Balok Menes, Olahan Singkong Khas Banten

Singkong atau ubi kayu atau ketela pohon dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidat. Bagian umbinya berwana putih kekuningan rata-rata bergaris tengah 2-3 centimeter dengan pantang sekitar 40-80 centimeter. Tanaman dengan nama latin manihot esculenta ini pertama kali dikembangkan di wilayah Amerika Selatan sekitar 10 ribu tahun lalu. Di Indonesia sendiri singkong mulai ditanam secara komersial pada masa kolonial sekitar tahun 1810. Namun, baru pada permulaan abad ke-20 dibudidayakan secara luas karena konsumsinya meningkat. Singkong pun menjadi sumber pangan utama setelah padi-padian dan jagung.

Singkong diolah dengan berbagai macam cara dan digunakan pada berbagai macam masakan. Di daerah Pandeglang, Banten, misalnya singkong diolah sedemikian rupa menjadi penganan yang dinamakan balok menes. Nama balok mungkin diberikan karena penganan ini berbentuk menyerupai balok (kayu kubus panjang), sedangkan menes diambil dari nama daerah tempat kue basah ini pertama dibuat, salah satu kecamatan di Kabupaten Pandeglang. Balok menes juga biasa disebut sebagai gegetuk cioda untuk membedakannya dengan getuk yang berwarna cokelat campuran gula merah.

Balok menes berwarna putih dengan tekstur lembut bila disentuh dan kenyal bila telah berada di dalam mulut. Kenikmatan kue balok ini lebih terasa ketika bagian atasnya dibubuhi bawang goreng yang dicampur minyak kepala serta taburan serundeng yang berada di antara balok yang dilipat. Adapun bahan-bahan lengkapnya adalah: singkong, kelapa parut, bawang merah, minyak sayur, gula pasir, dan garam. Sedangkan cara membuatnya diawali dengan mengupas singkong dan cuci bersih kemudian kukus hingga matang. Singkong yang telah matang kemudian ditumbuk atau digiling hingga halus, diberi garam secukupnya, lalu dibentuk menjadi lapis-lapis menyerupai balok atau sesuai keinginan.

Tahap selanjutnya adalah mengiris tipis bawang merah lalu goreng hingga matang kecoklatan dan tuang ke dalam wadah yang telah berisi minyak. Kemudian membuat bahan serundeng berupa sangraian parutan kelapa yang diberi gula putih, garam, serta rempah-rempah (lada, pala, cengkeh, ketumbar, kayu manis, kapulaga, dan lain sebagainya). Sebelum balok menes disajikan, kedua bahan tadi ditabur di atas atau di dalam lapisan balok singkong.

Foto: https://cookpad.com/id/resep/1862629-kue-balok-postingrame2_jajanantradisional

Watu Gilang

Watu Gilang atau Watu gigilang atau lengkapnya Watu Gilang Sriman Sriwicana adalah batu andesit berbentuk persegi panjang berukuran sekitar 190x121 centimeter dan tebal 16,5 centimeter. Adapun letaknya berada tidak jaih dari Masjid Agung Banten dan Keraton Surosowan di Kecamatan Kasemen, Kota Serang (Sutisna, 2017). Watu (batu) yang telah menjadi benda cagar budaya ini dahulu merupakan benda sakral karena menjadi tempat penobatan para sultan Banten.

Menurut Darussalam (2015) ada dua versi mengenai asal usul Watu Gilang. Versi pertama dari Claude Guillot yang menyatakan bahwa saat Maulana Hasanudin berhasil menaklukkan Banten Girang tahum 1526, Sunan Gunung Jati memerintahkannya mendirikan sebuah kota baru di tepi pantai. Di lokasi tersebut ada seorang resi bernama Betara Guru Jampang yang sedang bertapa di atas sebuah batu. Dan, batu bekas pertapaan Betara Guru Jampang tadi kemudian diberi nama sebagai Watu Gilang. Selanjutnya, Watu Gilang menjadi tempat penobatan Maulana Hasanudin dan penerusnya.

