru dari Kong Sinan dan Kong Goning (forumsilat.blogspot.co.id).

Merasa kurang hanya belajar dari satu guru saja, Nur Ali belajar lagi pada beberapa pendekar Cingkrik lain di kawasan Rawabelong, seperti Ki Ayat, Ki Umang, Ki Ajid, Bang Entong, Bang Hamdan, Ki Wahab (belajarcerita.com), dan Bang Pi'i. Menurut Pandrianto (2011), Bang Pi'i merupakan guru yang meninggalkan kesan paling mendalam pada diri Nur Ali Akbar. Oleh karenanya, dia rela berlatih tiga kali dalam sehari di rumah Bang Pi'i, mulai dari siang, sore, dan malam selepas mengaji.

Keantusiasan Nur Ali menekuni silat Cingkrik bukan ingin menjadi jawara, melainkan membela diri dan orang tua dari para jagoan yang waktu itu sering berlaku sewenang-wenang di daerah Rawabelong. Cingkrik merupakan salah satu ilmu beladiri yang dia anggap mampu mengatasi para jagoan tersebut. Ilmu beladiri cingkrik menurut forumsilat.blogspot.co.id diciptakan oleh seorang petani bernama Ki Maing pada sekitar tahun 1817-an. Waktu itu secara tidak sengaja dia melihat dan memperhatikan gerakan monyet yang cingkrak-cingkrik milik tetangganya Nyi Nasare. Si monyet dapat menghindar dari pukulan tongkat kayu dan bahkan dapat perebutnya dari tangan si pemukul.

Gerakan-gerakan sederhana si monyet tadi diolah sedemikian rupa dan diperkaya Ki Maing menjadi jurus-jurus silat yang kemudian diberi nama Cingkrik. Jurus-jurus Cingkrik diajarkan pada tiga orang yang akhirnya menjadi muridnya, yaitu Ki Ali, Ki Yazid, dan Ki Saarie. Mereka tidak hanya menerima, tetapi juga mengembangkan dan memperkaya jurus yang diperoleh dari Ki Maing. Bahkan, ketiganya juga menularkan pada generasi berikutnya. Ki Saarie misalnya, menularkan Cingkrik pada Ki Wahab. Ki Yazid mengajarkan pada Ki Ayat dan Ki Uming. Sementara Ki Ali misalnya, menularkan Cingkrik pada Ki Sinan, Ki Goning, dan Ki Legok.

Adapun jurus-jurus awal ciptaan Ki Maing, menurut Siddiq (2011) konon hanya berjumlah lima buah dengan urutan langkah satu hingga langkah lima. Pada perkembangan selanjutnya bertambah menjadi delapan dan akhirnya dua belas jurus. Jurus-jurus tersebut adalah: Langkah Beset, Cingkrik, Buka Satu, Satu Kurung, Saup, Langkah Tiga, Langkah Empat, Langkah Lima, Lok Be, Singa, Macan, dan Longok. Namun, untuk dapat mempelajari seluruh jurus tersebut, terlebih dahulu harus menguasai gerak dasar guna melatih kuda-kuda, kelincahan tangan, kaki serta kelenturan tubuh. Gerakan dasar itu diantaranya adalah: Beset Tarik, Beset Gedor, Pasang Pukul, Cingkrik, Sangkol, Rambet, Bacok Rimpes, Saup, Kodek, Seser, Kosrek/Gobrek, Tiktuk, Bendrong, Lokbe, Sikut Atas, Cakar Macan, dan Longok.

Sebagai catatan, selain mendalami silat Cingkrik, Nur Ali juga belajar seni beladiri lain, diantaranya: (1) Silat Sinding dari Kalimantan dengan guru Nurdin dan Abdul Rahman (murid dan anak Kong Niming); (2) Gerak Per dengan guru Rais Barais; (3) Beksi Betawi dengan guru Bang Kibok; (4) Kungfu dengan guru Ko Ahim dari Palmerah; (5) Silat Sabeni dengan guru Bang Juned; (6) Gerak Rasa Kari Madi aliran Cialong dengan guru Bang Usman bin Entang, Bang Marga, Bang Sain, Wijaya, dan Bang Mahmud; dan (7) Gerak Saka dengan guru Bang Pi'i dan Raden Widarma (forumsilat.blogspot.co.id).

Selama menimba ilmu pada para jawara beladiri, laki-laki lulusan SPG dan menjadi pengajar di Sekolah Dasar ini kerap dipertemukan dengan pesilat dari perguruan lain untuk adu kebolehan. Tujuannya bukanlah mencari siapa yang lebih hebat, melainkan agar mengetahui dan mempelajari jurus-jurus dari perguruan lain. Selain itu, juga untuk menjalin tali silaturrahim antarpesilat dan antarpeguruan.