Sedangkan versi lainnya menyebutkan bahwa setelah Pajajaran ditaklukan pada tahun 1526, batu tempat penobatan rajanya yang dinamakan Palangka Sriman Sriwacana diboyong dari Pakuan ke Keraton Surosowan oleh Maulana Yusuf, anak Maulana Hasanudin. Alasannya batu itu tidak akan digunakan lagi untuk penobatan raja baru Pajajaran dari trah yang telah takluk. Sebab, Maulana Yusuflah yang mengklaim sebagai penerusnya (buyut perempuannya merupakan putri Sri Baduga Maharaja).

Lepas dari kedua versi tersebut, yang jelas Watu Gilang pernah menjadi benda sakral dalam Kesultanan Banten. Ia tidak boleh dipidahtempatkan karena dipercaya akan menyebabkan keruntuhan kerajaan (Destlama, 2017). Namun, seiring waktu peran Watu Gilang mulai pudar alias tidak dominan lagi. Hal ini dimulai ketika Banten dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa, pada sekitar tahun 1596 bersama para penasihatnya mengambil keputusan bukan di Watu Gilang melainkan di lokasi lain yang bernama Darpragi (situsbudaya.id). Dan, saat ini walau masih berada di tempat semula, tetapi fungsinya hanya menjadi sebuah simbol akan kejayaan Banten masa lalu. Oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten Watu Gilang dijadikan sebagai benda cagar budaya. Sekelilingnya dibuatkan pagar besi tipis dan papan berisi sedikit penjelasan tentang asal usulnya. Sementara di luar pagar telah berdiri gubuk-gubuk bambu tanpa dinding sebagai tempat berjualan.




Foto: Ali Gufron
Sumber:
Sutisna. 2017. "Watu Gilang di Banten Lama Tempat Penobatan", diakses dari https://www.kabar-banten.com/watu-gilang-di-banten-lama-tempat-penobatan/, tanggal 26 April 2018.

Deslatama, Yandhi. 2017. "Nasib Menyedihkan Sajadah Batu Tempat Penobatan Sultan Banten", diakses dari http://www.liputan6.com/regional/read/3033612/nasib-menyedihkan-sajadah-batu-tempat-penobatan-sultan-banten, tanggal 27 April 2018.

"Watu Gilang Banten", diakses dari https://situsbudaya.id/watu-gigilang-banten/, tanggal 27 April 2018.

Darussalam, JS. 2015. "Watu Gilang; Simbol Kekuasaan Raja dan Kehancurannya", diakses dari http://bantenhits.com/2015/11/22/watu-gilang-simbol-kekuasaan-raja-dan-kehancurannya/, tanggal 28 April 2018.

Si Penyadap Nira

(Cerita Rakyat Daerah Madura)

Alkisah, ada seorang laki-laki yang berprofesi sebagai penyadap nira. Setiap hari pekerjaannya memanjat pohon siwalan untuk menyadap air nira. Nira hasil sadapan kemudian dimasak dan diolah hingga menjadi gula aren. Selanjutnya gula aren dijual di pasar dan keuntungannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Suatu hari saat sedang asyik menyadap nira, tiba-tiba cuaca berubah drastis. Langit tertutup gumpalan awan hitam dan udara terasa sangat lembab. Tetapi Si laki-laki tidak menghiraukannya. Pikirnya, sebelum hujan turun masih ada cukup waktu mengumpulkan air nira ke dalam wadah bambu. Oleh karena itu, pohon demi pohon tetap dia panjat untuk diambil niranya.

Ketika sampai di puncak pohon keempat hujan turun dengan sangat lebat. Selain itu, hujan disertai pula dengan tiupan angin topan yang membuat pepohonan meliuk-liuk seakan hendak tercerabut dari akarnya. Si penyadap yang berada di puncak pohon tentu terkena imbasnya. Tubuh laki-laki itu terombang-ambing hingga nyaris terlempar dari pohon. Dalam ketakutan yang teramat sangat, dia memohon pada Tuhan agar diselamatkan. Dia berjanji apabila selamat bernazar akan memotong sapinya yang paling gemuk sebagai hidangan bagi para fakir miskin.