Dalam pertandingan-pertandingan tersebut Nur Ali Akbar selalu dapat mengalahkan lawannya. Oleh karena itu, namanya pun menjadi tersohor di seantero Jakarta. Menurut Pandrianto (2011), karena kepiawaian Nur Ali dalam memperagakan jurus-jurus silat hingga membuat lawan bertekuk lutut, dia kemudian dijuluki sebagai Si Tangan Setan. Sebuah julukan yang dapat membuat orang gemetar bila mendengarnya.

Mendapat julukan sebagai Si Tangan Setan tidak lantas membuatnya besar kepala. Dia tetap bersahaja kepada siapa pun karena yakin bahwa ilmunya belumlah apa-apa dan di luar sana masih banyak yang lebih hebat darinya. Yang ada dalam benak ayah dari tujuh orang anak ini hanyalah bagaimana dia dapat mengembangkan silat Cingkrik. Hasilnya, dari gerakan dasar Cingkrik dia dapat menciptakan gerakan baru yang disebut sebagai Gerak Rasa Sanalisa.

Gerak rasa sanalika yang dikembangkan oleh Nur Ali Akbar merupakan "lanjutan" gerak saka dan gerak rasa Cikalong yang diajarkan oleh Bang Pi,i. Sementara Bang Pi,i sendiri belajar dari Om Wid (Raden Widarma) yang menguasai gerak gulung budi daya, sebuah gerak yang dahulu hanya diturunkan melalui garis keluarga bangsawan Sunda di daerah Bogor. Oleh Bang Pi,i gerak gulung budi daya dimodifikasi dengan gerak per menjadi gerak saka atau akronim dari sakadaekna (Sunda: semau-maunya) (archive.kaskus.co.id).

Gerak Rasa Sanalika mengandung filosofi "Akan dan Sudah", dengan pengertian begitu lawan "akan" melakukan serangan, pesilat "sudah" melakukan gerakan terlebih dahulu untuk melumpuhkannya. Sedikit berbeda dengan Cingkrik, Gerak Rasa Sanalika lebih menekankan pada gerakan-gerakan yang lembut tetapi tetap berdaya melumpuhkan (Pandrianto, 2011). Oleh karena tidak memerlukan energi yang terlalu banyak untuk melancarkan serangan, gerak rasa sanalika dapat dimainkan oleh siapa saja, tua maupun muda. Serangan mengguanakan gerak rasa sanalika muncul melalui rasa dan reflek sehingga dapat dilakukan tanpa melihat lawan. Pesilat tidak perlu menangkis serangan, tetapi bergerak mendekat lawan dan melakukan serangan balik sehingga tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan energi.

Masih mengikuti Bang Pi,i, Nur Ali Akbar lalu membuka perguruan sendiri yang diberi nama sesuai dengan jurus yang diciptakannya, yaitu Perguruan Silat Gerak Rasa Sanalika. Sayangnya, seni beladiri tradisional semakin hari kian sepi peminat. Bahkan Nur Ali pun tidak dapat mengarahkan seluruh anaknya untuk menggeluti silat. Hanya satu dari tujuh orang anaknya yang mau mengikuti jejak Nur Ali menekuni dan menjadi guru silat gerak rasa sanalika.

Agar seni beladiri tradisional Betawi tetap bertahan, sebagai salah seorang sesepuh silat Betawi Nur Ali Akbar mencetuskan "pertemuan" aliran silat dengan menghimpun, mengundang, dan mengadakan pagelaran antarperguruan. Adapun tujuannya agar terjalin tali silaturakhim antarpesilat dan sebagai ajang saling belajar antarperguruan. "Pertemuan" biasanya diadakan bersamaan dengan momen-momen tertentu yang diselenggarakan oleh pemerintah, seperti peringatan Maulid Nabi ataupun Ulang Tahun Kota Jakarta.

Harapan Nur Ali kegiatan temu pesilat ini dapat menjadi event rutin layaknya sejumlah festival di Jakarta, seperti Festival Kemang atau Festival Togoe. Selain itu, dia juga mengangankan pemerintah memperhatikan pegiat seni beladiri, terutama yang sudah lama berkecimpung untuk diberi status sebagai pelestari kebudayaan agar kesejahteraan mereka sedikit terangkat.

Foto: Ali Gufron
Sumber:
Pandrianto, Nigar. 2011. "Babe Nunung, Si Tangan Setan dari Rawabelong", diakses dari http://www.kompasiana.com/nigarpandrianto/babe-nunung-si-tangan-setan-dari-rawabelong_5500b89aa33311351950fa63, tanggal 25 Agustus 2017.

Mjundi. 2011. "Bang Nunung, Pendekar Silat Betawi Rawa Belong", diakses dari http://pkskebonjeruk.blogspot.co.id/2011/11/bang-nunung-pendekar-silat-betawi-rawa.html, tanggal 26 Agustus 2017.

Siddiq, Zain Ibnu. 2011. "Cingkrig Gerak Cipta - Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong", diakses dari http://www.silatindonesia.com/2011/05/cingkrig-gerak-cipta-maenpukulan-khas-betawi-rawa-belong/, tanggal 22 Agustus 2017.