Ternyata doa tadi didengar Tuhan. Tidak berapa lama hujan disertai angin topan mulai reda. Si penyadap segera turun dari pohon nira. Namun, baru sampai di bagian tengah batang nira, pikirannya mulai bercampur aduk antara gembira dan penyesalan. Dia gembira karena selamat dari maut, sementara rasa penyelasan karena telah berjanji akan menyembelih sapi gemuk kesayangannya.

Di tengah kebimbangan harus mengorbankan sapi kesayangan, Si penyadap nira memohon lagi pada Tuhan agar diberi keringanan untuk mengganti sapi dengan seekor kambingnya yang paling besar dan gemuk. Tetapi karena masih merasa sayang, permohonan itu diralat lagi menjadi seekor ayam yang dia rasa sudah cukup untuk memuaskan beberapa fakir miskin. Baginya, fakir miskin yang jarang makan daging pasti akan berterima kasih walau hanya diberi potongan kecil daging ayam.

Pikiran mengorbankan daging ayam ternyata tidak bertahan lama. Lagi-lagi dia merasa sayang dan meralat hanya akan memberikan lima butir telur ayam. Dan, karena tidak terjadi apa-apa lagi dia berkeyakinan bahwa negosiasi nazar menjadi hanya lima butir telur ayam dirasa sudah cukup. Bahkan dia menjadi bertanya pada diri sendiri jangan-jangan angin dan hujan tadi hanyalah lewat belaka. Oleh karena itu, dia meneruskan lagi aktivitas memanjat pohon siwalan seakan melupakan kejadian luar biasa yang baru saja dialami.

Saat berada di puncak pohon siwalan, dengan hati gembira dia mulai menyadap sambil bersiul mendendangkan sebuah lagu. Di sini dia benar-benar berkeyakinan bahwa hujan-angin barusan hanya "numpang lewat" sehingga tidak perlu bernazar. Toh dia tetap selamat dan dapat kembali menyadap nira. Oleh karena itu, lebih baik memakan telur nazar itu sendiri daripada diberikan pada fakir miskin.

Dalam suasana gembira tersebut Si penyadap nira menjadi tidak berhati-hati dan waspada. Ketika akan turun kakinya menapak batang pohon yang licin bekas terkena siraman air hujan sehingga membuatnya tidak dapat menjaga keseimbangan dan jatuh ke tanah. Si penyadap nira langsung terkapar dan tidak bergerak lagi untuk selamanya.

Diceritakan kembali oleh Ali Gufron

Siti Nurbaya Bakar

Bila mendengar nama Siti Nurbaya maka yang terlintas di benak sebagian orang adalah sebuah novel terbitan Balai Pustaka karangan Marah Rusli pada tahun 1922 silam yang menceritakan kisah cinta orang Minang antara Sambulbahri dan Sitti Nurbaya yang disusupi oleh Datuk Maringgih. Siti Nurbaya yang akan diceritakan di sini bukanlah orang yang "kasihnya tak sampai" melainkan seorang birokrat yang menduduki posisi sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam Kabinet Kerja bentukan Presiden Joko Widodo.

Siti Nurbaya Bakar lahir di Jakarta 28 Juli 1956 dari Pasangan Mochammad Bakar (Betawi) dan Sri Baini (Lampung) (viva.co.id). Dia memulai pendidikan formalnya di Sekolah Dasar Muhammadiyah III Matraman, Jakarta hingga lulus tahun 1968. Kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 50 Slamet Riyadi sampai tahun 1971. Lulus SMP Siti meneruskan ke Sekolah Menangah Atas Negeri 8 Bukit Duri (lulus tahun 1974). Selanjutnya Siti menempuh pendidikan tingginya di Institut Pertanian Bogor dari tahun 1975-1979 (Lestari, 2014).

Menurut situs pribadinya (sitinurbaya.com), semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar Siti telah berkenalan dengan "dunia birokrasi dan ilmu administrasi" melalui tulisan Said bin Tsabit (penulis kodifikasi Al Quran era pemerintahan Ustman bin Affan 644-656 Masehi). Baginya, Said yang dijuluki sebagai "Pena Allah" atau "Sekretaris Nabi" itu merupakan sosok idola yang mengispirasi gerak langkah Siti selanjutnya.

Oleh karena itu, setamat menempuh pendidikan di Institut Pertanian Bogor pada tahun 1979 Siti memulai karir dalam bidang birokrasi di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Lampung (tirto.id). Menurut Fathurrohman (2014), selama di Bappeda Provinsi Lampung Siti sempat menduduki berbagai jabatan, di antaranya: Kasi Penelitian Fisik (1983-1985), Kasi Pengarian (1985-1988), Kasubid Analisis Statistik, Kasi Tata Ruang (1988-1990), Kabid Penelitian (1990-1995), Wakil Ketua dan akhirnya Ketua Bappeda Tk. I Pemda Lampung dari tahun 1996 hingga 1998.

Sebagai catatan, selama di Bappeda, Siti Nurbaya Bakar menyempatkan melanjutkan pendidikan di International Institute for Aerospace Survey and Earth Science (ITC) Enschede, Belanda hingga meraih gelar master tahun 1988 (Aditya, 2014) dan gelar doktor dari Fakultas Perencanaan Sumber Daya Alam, Institut Pertanian Bogor. Selain itu, dia juga berhasil meraih sejumlah penghargaan, seperti: Penerus Generasi 45 dari Dewan Harian Daerah Angkatan 45 (1996), penghargaan dari Menko Kesra atas partisipasi dalam penanganan kebakaran lahan dan hutan (1996), penghargaan dari Ikatan Surveyor Indonesia dalam Aplikasi Sistem Informasi Geografi (1992), penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja RI sebagai Wakil Ketua Dewan Produktivitas Daerah (1989), dan penghargaan dari Gubernur Lampung atas Pencapaian Hasil Penataran P4 terbaik ke-2 (1980) (sitinurbaya.com)

Sukses berkarir sekitar 16 tahun di Bappeda Provinsi Lampung, tanggal 8 Mei 1998 Siti ditarik ke Jakarta untuk menempati jabatan Kepala Biro Perencanaan Kementerian Dalam Negeri pimpinan R. Hartono (Akuntono, 2014). Selanjutnya, menjadi Sekretaris Jenderal Depdagri (2001-2005), tenaga pengajar perguruan tinggi di lingkungan Kopertis Wilayah III (2001- sekarang), Pelaksana Manajemen STPDN (2003-2004), Dewan Komisaris Pusri (2011- sekarang), Ketua Komite Investasi dan Manajemen Resiko Pusri (2013), dan Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Daerah RI (2006-2013) sebuah institusi yang dibentuk untuk menjembatani kepentingan-kepentingan legislatif pemerintah-pemerintah provinsi dengan Dewan Perwakilan Rakyat (Aditya, 2014).

Penunjukan Siti sebagai Sekjen DPD RI menurut Ginanjar Sasmita yang dikutip oleh Fathurrohman (2014) disebabkan karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mengenal kinerja dan kemampuan Siti Nurbaya. Sewaktu menjabat sebagai Pangdam Sriwijaya SBY pernah menghadiri presentasi Siti Nurbaya selaku ketua Bappeda tentang konsep tata ruang Hankam Provinsi Lampung. Penunjukan ini dibuktikan oleh Siti Nurbaya dengan meraih penghargaan dari Menteri Keuangan atas Laporan Akutansi Standar Tertinggi (2008-2011) dan WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) Laporan Keuangan dari BPK-RI sejak penilaian awal sebagai Sekjen DPD-RI.