"Gerak Rasa Sanalika", diakses dari https://archive.kaskus.co.id/thread/7090373/1, tanggal 22 Agustus 2017.

"H. Nunung Pendekar Betawi Rawa Belong", diakses dari http://forumsilat.blogspot.co.id/2012/08/tokoh-pencak-silat-betawi.html, tanggal 7 Juli 2017.

"Sang Guru Besar Silat Betawi dari Rawa Belong", diakses dari https://belajarcerita.com/2017/05/19/sang-guru-besar-silat-betawi-dari-rawa-belong/, tanggal 15 Mei 2017.

Becky Mardani

Becky Mardani adalah intelektual muda Betawi yang menjadi praktisi pertelevisian (produser eksekutif SCTV). Anak ketiga dari tujuh bersaudara ini lahir di Jakarta pada tanggal 3 Juli 1965. Ayahnya bernama H. Nasir Nissin dan ibu Hj. Samaah bintin Asim (jakarta.go.id). Masa kecil Becky dihabiskan di wilayah Jakarta Barat dengan bersekolah di SDN Meruya Ilir 05 Pagi, lalu ke SMPN 105 Jakarta Barat, dan SMA Palmerah. Lulus SMA Becky meneruskan pendidikan formalnya di Universitas Indonesia.

Setelah memperoleh gelar sarjana Becky mulai meniti karier di dunia kewartawanan dengan menjadi karyawan PT. Surya Citra Televisi (SCTV). Awalnya dia bekerja meliput berita di lapangan. Sebagai peliput tentu Becky harus pergi ke berbagai tempat untuk mencari berita, seperti Arab Saudi, China, Malaysia, Thailand, Hongkong, hingga Belanda. Berkat keuletannya dalam bekerja tersebut Becky kemudian "naik pangkat" menjadi pembaca naskah berita, dan akhirnya sebagai produser eksekutif sejak tahun 1996 hingga sekarang.

Salah satu kiprahnya dalam bidang penyiaran adalah sebagai bagian dari tim seleksi calon komisioner Komisi Penyiaran Indonedia Daerah (KIPD) DKI Jakarta. KPID merupakan lembaga independen pengawas penyiaran stasiun televisi dan radio lokal. Lembaga ini didirikan karena sejak berlakunya UU Penyiaran konsep Sistem Stasiun Jaringan (SSJ) belum berjalan maksimal. Publik masih bisa menonton stasiun televisi swasta Jakarta bersiaran secara nasional sehingga TV lokal menjadi kehilangan potensi ekonomi yang berdampak pada penurunan mutu siaran dan produksi informasinya (Thaniago, 2014).

Agar terjadi keseimbangan dalam pelaksanaan penyiaran berjaringan, KPID selaku otoritas pemberi izin harus memiliki orang-orang yang tangguh untuk mengawalnya. Oleh karena itu, pemilihan komisioner diharapkan dapat mengakomodir kepentingan banyak pihak, termasuk pelaku industri TV. Adapun tim penyeleksinya sendiri berdasarkan Pedoman Rekrutmen Komisi Penyiaran Indonesia Pasa4 Ayat 4 berasal dari unsur tokoh masyarakat, akademisi, dan pemerintahan provinsi. Unsur akademisi ditempati oleh Yasmine Zaki Shahab yang berlatar belakang belakang Guru Besar Antropologi UI dan Sunu Budiharjo (pengajar di Universitas Bina Nusantara), unsur pemerintahan oleh Made Suarjaya (Kominfo), dan unsur tokoh oleh Yoyo Muchtar (tokoh Betawi) dan Becky Mardani, yang walau berasal dari industri (SCTV) tetapi diposisikan sebagai tokoh masyarakat Betawi.

Menurut Thaniago (2014), tim yang diketuai oleh Yasmine Zaki Shahab menyeleksi 26 calon komisioner KPID DKI Jakarta melalui proses administratif, wawancara, ujian tertulis, dan ujian psikotes. Dari ke-26 calon tadi nantinya akan disaring minimal menjadi 14 nama calon untuk selanjutnya diserahkan kepada DPRD DKI Jakarta agar menjalani uji kepatutan dan kelayakan.

Berkaitan dengan posisi Becky sebagai tokoh masyarakat Betawi di tim seleksi komisioner KPID DKI Jakarta, sebenarnya bukanlah "barang baru". Semasa kuliah suami Hj. Inna dan ayah dari Muhammad Hafidz Maulana serta Aledyl D Akbari ini telah aktif di organisasi Betawi dalam wadah KMB (Keluarga Mahasiswa Betawi) UI bersama Prof. Hasbullah Thabrani (mantan dekan FKM UI), Prof. Dr. Hj. Sylviana Muni (Kasatpol PP DKI), dan Dr. Firdaus Djaelani (komisioner OJK) (wartakota.tribunnews.com). Bersama KMB Becky pernah sukses melakukan tur lenong mahasiswa ke beberapa daerah di Indonesia (jakarta.go.id).