Bagi istri dari Rusli Rachman dan ibu dari Meitra Mivida NR serta Ananda Tohpati penghargaan tersebut merupakan beberapa dari sejumlah telah diterimanya sepanjang mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil. Penghargaan lain, di antaranya adalah: Satya Lencana Karya Satya XX Tahun dari Presiden RI (2000); Penerapan Informasi Teknologi dari ITB (2003); PNS Teladan Nasional dari Presiden RI (2004); prestasi kerja luar biasa dari Menteri Dalam Negeri RI (2004); Partisipasi Pejabat Eksekutif dalam Pers dari Dewan Pers Nasional (2004) Wibawa Seroja dari Lemhanas RI (2009); Pamong Award dari Alumi Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (2009); 99 Most Powerful Women dari Majalah Globe Asis (2008-2010); Perempuan Terinspiratif dari Majalah Kartini (2008-2010; Kerjasama instansi pemerintah dan pers dari Jurnal Nasional (2010); Satya Lencana Karya Satya XXX Tahun dari Presiden RI (2010); Satya Lencana Wira Karya dari Presiden RI (2010); Mitra Kerja Media dari SKH Jurnal Nasional (2010); Pemimpin Pancasila dari Yayasan Indonesia Satu (2011); dan Bintang Jasa Utama dari Presiden RI (2011) (sitinurbaya.com).

Selain berprestasi di lingkungan birokrasi, tahun 2007-2008 Siti Nurbaya juga terlibat dalam lembaga non-pemerintah yaitu sebagai ketua steereng committee Institut Reformasi Birokrasi IndoPos-JawaPos (IRB-IPJP). Gagasan pendirian lembaga yang hendak memperjuangkan reformasi birokrasi ini dilontarkan oleh Dahlan Iskan (pemilik Indopos-JawaPos Group) dalam ulasan kritisnya berjudul "Agar Birokrasi Tidak Seperti Ferrari di Atas, Bemo di Bawah". Siti bersama lima orang anggota IRB-IPJP dinilai sebagai tokoh yang ahli dan memiliki pengalaman konkrit dalam bidangnya masing-masing, termasuk pengalaman langsung sebagai birokrat yang mencapai karir tertinggi (sitinurbaya.com).

Keterlibatan lain terjadi setelah pensiun tahun 2013 dengan terjun ke dunia politik melalui partai Nasdem pimpinan Surya Paloh. Di partai ini Siti menjabat sebagai Ketua Bidang Otonomi Daerah DPP Partai Nasdem (Akuntono, 2014) lalu naik menjadi Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Nasdem (Aditya, 2014). Selanjutnya, dia mencalonkan diri menjadi anggota DPR-RI perwakilan Lampung dan terpilih. Namun, belum sempat bertugas di Senayan Presiden Joko Widodo memintanya menjadi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk periode 2014-2019 sebagai perwakilan Partai Nasdem di pemerintahan.

Foto: http://news.metrotvnews.com/politik/nN9oZ45k-siti-nurbaya-bakar-pns-teladan-jadi-menteri
Sumber:
"Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc.", diakses dari https://www.viva.co.id/siapa/read/134-siti-nurbaya-bakar, tanggal 12 Mei 2018.

Lestari, Reni. 2014. "Siti Nurbaya Bakar", diakses dari https://news.okezone.com/read/2014/ 12/02/17/1073512/siti-nurbaya-bakar, tanggal 12 Mei 2018.

"Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc", diakses dari http://sitinurbaya.com/tentang, tanggal 13 Mei 2018.

"Siti Nurbaya Bakar", diakses dari https://tirto.id/m/siti-nurbaya-bakar-mh, tanggal 13 Mei 2018.

Faturrohman, Muhamad Nurdin. 2014. "Profil Siti Nurbaya Bakar - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ke-1", diakses dari https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.co.id/2014/ 12/profil-siti-nurbaya-bakar-menteri-lingkungan-hidup-kehutanan-ke-1.html, tanggal 13 Mei 2018.

Aditya. 2014. "Profil & Biodata Siti Nurbaya Bakar: Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia 2014-2019 Kabinet Kerja Jokowi JK", diakses dari http://sidomi.com/ 335400/siti-nurbaya-bakar/, tanggal 14 Mei 2018.

Akuntono, Indra. 2014. "Ini Sosok Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya", diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2014/10/26/18281691/Ini.Sosok.Menteri.Ling kungan.Hidup.dan.Kehutanan.Siti.Nurbaya., tanggal 14 Mei 2018.