Selepas dari KMB, dia aktif di beberapa organisasi lain, seperti: KNPI, PMI, AMPI, MABIN, LKB, dan Bamus Betawi. Selama aktif di Bamus Betawi Becky pernah menjadi salah seorang ketua yang membidangi masalah dan kemahasiswaan (jakarta.go.id). Selain itu, dia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Bamus periode 2008-2013 (gemaindonesia.wordpress.com). Menurut Becky yang dikutip oleh wartakota.tribunnews.com, Bamus Betawi harus menjadi organisasi yang dapat menampung semua potensi dan mengangkat budaya Betawi (terbuka, egaliter, demokratis, dan agamis) sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Belakangan, karena kegelisahan terhadap citra Betawi yang kadang mendapat stigma negatif, bersama sejarawan JJ. Rizal dan kawan-kawan Becky mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Betawi Foundation. Betawi Foundation berfokus pada wilayah intelektual yang memotret Betawi secara lebih akademis. Dan, bekerja sama dengan Masup Jakarta, Betawi Foundation telah menerbitkan ulang buku-buku Betawi yang berkualitas dan banyak dicari orang, seperti Kamus Dialek Jakarta, Terang Bulan Terang di Kali, dan Gambang Jakarte (karya Firman Muntaco) (jakarta.go.id). (ali gufron)

Foto: https://www.facebook.com/beky.mardani.12
Sumber:
"Becky Mardani, Drs. H", diakses dari http://www.jakarta.go.id/v2/dbbetawi/detail/97/ Becky-Mardani-Drs.-H, tanggal 1 September 2017.

Thaniago, Roy. 2014. "Mencari Punggawa Penyiar Lokal", diakses dari http://www.remotivi. or.id/kabar/93/Mencari-Punggawa-Penyiaran-Lokal, tanggal 1 September 2017.

"Mubes 6 Bamus Betawi Songsong Kehidupan yang Lebih Sejahtera", diakses dari https://gemaindonesia.wordpress.com/2013/03/05/mubes-6-bamus-betawi-songsong-kehidupan-yang-lebih-sejahtera/, tanggal 1 September 2017.

"Unsur Betawi Harus Tata Kembali Budaya", diakses dari http://wartakota.tribunnews.com/ 2013/02/26/unsur-betawi-harus-tata-kembali-budaya, tanggal 2 September 2017.

Ahmad Syaropi

Ahmad Syaropi adalah salah seorang Putra Betawi yang menjadi pejabat di lingkungan Kotamadya Jakarta Selatan. Pria yang tinggal di Jalan Meruya Ilir F1 No. 4 ini lahir di Kampung Meruya, Jakarta Barat, pada tanggal 24 September 1966. Dia adalah anak ketiga dari delapan bersaudara pasangan H. Tarmuzi, BA dan Hj. Turiah (jakarta.go.id).

Sebagaimana layaknya orang Betawi lain yang dekat dengan Islam, awalnya kedua orang tua menghendaki agar Ahmad Syaropi menjadi pendakwah. Oleh karena itu, setelah menamatkan sekolah dasar di SDN 01 Cengkareng Timur, Jakarta Barat, tahun 1977, dia dimasukkan ke Madrasah Tsanawiyah di Pondok Pesantren Daer-el-Qolam, Gitung Balaraja, Tangerang. Selanjutnya ke Madrasah Aliyah di Pondok Modern Daarussalam Gontor, Ponorogo.

Lulus dari Madrasah Aliyah tahun 1985, laki-laki yang akrab disapa Yopi ini tidak lantas menekuni bidang agama untuk menjadi pendakwah. Dia malah melanjutkan pendidikan ke jurusan Asia Barat, Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya), Universitas Indonesia (lulus tahun 1992). Tidak puas hanya mendapat gelar S1, Yopi melanjutkan kembali pendidikan jejang S2 ilmu ekonomi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, hingga lulus tahun 1996 (jakarta.go.id).

Dua tahun setelah mendapat gelar M.Si, Yopi memutuskan untuk mengabdikan diri pada negara menjadi Pegawai Negeri Sipil. Ketika telah menjadi Pegawai Negeri Sipil di Provinsi DKI Jakarta, berbagai jabatan pun mulai diembannya, di antaranya: (1) staf Museum Seni Rupa dan Keramik Dinas Museum dan Pemugaran Provinsi DKI Jakarta (1999-2001); (2) Plt. Kepala Sub Bagian Tata Usaha Museum Tekstil Dinas Museum dan Pemugaran Provinsi DKI Jakarta (2001); (3) Kepala Sub Bagian Tata Usaha Museum Tekstil Jakarta Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta (2001-2003); (4) Kepala Seksi Monumen Proklamasi UPT Monumen Nasional Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta (2003-2007); (5) Kepala Seksi Pengkajian dan Pengembangan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta (2007-2009); (6) Kepala Seksi Museum Moh. Husni Thamrin UPI, Museum Joang '45 Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta (2009-2010); dan (7) Kepala Suku Dinas Kebudayaan Kotamadya Jakarta Selatan.

Jabatan sebagai Kasudin Kebudayaan membuat Yopi kerap berhubungan dengan komunitas-komunitas seni Betawi di wilayahnya. Dia pun bertekad melakukan pembinaan secara optimal kepada para seniman dan sanggar atau organisasi kesenian. Adapun tujuannya adalah untuk memartabatkan seniman serta organisasi kesenian Betawi. Caranya antara lain dengan memberikan stimulan berupa penghargaan kebudayaan atas upaya yang telah dilakoni seniman secara konsisten dan berkesinambungan (jakarta.go.id).

Keseriusan memartabatkan organisasi kemasyarakatan dan seniman Betawi sebenarnya telah dilakukan Yopi jauh sebelum dia menjabat sebagai Kasudin Kebudayaan. Pada tahun 2003-2007 misalnya, dia telah menjadi anggota Dewan Pakar Bamus Betawi; anggota ICMI DKI Jakarta bidang sosial-budaya (2005-sekarang); pendiri Majelis Metropolitsn (MM) tahun 2001; penasihat PPS Beksi (2005-2009); dan Sekretaris umum Lembaga Kebudayaan Betawi sejak tahun 2004.

Pada periode 2015-2018 Yopi dilantik lagi dalam kepengurusan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB). Dalam pelantikan yang dilakukan di gedung Nyi Ageng Serang tersebut terpilih sebagai Ketua Umum LKB H. Tatang Hidayat SH; Sekretaris Umum H. Ahmad Syaropi, Msi; ketua bidang Informasi dan Dokumentasi Kombes Polisi M. Zarkasih, SH, MH, Msi; Ketua Bidang Pelestarian Drs. Andi Yahya Saputra; Ketua Bidang Pengembangan Asiantoro Msi; Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Pemberdayaan Firmansyah A. Wahid, Msi; dan Ketua Bidang Pagelaran Imron Hasbullah, S.Psi (majalahbetawi.com).

Lembaga Kebudayaan Betawi sendiri dibentuk berdasarkan usul dari kalangan masyarakat Betawi dalam Pralokarkarya Penggalian Seni Budaya Betawi yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta tanggal 16-18 Februari 1976. Usul tersebut kemudian ditetapkan dalam akta pembentukan LKB tanggal 22 Juni 1976 dengan para pendirinya; H. Abdullah Ali, dr. H. Atje Muljadi, H. Effendi Yusuf, SH, Drs. Alwi Mas'oed, H.M. Napis Tadjeri, H. Sa'ali, SH, Drs. H. Rusdi Saleh, H. Hamid Alwi, H. Salman Muchtar, H. Irwan Sjafi'ie, Hj. Emma A. Bisrie, Prof. Dr. Yasmine Z. Shahab, dan Husein Sani (lembagakebudayaanbetawi.com).

Dalam situs resminya LKB bertujuan membantu Pemerintah DKI Jakarta dalam penelitian, penggalian, pengembangan, dan pemeliharaan nilai-nilai budaya tradisional Betawi. Tujuan tersebut termaktub dalam visi dan misi organisasi. Adapun visinya adalah menjadi laboratorium dan lembaga ketahanan adat istiadat seni budaya tradisional Betawi. Sedangkan misinya: (1) memperkuat keberadaan organisasi agar memiliki power off bargaining; (2) melestarikan, membina, mengembangkan dan mengamankan budaya tradisional Betawi; (3) memberdayakan pelaku seni budaya Betawi secara profesional untuk peningkatan taraf hidup dan kesejahteraannya; (4) memperkuat jaringan kemitraan dalam lingkup nasional dan internasional; dan (5) menjadi kontributor budaya tradisional bagi kekayaan khazanah budaya bangsa.

Sebagai catatan, suami dari Risa Arifiani (dinikahi tahun 1986) dan ayah dari Kamela Ezam Qiyani, Ashila Zahra Hanany, serta Muhammad Hakam Alkautsar ini juga aktif di dunia kampus sebagai dosen Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Maulana Yusuf, Serang, Banten. Sedangkan organisasi lain di luar masyarakat Betawi, di antaranya adalah narasumber tetap Pusbinroh DKI (1998-sekarang), Direktur PT. Alfa Berea Utama (1996-2009), dan Ketua Yayasan Al-Ittihad (1986-sekarang). (gufron)

Foto: http://www.beritajakarta.id/potret/album/2450/LKB-dan-Djarot-Bahas-Pelestarian-Budaya-Betawi
Sumber:
"Ahmad Syaropi, Drs. H. M.si", diakses dari http://www.jakarta.go.id/v2/dbbetawi/detail/ 63/Ahmad-Syaropi-Drs.-H.-M.si, tanggal 7 September 2017.

"Sejarah Berdirinya LKB", diakses dari http://lembagakebudayaanbetawi.com/about/sejarah-berdirinya-lkb, tanggal 8 September 2017.