Rumah Pacenan

Pacenan adalah salah satu jenis rumah tradisional yang ada di kalangan masyarakat Pendhalungan-Jember, Jawa Timur. Rumah pacenan bentuknya segi empat. Bagian atapnya serupa dengan omah kampung (rumah orang Jawa). Rumah pacenan yang berdiri sendiri dan ada yang bergabung (sambung) dengan lainnya, sehingga memanjang. Rumah ini memiliki sesakhah 8 buah, dengan rincian 4 buah sesakhah utama dan 4 buah sesakhah pembantu. Sesakhah utama berfungsi sebagai penyangga atap yang membentuk segi tiga. Atap yang membentuk segi tiga oleh masyarakat setempat disebut “antong-antong”. Jadi, ada antong-antong bagian depan dan antong-antong bagian belakang. Sedangkan, sesakhah pembantu berfungsi sebagai penyangga amparan, yaitu bagian atap rumah yang salah satu ujungnya bersambung dengan salah satu ujung yang membentuk segi tiga. Sebagaimana antong-antong, amparan juga ada dua, yaitu di bagian depan dan belakang. Amparan, baik yang ada di bagian depan maupun belakang, ditopang oleh kayu yang panjang yang oleh masyarakat setempat disebut plesur.

Sesakhah, baik yang utama maupun pembantu, pada umumnya terbuat dari kayu sengon. Kayu yang menghubungkan antara sesakhah utama yang satu dengan lainnya disebut lambheng pandhek. Di atas lambheng pandhek ada kayu lagi (bertumpangan) yang berfungsi sebagai alas andher (kayu yang menghubungkan antara lambheng pandhek dan atap (siku-siku atap). Di bawah lambheng pandhek ada kayu yang juga menghubungkan antara sesakhah yang satu dengan lainnya. Kayu tersebut oleh masyarakat setempat disebut “senthuk pandhek”. Pososinya kurang lebih 50 centimeter dari lambheng pandhek. Fungsinya sebagai penguat sesakhah, sehingga dapat membentuk siku-siku (sesakhah dapat berdiri secara tegak lurus).

Selain lambheng pandhek, ada juga yang disebut sebagai “lambheng panjang”, yaitu kayu yang menghubungkan antara sesakhah yang satu dengan lainnya di bagian yang panjang. Oleh karena itu, disebut “lambheng panjang”. Di bawah lambheng panjang juga ada lambheng yang menghubungkan antara sesakhah yang satu dengan lainnya. Posisi dan fungsinya sama dengan yang ada di bawah lambheng pendek, yaitu sebagai penguat sesakhah. Di bagian tengah lambheng panjang diberi lambheng yang panjang dan besarnya sama dengan lambheng pandhek.

Di bagian tengah lambheng-lambheng pandhek diberi andher, yaitu kayu tegak lurus sebagai penopang bubung. Panjang bubung sama dengan panjang lambheng panjang. Di atas senthuk panjang diberi beberapa kayu atau papan, lalu di atasnya diberi anyaman bambu. Posisinya sejajar dengan kayu atau papan penyanggah (mendatar), sehingga menyerupai plapon.

Tempat yang menyerupai plapon itu ada yang digunakan untuk menyimpan peralatan dapur, seperti: dandang, baskom, tempat makanan kecil yang terbuat dari plastik, dan barang-barang rumah tangga lainnya yang sewaktu-waktu dapat diambil dan digunakannya.

Dinding ada yang terbuat dari bambu (anyaman bambu), ada yang terbuat dari papan (kayu), dan ada yang berupa tembok. Namun demikian, pada umumnya dinding terbuat dari bambu dan atau kayu.. Pada sisi kanan dan kiri rumah diberi jendela yang terbuat dari kayu; masing-masing dua duah; demikian juga di bagian depan rumah (dua buah).

Ketinggian rumah dari permukaan tanah bervariasi; ada yang 10-30 centimeter dan ada yang 50-80 centimeter. Hal itu bergantung pada tinggi-rendahnya permukaan tanah, sehingga derasnya air hujan yang membasahi pelataran tidak masuk ke dalam rumah. Lantai rumah pacenan ada yang berupa tanah liat, ada yang berupa semen, dan ada pula yang telah dikeramik. Namun demikian, pada umumnya lantai berupa tanah liat dan atau semen. Alasannya adalah faktor ekonomi. Dalam hal ini semen, apalagi tanah, biayanya relatif lebih murah ketimbang menggunakan keramik.