"Pelantikan Pengurus LKB: Programkan Standar Etika yang Santun Berbudaya", diakses dari http://www.majalahbetawi.com/2015/03/normal-0-false-false-false-in-x-none-x_16.html, tanggal 8 September 2017.

Baitusen dan Mai Lamah

(Cerita Rakyat Daerah Kepulauan Riau)

Alkisah, di daerah Natuna, Kepulauan Riau, tinggal sepasang suami-isteri bernama Baitusen dan Mai Lamah. Semenjak menikah mereka hidup serba kekurangan. Suatu hari Baitusen memberi usul pada isterinya untuk pindah ke pulau lain agar memperoleh penghidupan lebih baik. Adapun tempat yang dituju adalah Bunguran, sebuah pulau yang terkenal dengan kekayaan lautnya.

Setelah menimbang beberapa waktu, Mai Lamah menyetujui usul suaminya. Tidak lama kemudian mereka berangkat menggunakan sampan menuju Pulau Bunguran. Sesampai di sana Baitusen mencari penghidupan sebagai nelayan penangkap ikan, kerang, siput laut, dan binatang laut lainnya. Sementara Mai Lamah menyusur pantai sembari mengumpulkan cangkang kerang dan siput untuk selanjutnya dibawa pulang ke rumah. Di rumah, dirangkainya cangkang kerang dan siput yang didapat menjadi barang perhiasan (gelang dan kalung). Begitu seterusnya hingga kehidupan mereka berangsur-angsur membaik.

Suatu hari, tanpa sengaja Baitusen menemukan sebuah lubuk yang berisi ribuan ekor teripang di perairan ganas yang jarang didatangi nelayan. Oleh karena harga teripang relatif mahal, dalam waktu singkat Baitusen menjadi orang kaya. Dia tidak lagi mencari kerang dan ikan-ikan kecil yang berharga murah. Sang isteri pun tidak lagi menyusur pantai mencari cangkang untuk dijadikan perhiasan, melainkan beralih pekerjaan membantu mengeringkan teripang-teripang hasil tangkapan Baitusen.

Tidak berapa lama berselang pasangan suami isteri ini menjadi sangat terkenal tidak hanya di seantero Bunguran, melainkan hingga ke mancanegara, dari Singapura hingga Tiongkok. Para saudagar dari negara-negara tersebut menyebut Baitusen sebagai "Saudagar Teripang", sementara Sang isteri disebut sebagai "Nyonya May Lam". Keduanya diperlakukan sangat istimewa oleh para saudagar yang hendak membeli teripang.

Akibat sering bergaul dengan orang-orang di luar budayanya sendiri, secara perlahan namun pasti membuat pola perilaku Mai Lamah mulai berubah. Dia tidak lagi mau berkumpul, ngerumpi, dan bercanda dengan para tetangga. Busana beserta aksesoris yang dia kenakan hampir menyerupai para isteri dari saudagar-saudagar yang datang hendak berbisnis teripang. Gincu merah menyala, minyak wangi berbau menyengat, bedak tebal, ditambah dengan kalung dan rencengan gelang emas selalu menemani kemana pun dia pergi.

Suatu ketika ada seorang tetangga mengadakan syukuran. Seluruh warga diundang. Hanya Mai Lamah seorang yang tidak datang. Sang empunya hajat kemudian menghantarkan nasi ke rumah agar Mai Lamah turut mendapat berkah dari acara syukuran yang dia adakan. Tetapi bukan sambutan hangat dan ucapan terima kasih yang diterima, Mai Lamah malah menghardik si pemberi hantaran sambil mencibir kalau yang dibawa hanya berupa nasi, ikan asin, sambal, dan sayur daun pepaya. Bagi Mai Lamah makanan itu sudah dianggap sebagai makanan nelayan miskin, sehingga dia menyuruh membawa hantarannya kembali.

Mendengar kata-kata pedas Mai Lamah, Sang tetangga hanya terdiam dan segera pamit pulang. Baitusen yang menyaksikan percakapan tadi berusaha menasihati sang isteri agar tidak berlaku tinggi hati. Dia mengingatkan bahwa dahulu kehidupan mereka tak ubahnya seperti si pemberi hantaran. Namun, nasihat Baitusen tidak diindahkan oleh Mai Lamah. Dia malah berkilah kalau sekarang mereka telah menjadi saudagar kaya raya. Sudah bukan masanya lagi bergaul dengan sembarang orang.

Tabiat Mai Lamah yang tinggi hati semakin hari malah menjadi-jadi. Apalagi ketika diketahui tengah mengandung jabang bayi. Dia semakin gemar memamerkan perhiasan hadiah para saudagar mancanegara yang hendak membeli tangkapan teripangnya. Selain itu, dia juga lebih selektif dalam menjalin pertemanan. Hanya orang-orang kaya dan keturunan bangsawanlah yang akan dia dekati dan dijadikan sebagai kolega. Sementara orang-orang kebanyakan yang tinggal di kampungnya dipandang sebelah mata.

Oleh karena itu, ketika ada seorang dukun beranak bernama Mak Semah yang menawarkan diri memeriksa kondisi kandungannya yang mulai membesar, Mai Lamah dengan tegas menolaknya. Dengan nada menyindir, dia mengatakan bahwa lebih percaya pada tabib dari negeri Tiongkok yang memiliki kemampuan jauh di atas Mak Semah. Dia juga mengatakan kalau penampilan lusuh Mak Semah tidak layak untuk memegang apalagi memeriksa kandungannya.

Setelah "diceramahi" seperti itu Mak Semah pulang dengan perasaan dongkol. Maksud hati ingin menolong tanpa meminta imbalan, malah cemoohan dan hinaan yang diterima. Dalam hati, Mak Semah bersumpah tidak akan membantu persalinan sebelum Mai Lamah meminta maaf. Dia yakin Mai Lamah pasti akan meminta pertolongan, sebab dialah satu-satunya dukun beranak yang ada di kampung. Apabila hendak ke dukun beranak lain, maka Baitusen harus membawa isterinya menyeberang ke pulau lain. Sementara bila mengandalkan pertolongan tabib dari Tiongkok, belum tentu ada setiap saat karena Sang tabib ikut dalam perahu saudagar yang membeli teripang Baitusen.

Benar saja, beberapa bulan kemudian, tibalah masanya Mai Lamah melahirkan. Ketika perut mulai merasa mulas, dia meminta Baitusen mencari tabib yang biasa ikut bersama salah seorang saudagar dari daerah Tiongkok. Sayangnya, sang saudagar baru saja berlayar sehingga Baitusen terpaksa meminta pertolongan Mak Semah. Setelah didatangi ternyata Mak Semah menolak untuk menolong sebelum Mai Lamah meminta maaf padanya. Tetapi karena Mak Semah adalah seorang perempuan yang pernah mengalami hal serupa (melahirkan), di dalam hati dia juga merasa kasihan. Oleh karena itu, apabila Mai Lamah tetap menolak dia menyarankan agar Baitusen membawanya ke dukun bayi lain yang ada di pulau seberang.

Agar Mai Lamah lekas mendapat pertolongan, Baitusen langsung pamit setelah mendapat penjelasan dari Mak Semah. Sesampainya di rumah dia memberi penjelasan sekaligus membujuk agar isterinya meminta maaf kepada Mak Semah. Di luar dugaan, Mai Lamah menolak meminta maaf dan dia meminta agar Baitusen mengantarkan ke pulau seberang. Pikirnya, lebih baik meminta pertolongan dukun bayi di pulau seberang daripada harus menanggung malu dan mendapat cap sebagai orang yang "menelah ludah sendiri".

Singkat cerita Baitusen menyanggupi permintaan isterinya. Dengan bersusah payah dia membopong Mai Lamah menuju perahu. Tetapi saat Baitusen akan mendayung perahunya, tiba-tiba Mai Lamah teringat akan peti harta kekayaan yang masih tertinggal di rumah. Dia takut peti beristeri uang, emas dan barang berharga lain itu akan dijarah orang sehingga memerintah Baitusen mengambil dan membawanya serta.

Tanpa berpikir panjang Baitusen menuruti perintah isterinya membawa peti harta yang sangat berat. Walhasil, di tengah laut perahu yang mereka naiki oleng dan tenggelam diterjang gelombang akibat adanya badai besar yang disertai dengan sambaran petir. Sebelum tenggelam, tubuh Mai Lamah sempat terkena sambaran petir hingga berubah menjadi batu. Seiring waktu, batu yang mirip seorang perempuan sedang berbadan dua itu semakin membesar dan menjadi sebuah pulau. Oleh masyarakat setempat, pulau jelmaan Mai Lamah itu kemudian diberi nama Sanua yang berarti "satu tubuh berbadan dua".

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Batu Kisar

Batu kisar adalah sebutan orang Melayu di Malaysia bagi sebuah peralatan rumah tangga yang berfungsi sebagai penumbuk bahan makanan, seperti: beras, beras ketan, kacang hijau, dan lain sebagainya hingga menjadi tepung. Selain itu, batu kisar juga dapat difungsikan untuk menumbuk atau meramu bahan-bahan pembuat obat-obatan tradisional.

Sesuai dengan namanya, peralatan ini terbuat dari batu berjenis granit yang terdiri atas dua komponen, yaitu anak dan induk. Induk batu kisar pada bagian tengahnya memiliki lubang sebagai ruang penampung bahan yang akan ditumbuk. Disamping lubang, bagian induk juga memiliki alur untuk mengalirkan air sisa tumbukan. Sedangkan yang disebut anaknya adalah berupa sebatang kayu lonjong yang ujungnya dibuat bulat sedemikian rupa agar pas/cocok/muat dengan lubang induk.