Pada bagian depan rumah diberi pembatas (semacam pagar) yang tingginya kurang lebih satu meter. Pagar tersebut berfungsi sebagai penghalang (penutup) agar ternak (ayam dan atau itik) tidak dapat leluasa masuk rumah. Selain itu, juga berfungsi agar tamu tidak secara utuh terlihat dari luar. Bagi yang mampu pagar tersebut terbuat dari kayu yang berukir. Pagar yang demikian oleh masyarakat setempat disebut tabing mantheh. Sedangkan, bagi yang kurang atau tidak mampu cukup hanya dengan bambu yang dianyam.

Ruang dan Tata Ruang Pacenan Beserta Fungsinya
Pada dasarnya rumah pacenan terdiri atas 3 ruangan, yakni ruang depan, tengah, dan belakang. Ruang depan berfungsi sebagai ruang tamu. Ruangan ini bagian depannya tidak berdinding, kecuali pada bagian samping kiri dan kanannya. Jadi, jika ada orang yang bertamu akan kelihatan dari luar, walaupun tidak seratus prosen karena masih dihalangi oleh tabing mantheh atau pagar yang terbuat dari anyaman bambu yang tingginya kurang lebih satu meter.

Oleh karena fungsi utama ruang depan adalah sebagai ruang tamu, di ruangan tersebut diberi perlengkapan (mebelair) yang berkenaan dengan tamu, seperti meja dan kursi. Bagi yang mampu, ruang tamu diisi dengan dua set meja kursi; satu set ada di sebelah kiri dan satu set lagi ada di sebelah kanan ruang tamu. Sementara, bagi yang kurang mampu cukup hanya satu set meja kursi yang diletakkan pada bagian kiri ruang tamu. Sedangkan, bagian kanan ruang tamu diisi dengan tempat tidur. Tempat tidur ini tidak hanya berfungsi tempat duduk para tamu, tetapi juga sebagai tempat tidur bagi anak lelaki yang sudah dewasa yang karena satu dan lain hal tidak tidur di surau.

Ruang tengah dipergunakan sebagai tempat istirahat (tidur) dan sholat (melakukan ibadat), Ruangan ini pada umumnya dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kanan, kiri, dan tengah. Bagian kanan dan kiri berupa kamar tidur, sedang bagian tengah dibiarkan kosong karena berfungsi sebagai penghubung antara ruang depan dan ruang belakang. Pemilik rumah dan anak-anak balita, baik laki-laki maupun perempuan menempati salah satu kamar tidur yang ada. Sedangkan, kamar tidur lainnya diperuntukkan bagi anak-anak perempuan yang sudah menginjak dewasa. Sementara, anak laki-laki yang sudah remaja tidur di ruang tamu atau di langgar (surau).

Ruang belakang berfungsi sebagai dapur dan sekaligus ruang makan. Dalam memasak, mereka masih menggunakan “tungku” yang terbuat dari batu bata dan semen yang diaduk dengan pasir. Batu bata tersebut disusun sedemikian rupa, kemudian diberi adukan semen dan pasir, sehingga membentuk segi empat. Ketinggian tungku yang berbentuk segi empat itu kurang lebih 30 centimenter dari permukaan tanah, dengan panjang sekitar 80 centimter dan lebar sekitar 60 centimeter. Bagian depan diberi lubang dalam bentuk segi empat dengan ketinggian kurang lebih 20 centimeter. Posisi lubang tersebut berada di tengah-tengah. Kemudian, bagian atas tungku diberi lubang dua buah dengan ukuran lebih kecil ketimbang lubang yang ada di bagian depan. Fungsi lubang bagian depan sebagai untuk memasukkan kayu bakar. Sedangkan, kedua lubang yang berada di bagian atas tungku berfungsi sebagai tempat untuk menaruh peralatan menanak nasi, nggodok (mendidihkan air), dan menggoreng, seperti: dandang, kwali, teko, dan wajan.

Sumber:
Galba, Sindu. 2012. Arsitektur Tradisional Masyarakat Pendhalungan Provinsi Jawa Timur. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.

Popular Posts