Bahan yang akan dikisar umumnya akan direndam terlebih dahulu agar mudah dilembutkan. Kemudian sedikit-demi sedikit dimasukkan ke dalam lubang kisar serta diberi sejumlah air agar hasil tumbukan tidak menjadi kasar. Hasil kisaran atau tumbukan akan berbentuk menyerupai tepung basah. Dan, bila ingin digunakan harus ditiris terlebih dahulu untuk memisahkan air dan tepung hasil tumbukan.

Petikas

Petikas atau biasa disebut juga dengan bak adalah sebutan orang Lampung bagi tempat menyimpan butiran padi atau beras yang telah terkelupas kulitnya setelah ditumbuk. Petikas dibuat dari kayu papan teras dengan bagian atas memakai tutup yang mudah dibuka. Sebelum dibentuk sedemikian rupa menjadi petikas, papan teras akan diserut menggunakan benda tajam (mis. Golok) agar terlihat rapi. Dan, setelah terbentuk peralatan penyimpan ini biasanya diletakkan di dapur atau di tempat yang mudah dijangkau ketika isinya akan ditanak.

Nyallai Siwok

Indonesia kaya akan makanan tradisional yang diolah sedemikian rupa dengan cara dibakar, dipanggang, dikukus, dipepes, digoreng, dan diasapi untuk dikonsumsi sehari-hari maupun sebagai perlengkapan dalam upacara adat. Makanan tradisional, yang oleh globallavebookx.blogspot.co.id didefinisikan sebagai segala jenis olahan khas yang dipengarui oleh kebiasaan dan menyatu dalam sistem sosial budaya sehingga rasa, tekstur, dan aroma yang sesuai dengan lidah masyarakatnya, umumnya menggunakan berbagai macam bahan yang diperoleh dari lingkungan sekitar.

Salah satu bahan tersebut adalah beras ketan. Menurut Ramadhanny (2017), beras ketan termasuk dalam jenis padi-padian yang buahnya berwarna lebih putih serta berukuran lebih besar dan keras daripada jenis padi lain. Beras ketan mengandung 169 kalori (dalam 200 gram), vitamin B-6, dan zat tembaga yang berkhasiat dapat mengurangi resiko penyakit jantung, penabah energi, pelawan radikal bebas, penyeimbang metabolisme tubuh, mencegah anemia, memperlancar sistem pencernaan, membantu kesehatan otak, dan lain sebagainya.

Di Provinsi Lampung, tepatnya di Kabupaten Lampung Barat beras ketan disebut juga dengan siwok. Oleh masyarakat di sana siwok dapat dibuat menjadi berbagai macam penganan, seperti: segubai (dicampur dengan santan kelapa dan dibungkus daun pisang), bebay maghing (dicampur dengan kentang kukus, gula tepung, garam, santan, dan minyak goreng), tapol (dicampur dengan santan kelapa, daun pisang, dan bawang merah), bekhebus (dicampur pisang), tapai (dicampur ragi dan dibungkus daun pisang), jipang (dicampur gula, loba lobi, dan minyak goreng), dan juwadah (dicampur gula merah, gula pasir, santan, dan daun pandan) (keunikanbahasalampung.blogspot.co.id).

Khusus untuk warga di Kampungbaru, Pekon Wates, Kecamatan Balikbukit, Lampung Barat, ada sebuah tradisi unik dalam memproses siwok. Tradisi ini dinamakan sebagai nyallai siwok atau sangrai ketan. Menurut Saputra (2016), nyallai siwok merupakan salah satu tahapan dalam rangkaian upacara perkawinan. Bujang-gadis pasangan yang akan menikah diharuskan membuat nyallai yang berbahan siwok dan gula merah sebagai pedatong atau oleh-oleh bagi calon kerabat baru berdasar ikatan pernikahan. Nyallai (sangraian) yang dibuat oleh bujang disebut kakilu yang akan diberikan pada indau atau kawan akrabnya, sedangkan nyallai buatan sang gadis disebut babekhas akan diberikan kepada kelama atau calon ibu mertuanya. (gufron)

Sumber:
"Pengertian Makanan Tradisional atau Makanan Khas Menurut Ahli", diakses dari http://globallavebookx.blogspot.co.id/2015/04/pengertian-makanan-tradisional-atau.html, tanggal 29 Juli 2017.

Ramadhanny, Caesarra Nur. 2017. "Beras Ketan", diakses dari http://www.kerjanya.net/faq/18726-beras-ketan.html, tanggal 1 Agustus 2017.

Saputra, Edi. 2016. "Nyallai Siwok, Tradisi Masyarakat Asli Lampung Barat", diakses dari http://www.saibumi.com/artikel-79574-nyallai-siwok-tradisi-masyarakat-asli-lampung-barat-.html#ixzz4p1uTJlRU , tanggal 29 Juli 2017.

"Kue Khas Lampung yang terbuat dari Ketan (Siwok), diakses dari http://keunikanbahasalampung.blogspot.co.id/2013/05/kue-khas-lampung-yang-terbuat-dari.html, tanggal 2 Agustus 2017.

Popular Posts

-